Masriyah Amva, puisi cinta sang nyai untuk Tuhan

Media playback tidak ada di perangkat Anda
Masriyah Amva adalah seorang ulama perempuan yang memimpin Pesantren Kebon Jambu, Cirebon.

Nyai Hj. Masriyah Amva menjalani sepuluh terakhir hidupnya memimpin Pesantren Kebon Jambu al-Islamy di Babakan Ciwaringin, Cirebon, menggantikan suaminya, KH Muhammad, yang meninggal dunia pada 2007 lalu. Dia mengajarkan kesetaraan gender dan pluralisme di lingkungan pesantren, tetapi perjalanannya sebagai ulama perempuan tidaklah mudah.

Sejak kecil Masriyah hidup di lingkungan pesantren yang dipimpin ayahnya, KH Amrin Hanan, dan Hj.Fariatul 'Aini. Ayahnya mengajarkan anak-anak perempuannya untuk menempuh pendidikan yang sama dengan laki-laki.

"Ketika itu orang tua saya punya anak perempuan terus, walaupun kemudian ada adik saya laki-laki, lalu akhirnya mereka bertekad agar anak-anak perempuannya mendapatkan pendidikan yang sama," kata Masriyah.

Dia sempat belajar di Pesantren Al-Muayyad Solo, Pesantren Al-Badi'iyyah Pati, Jawa Tengah, dan Pesantren Dar al-Lughah wa Da'wah di Bangil, Jawa Timur. Ketika belajar di Bangil, dia menikah dengan suami pertamanya, KH Syakur Yasin, dan menetap di Tunisia selama empat tahun.

Setelah delapan tahun mereka bercerai dan beberapa tahun kemudian Masriyah menikah dengan KH Muhammad, pengasuh Pesantren Kebon Melati. Mereka berdua mendirikan Pesantren Kebon Jambu, dan ketika itu Masriyah mengelola pesantren putri.

Hak atas foto BBC Indonesia
Image caption Masriyah mengajarkan kesetaraan gender dan pluralisme sekaligus mempraktikkannya.

Memimpin pesantren

Pesantren Kebon Jambu mengalami 'pukulan' setelah suaminya meninggal. Saat itu, para santri, yang dititipkan orangtua mereka karena melihat sosok kharismatik Kiai Muhammad, mulai meninggalkan pesantren yang kehilangan kiainya.

"Ketika suami saya meninggal ini menjadi pukulan yang sangat berat bagi saya dan keluarga, apalagi ini merupakan pesantren tradisional yang sangat patriarki, yang tidak menerima kepemimpinan perempuan, ketika mereka pergi saya seperti dipukuli, rasanya gelap sekali. Ya Allah bagaimana ini mereka satu-satu mulai meninggalkan saya," ungkap Masriyah.

Tak mudah bagi Masriyah untuk mencari pengganti suaminya. Di tengah 'kegalauannya' Masriyah pun memasrahkan diri pada Tuhan, melalui tulisan.

"Akhirnya saya merenung dan saya mendapatkan inspirasi dari renungan saya, saya menulia Surat Cinta pada Tuhan," kata Masriyah.

Hari ini kuangkat Engkau, ya Tuhan, sebagai kekasih

Hari ini kuangkat Engkau sebagai pendamping

Dan aku berani membuktikan bahwa Engkau lebih baik dari pada sebelumnya

Dan aku berani membuktikan bahwa aku akan lebih baik dari pada sebelumnya

Saya yakin dengan didampingi Engkau, saya akan lebih hebat lagi.

Hasil perenungan itu memperkuat tekad Masriyah untuk mengasuh pesantren mengantikan suaminya, terlebih lagi sulit untuk mencari sosok lain untuk memimpin pesantren dalam waktu singkat.

"Saya tidak mungkin menyampaikan bahwa saya akan memimpin pesantren, tetapi saya katakan yang mimpin pesantren ini pengganti akang (panggilan untuk suami), yaitu Allah SWT yang langsung akan memimpin pesantren dan akan membuat kita menjadi lebih hebat, dan saat itu tak ada lagi yang permisi pulang," kata Masriyah.

Saat itu tantangan terberat, menurut Masriyah berasal dari para alumni dan pengurus yang menolak kepemimpinan perempuan.

"Banyak yang mengatakan juga bahwa pesantren ini akan bangkrut, karena sudah tidak ada kiainya, kalau ada yang mengatakan itu saya langsung menjerit dalam hati," ungkap Masriyah.

Hak atas foto BBC INDONESIA

Diskriminasi dari ulama

Pesantren Kebon Jambu pun berkembang pesat dan jumlah santri meningkat, dari 350 orang hingga saat ini mencapai 1.400 orang laki-laki dan perempuan.

Meski begitu, Masriyah kadang masih menerima diskriminasi dari sejumlah kalangan, termasuk ulama. Ketika itu, seorang kiai datang ke pesantrennya untuk menghadiri sebuah pertemuan.

"Tahu tidak, kamu itu tidak ada apa-apanya nol besar, pesantren ini menjadi lebih maju karena menantu dan anak kamu pintar, mereka laki-laki kan. Terus saya, karena kaget, saya bilang 'Iya saya itu nol besar, tetapi saya tak ingin nol saya sambil guyonan (bergurau)'. Kemudian saya masuk ke kamar dan menangis," kata Masriyah.

Masriyah kemudian 'lari' kepada Tuhan, dan menulis Curahan hati untuk Tuhan

Tuhan, aku tak takut kemiskinan karena Engkau sang maha kaya

Aku tak takut kegelapan karena Engkau sang cahaya

Aku tak takut kebangkrutan karena Engkau sang maha jaya

Aku hanya takut Engkau meninggalkan diriku.

Puisi bagi Masriyah tak hanya merupakan pelarian ketika dilanda gelisah, tetapi juga salah satu cara yang bisa mendekatkan diri kepada Tuhan. Di tengah kesibukannya, dia menyempatkan diri untuk menulis 'curahan hati' kepada Tuhan, dab beberapa sudah diterbitkan dalam bentuk buku.

Hak atas foto BBC INDONESIA
Image caption Masriyah bersama dengan KH Husein Muhammad ( tengah) dan Menteri Agama Lukman Hakim Saifudin.

Kesetaraan gender dan pluralisme

Ketika kami berkunjung ke pesantren pada Senin (24/4) Masriyah tampak mengajarkan kemandirian pada para santri perempuan, dan meyakinkan mereka untuk meraih cita-cita mereka tanpa bergantung pada laki-laki.

Setelah memberi nasihat pada para santri putri, dia bergegas menuju rumahnya yang terletak di kompleks pesantren. Di sana, dia telah ditunggu sejumlah tamu, termasuk panitia Kongres Ulama Perempuan Indonesia yang digelar pada 25-26 April di Pesantren Kebon Jambu.

Tak hanya menjelang kongres ulama perempuan, setiap hari Masriyah membuka pintu pesantren untuk berbagai kalangan, tidak membatasi etnis dan juga agama. Di sebuah pendopo di teras rumahnya, tampak foto dirinya bersama dengan tokoh-tokoh dari berbagai agama dan negara.

Sikap itu, dilakukan untuk mengajarkan toleransi pada para santrinya.

"Saya katakan berapa ratus orang datang ke sini dengan agama dan pandangan yang berbeda, adakah mereka merusak kita? Tidak ada, kita masih seperti dulu, akhirnya mereka mengerti bahwa menghormati itu tidak mengancam agama mereka, tidak mengancam kehidupan mereka, bahkan memperindah, dan tidak mengancam iman mereka sedikitpun, bahkan mempertebal iman mereka," kata Masriyah.

Hak atas foto BBC Indonesia
Image caption Masriyah mengatakan pesantrennya terbuka untuk menerima tamu dari berbagai kalangan, tidak membatasi etnis dan juga agama.

Di lingkungan pesantren tradisional ini, dia juga mengajarkan kesetaraan gender sekaligus mempraktikkannya.

"Saya selalu menjelaskan bahwa agama tidak melarang kesetaraan gender, karena sesungguhnya menjadikan agama kita menjadi lebih hidup, lebih maju, agar setara dengan lelaki, kalau laki-laki bersandar pada Allah kepada Tuhan, lalu perempuan bersandar pada laki-laki itu jelas tidak sama. Maka jelas perempuan yang seperti itu akan lemah, perempuan harus mempunyai sandaran yang sama agar setara dengan laki-laki, yaitu pada Tuhan," kata Masriyah.

Dia juga menolak anggapan kalangan yang menyebutkan kesetaraan gender tidak sesuai dengan ajaran Islam.

"Kesetaraan gender itu bukan untuk merusak agama, bukan untuk merusak ajaran-ajaran, tapi untuk menguatkan agama kita," tegas Masriyah.

Hak atas foto BBC Indonesia
Image caption Kongres Ulama Perempuan Indonesia diikuti oleh ratusan ulama, akademisi dan aktivis perempuan dari berbagai daerah dan negara digelar antara lain di pesantren yang dikelola Masriyah.

Upayanya untuk mengajarkan kesetaraan gender dan pluralisme di lingkungan pesantren dan masyarakat sekitarnya, membuat dia diberi penghargaan antara lain Albiruni Award sebagai tokoh yang sukses mengembangkan dakwah melalui seni dan budaya (2012), serta SK Trimurti Award sebagai tokoh gender dan pluralis (2014).

Meski di Indonesia, banyak sosok ulama perempuan yang mumpuni, tetapi Masriyah mengatakan masih banyak kalangan yang menganggap perempuan tidak bisa menjadi ulama.

Padahal ulama perempuan memiliki peran strategis untuk menyelesaikan masalah-masalah di masyarakat, terutama yang dihadapi perempuan. "Di sini saya sering kali menerima keluhan dari para istri yang diperlakukan tidak adil oleh suami, ada yang mengalami KDRT," kata dia.

Untuk itu dia merasa berkewajiban untuk terus menyebarluaskan pentingnya pemahaman kesetaraan gender di lingkungan pesantren dan masyarakat sekitar, agar perempuan diperlakukan adil.

Dia berharap berbagai kalangan merasa 'terancam' dengan gerakan kesetaraan ini. "Kesetaraan gender itu tidak akan mengotori agama kita, bahkan akan memberikan cahaya pada agama kita, membuat kita lebih maju, saya selalu katakan kesetaraan gender tidak akan membantai laki-laki, akan kita junjung, akan kita muliakan, jangan takut dengan gerakan ini karena akan membuat laki-laki menjadi lebih hebat," kata Masriyah.

Topik terkait

Berita terkait