Empat siswa SD di Malang yang disetrum kepsek untuk 'terapi'

SD Malang Hak atas foto EKO WIDIANTO

Polisi melakukan penyelidikan atas dugaan penyetruman terhadap empat siswa sekolah dasar oleh kepala sekolah, kendati orang tua siswa dan sekolah menyebut persoalannya sudah 'diselesaikan secara kekeluargaan'.

Tjipto Yhuwono, Kepala SDN 3 Lowokwaru, Kota Malang, dilaporkan berdalih bahwa tindakannya merupakan semacam terapi bagi para siswa yang ditudingnya sering berbuat gaduh.

Pihak sekolah tak bersedia memberikan keterangan. Petugas satpam juga tak mengizinkan jurnalis masuk sekolah dan meminta untuk menghubungi Dinas Pendidikan.

Para orang tua dari empat siswa kelas enam yang menjadi korban juga menolak untuk menjelaskan lebih jauh kepada wartawan menyusul kehebohan meluas setelah kasus ini dibicarakan di berbagai media.

"Terimakasih atas dukungan teman-teman media. Semua sudah selesai, sudah berdamai," ujar AN, ibu dari RA salah seorang siswa yang menjadi korban, kepada Eko Widianto, wartawan setempat yang melaporkan untuk BBC Indonesia.

"Perkara telah selesai dan tak diperpanjang. Kami sekarang fokus menangani anak kami yang mengalami trauma setelah kejadian itu," tambahnya dan menolak menjelaskan trauma yang dialami anaknya.

Demi 'keseimbangan otak kiri-kanan'

Wakil Ketua DPRD Kota Malang, Rahayu Sugiarti, yang menemui para siswa, guru dan kepala sekolah, menyebut keempat siswa mengalami antara lain pusing dan mimisan dengan keluarnya darah dari hidung.

Peristiwanya terjadi Selasa (25/04) pekan lalu.

Menurut Rahayu Sugiarti -yang datang ke sekolah bersama sejumlah anggota DPRD lain- peristiwa itu terjadi usai para siswa melaksanakan salat duha di musalah sekolah.

Hak atas foto EKO WIDIANTO

Kepala Sekolah, katanya, memanggil keempat siswa yang dinilai sering berbuat gaduh dan diminta duduk bersila serta melakukan meditasi selama 10 menit.

"Para siswa lalu diminta bergantian berdiri di atas papan yang telah dialiri listrik. Kepala sekolah menempelkan tespen ke dahi siswa untuk mengetes aliran listrik di tubuh siswa," katanya.

Kepala sekolah beralasan hukuman itu merupakan 'terapi listrik yang dilakukan untuk keseimbangan otak kiri dan otak kanan'.

"Agar mereka tak sering menganggu dan berbuat ribut di kelas," papar Rahayu. "Tapi itu salah besar. Tak boleh ada kekerasan dalam mendidik. Jika dilakukan terapi, harus dilakukan oleh ahlinya."

Damai tapi pemeriksaan berlanjut

Sementara itu, Kepala Satuan Reserse Kriminal Polres Malang Kota, Ajun Komisaris Heru Dwi Purnomo menjelaskan salah seorang wali murid mengadu ke unit Perlindungan Perempuan dan Anak (PPA) setelah aksi penyetruman.

"Untuk proses penyelidikan polisi akan meminta keterangan para pihak, seperti saksi, korban, dan pihak sekolah. Penyidik juga tengah menyita barang bukti berupa alat yang digunakan menyetrum," katanya.

Sementara para orang tua korban juga sudah dihubungi petugas Dinas Pendidikan 'untuk menyelesaikan masalah kekeluargaan atau jalan damai' namun -tegas Heru Dwi Purnomo- polisi tetap melanjutkan penyelidikan terlepas bahwa masih belum disimpulkan adanya unsur tindak pidana.

Kepala Dinas Pendidikan, Zubaidah, menjelaskan kepala sekolah pelaku penyetruman akan mendapatkan sanksi sesuai tingkat kesalahannya.

Usai kasus penyetruman, suasana sekolah sendiri pada Rabu (03/05) siang tampak berjalan normal dengan sebagian siswa asyik bermain sepak bola di lapangan depan sekolah.

Saat jam bubaran tiba, para siswa berlarian sementara para orang tua menunggu di luar sekolah untuk menjemput para siswa yang masih kecil.

Berita terkait