Aksi bakar karangan bunga untuk Ahok warnai peringatan May Day

buruh Hak atas foto BBC Indonesia
Image caption Aksi pembakaran karangan bunga untuk Ahok di kawasan Balai Kota dekat Monas.

Aksi peringatan Hari Buruh Internasional atau lazim disebut May Day di Jakarta diwarnai insiden pembakaran karangan bunga untuk Gubernur DKI Jakarta Basuki Tjahaya Purnama alias Ahok.

Sebagian buruh dari sebuah organisasi membakari karangan-karangan bunga untuk Ahok yang terpasang di jalanan sekitar Balai Kota. Mereka mengangkuti sejumlah karangan bunga, menumpuknya, dan membakarnya.

Mereka beralasan puluhan karangan bunga di sekitar kawasan Monas telah mengotori Ibu Kota. Aksi tersebut kemudian dihentikan pihak kepolisian dan Satpol PP.

Hak atas foto BBC Indonesia
Image caption Para buruh tidak dapat meneruskan pawai hingga ke Istana Merdeka lantaran tertahan barikade.

Lepas dari insiden itu, aksi May Day berlangsung damai. Belasan ribu buruh dari berbagai wilayah Jakarta, Banten, dan Jawa Barat, tumpah ruah di pusat kota Jakarta merayakan Hari Buruh Internasional yang dijadikan hari libur sejak masa kepresidenan Gus Dur atau Abdurachman Wahid.

Sebagaimana dilaporkan wartawan BBC Indonesia, Ging Ginanjar, berbagai atribut, bendera, spanduk, poster dikibarkan dan dibentangkan. Para pemimpin buruh dan orator berpidato di mobil-mobil mimbar, dan para buruh menyambut dengan yel-yel perjuangan.

Hak atas foto BBC Indonesia
Image caption Salah satu poster yang diusung para buruh.

Ratusan tuntutan tercantum dalam poster-poster, namun umumnya meliputi seruan HOSJATUM, akronim untuk hapus outsourcing(alih daya), pemberian jaminan sosial, dan tolak upah murah.

Dalam keterangannya, Ketua Konfederasi Serikat Pekerja Indonesia (KSPI), Said Iqbal, mengklaim sistem alih daya marak kembali dalam dua tahun terakhir di bawah pemerintahan Presiden Joko Widodo dan Jusuf Kalla.

Soal upah, Said Iqbal menuntut penghapusan sistem upah yang regulasinya tertuang dalam PP No. 78 tahun 2015. Menurutnya upah para buruh di Indonesia masih sangat rendah dibandingkan upah beberapa negara di ASEAN, seperti Vietnam dan Malaysia.

Hak atas foto BBC Indonesia
Image caption Tuntutan para buruh dibuat menjadi akronim HOSJATUM, yaitu hapus outsourcing (alih daya), pemberian jaminan sosial, dan tolak upah murah.
Hak atas foto BBC Indonesia
Image caption Kalangan petani pun turut ambil bagian dalam aksi memperingati May Day.

Pekerja industri kreatif

Berbeda dengan perayaan-perayaan May Day sebelumnya, kali ini para buruh tertahan di sekitar bundaran Patung Arjuna Wijaya yang terkenal dengan wujud kereta kuda. Mereka tak bisa bergerak lebih jauh karena petugas keamanan memasang barikade di Jalan Medan Merdeka Selatan ke arah Istana Merdeka.

"Katanya Jokowi presiden proburuh, tapi kok tak mau menemui kita, kaum buruh," kata seorang orator, disambut yel-yel buruh.

Hak atas foto BBC Indonesia
Image caption Buruh perempuan juga menuntut pemberian hak-hak, seperti cuti hamil 12 bulan dan cuti haid.

Di antara belasan organisasi buruh yang secara rutin terlibat di May Day, terdapat lembaga yang baru pertama kali mengikuti aksi, yaitu Sindikasi. Sindikasi adalah wadah para pekerja media dan sektor industri kreatif yang baru dibentuk beberapa tahun ini.

"Kami perlu turun ke May Day, pertama karena bentuk solidaritas kami, pekerja media dan industri kreatif, bahwa kami juga adalah buruh. Kedua, kami juga dari kelas pekerja yang masih ada dalam sistem ekonomi yang tidak pro-pekerja," kata Ellena Ekarahendy, koordinator Sindikasi.

Ellena menambahkan, begitu banyak masalah yang menjerat para pekerja sektor ini, khususnya keselamatan kerja.

"Baik buruh media dan industri kreatif sama-sama ingin mendorong suara pekerja lewat serikat. Mereka bisa dilibatkan tiap kali ada kebijakan industri, karena selama ini cuma menguntungkan pemilik modal dan elite politik, tapi pekerjanya digaji di bawah UMR. Sering kerja lembur tak dibayar, dan banyak lagi," katanya.

Hak atas foto BBC Indonesia
Image caption Sejumlah pemuda turut menolak sistem magang yang diberlakukan perusahaan-perusahaan.

Dalam aksi ini, Sindikasi bergabung bersama Aliansi Jurnalis Independen (AJI) Indonesia, AJI Jakarta, LBH Pers, dan Federasi Serikat Kerja Media.

Hingga lewat tengah hari, di bawah terik matahari, buruh terus berdatangan. Mereka membuat mimbar-mimbar bebas, sesuai kelompok serikat atau organisasi buruh masing-masing.

Topik terkait

Berita terkait