Toleransi siswa Indonesia terpengaruh Pilkada Jakarta?

Pilkada Jakarta Hak atas foto Reuters
Image caption Sejumlah kalangan mengatakan isu SARA sangat terasa dalam penyelenggaraan Pilkada Jakarta.

Intensitas persaingan di Pilkada Jakarta dikatakan 'berpengaruh terhadap tingkat toleransi murid sekolah'.

Pegiat sekolah guru kebinekaan, Henny Supolo Sitepu, mengatakan pilkada 'yang menggunakan isu agama sebagai alat pemenangan telah merasuk ke pikiran murid dan menjadi contoh buruk bagi kemampuan untuk menerima perbedaan'.

Pilkada Jakarta berdasarkan hitung cepat dimenangkan oleh pasangan Anies Baswedan-Sandiaga Uno, yang mengalahkan gubernur petahana, Basuki Tjahaja Purnama.

Ketua tim pemenangan Anies-Sandi, Mardani Ali Sera, mengakui ada elemen pendukung yang menggunakan sentimen agama, namun menurutnya mereka di luar kontrol tim Anies-Sandi. Ditambahkan pula bahwa faktor agama yang mengemuka selama Pilkada Jakarta tak lepas dari konteks politik nasional yang lebih luas di Indonesia.

Kekhawatiran tentang intoleransi di dunia pendidikan disampaikan Henny Supolo di tengah peringatan Hari Pendidikan di Indonesia yang jatuh pada 2 Mei.

"Imbas dari Pilkada Jakarta yang menggunakan agama sebagai alat pemenangan telah menjadi contoh buruk bagi anak-anak dalam menerima perbedaan dan tak baik bagi kebinekaan bangsa di masa depan," kata Henny.

"Selama Pilkada, kita bisa melihat dengan kasat mata spanduk-spanduk berisi kebencian dan ancaman di ruang-ruang publik, di depan masjid dan di depan sekolah ... belum lagi soal kebencian di media sosial dan bertebarnya hoax (berita palsu), ini semua bisa mempengaruhi pikiran anak dan mengganggu kemerdekaan berpikir mereka," katanya.

Henny juga mengatakan prihatin dengan temuan survei oleh Kementerian Pendidikan di Salatiga, Jawa Tengah, dan Singkawang, Kalimantan Barat, belum lama ini yang antara lain menanyakan kepada siswa sikap tentang ketua OSIS, apakah seharusnya seagama.

Hak atas foto AFP
Image caption Hitung cepat memperlihatkan Pilkada Jakarta dimenangkan oleh Anies Baswedan yang berpasangan dengan Sandiaga Uno, mengalahkan pasangan petahana, Ahok-Djarot.

Sebagian besar mengatakan sangat tidak setuju dan tidak setuju, namun sekitar 10 persen setuju dengan pendapat tersebut.

Ia juga memberi contoh beberapa orang tua yang ditanya oleh anak tentang pemimpin kafir dan 'pernyataan kebencian serta ancaman yang diarahkan kepada orang-orang kafir ini'

"Ketakutannya seperti suasana tahun 1998. Ada kebencian yang terus-menerus diulang, sehingga membuat seseorang kehilangan akal sehat," kata Henny.

'Narasi perdamaian'

Henny mengatakan bagi yang menginginkan kebhinekaan, perkembangan ini 'sangat mengerikan' tanpa juga menjadi peringatan.

"Orang harus bersuara sehingga narasa kebencian bisa diubah dengan narasi perdamaian, yang mengedepankan kebinekaan," ujar Henny.

Ketua tim pemenangan Anies Baswedan, Mardani Ali Sera, mengatakan Pilkada Jakarta mestinya diperlakukan sebagai perhelatan politik dengan fokus pada adu gagasan dan adu program. Berbagai program inilah yang digarap tim kampanye Anies-Sandi.

Soal isu SARA dalam kampanye, Mardani mengatakan satu survei memperlihatkan 56% responden mengatakan ada isu SARA, sementara satu exit poll mengatakan hanya 9% yang mengaku adanya faktor agama dalam Pilkada.

"Jadi, mungkin ada (sentimen agama). Tapi itu di luar strategi dan kami tak bisa menghentikan elemen-elemen (pendukung) yang menggunakan sentimen agama. Itu di luar kontrol kami," kata Mardani.

"Dan menurut saya, ini semua tak bisa dilepaskan dari kasus-kasus kriminalisasi terhadap ulama dan beberapa kebijakan yang dinilai tidak ramah terhadap Muslim dan Islam."

Ketua Persatuan Guru Republik Indonesia, Unifah Rosyidi, mengatakan bahwa pandangan murid sedikit banyak juga terpengaruh dengan apa yang terjadi di luar ruang kelas, seperti perhelatan pemilihan kepada daerah.

"Dalam konteks ini, guru berperan penting untuk mendorong penghormatan kepada pihak-pihak lain ... saya selalu meminta kepada para guru, misalnya ketika berdoa memberi kesempatan kepada (pemeluk agama) yang lain," kata Unifah.

Ia mengatakan harus didorong terus upaya-upaya untuk menumbuhkan sikap toleransi dan penghormatan terhadap keberagaman, baik di keluarga maupun di jalur resmi seperti konten pelajaran.

"Di dalam kelas, saya mendorong para guru ketika memberi salam misalnya, juga menyertakan selamat pagi dan selamat siang. Ini perlu untuk menumbuhkan rasa toleran kepada pemeluk agama lain," kata Unifah.

Intinya, semua murid dari berbagai latar belakang agama merasa nyaman di sekolah.

Topik terkait

Berita terkait