Aksi 505: Akankah massa GNPF MUI tetap bergerak ke MA

AKsi 505 Hak atas foto BBC Indonesia
Image caption Sejak beberapa waktu terakhir MAsjid Istiqlaal sering dijadikan tempat pengumpulan massa pengunjuk rasa terkait kasus Ahok.

Kendati dianggap tak perlu oleh berbagai organisasi utama Islam, GNPF MUI tetap menggelar aksi yang dimulai dengan salat Jumat di Istiqlal, dengan rencana berjalan kaki ke Gedung Mahkamah Agung.

Dilaporkan wartawan BBC Indonesia, Oki Budhi, massa sudah mulai berdatangan ke Masjid Istiqlal.

Dalam aksi 505 ini, usai salat Jumat, massa direncanakan berjalan kaki menuju Gedung Mahkamah Agung terkait persidangan kasus dugaan penistaan agama dengan terdakwa Gubernur DKI Jakarta, Basuki Tjahaja Purnama alias Ahok, yang Selasa (9/5) akan memasuki tahap akhir: putusan.

Petugas telah menutup akses sejumlah jalan, seperti Jalan Medan Merdeka Timur dan sekitar kawasan Istana Kepresidenan.

Sebelumnya disebutkan, para pimpjnan aksi memutuskan untuk tetap memusatkan aksi di Istiqlal, dan yang bergerak ke Mahkamah Agung hanya para delegasi, untuk berbicara dengan perwakilan MA. Namun sebagian massa tampak tetap bersiap untuk melangsungkan aksi jalan kaki usai salat Jumat.

Hak atas foto BBC Indonesia
Image caption Petugas memasang barikade kawat berduri dari jarak sekitar 100 meter sebelum Gedung MA.
Hak atas foto BBC Indonesia
Image caption Polisi juga menyiagakan enam kendaraan taktis meriam air. Puluhan petugas dengan pelontar gas air mata juga berjaga di belakang kawat berduri.

Sekitar 15.000 petugas keamanan, terdiri dari kepolisian yang dibantu TNI, berjaga di berbagai sudut, khususnya di sekitar Gedung Mahkamah Agung dan jalur dari Istiqlal.

Petugas memasang barikade kawat berduri dari jarak sekitar 100 meter sebelum Gedung MA. Polisi juga menyiagakan enam kendaraan taktis meriam air. Puluhan petugas dengan pelontar gas air mata juga sudah mulai berjaga di belakang kawat berduri.

Masjid terbesar di Asia Tenggara ini, sering menjadi pusat awal berkumpulnya massa pengunjuk rasa, sejak maraknya penentangan terhadap Basuki Tjahaja Purnama alias Ahok, gubernur Jakarta yang akan mengakhiri jabatannya Oktober mendatang.

Di masjid ini pula, jelang Pilkada lalu berlangsung shalat Subuh bersama dari sejumlah tokoh Islam garis keras penentang Ahok, yang dihadiri oleh, seluruh calon gubernur dan wakil gubernur selain pasangan Ahok-Djarot. Sesudah Ahok dipastikan kalah Pilkada, di masjid ini juga berlangsung sujud syukur yang dipimpin tokoh FPI Rizieq Shihab, yang dihadiri pasangan pemenang Pilkada, Anies Baswedan - Sandiaga Uno.

Hak atas foto BBC Indonesia
Image caption Sebagian massa melakukan salat Jumat di jalanan.
Hak atas foto BBC Indonesia
Image caption Sebagian besar organisasi Islam menganaggap aksi ini tak perlu, namun sebagian tetap melakukannya.

Sebagian massa peserta aksi 505 datang ke Masjid Istiqlal dengan berjalan kaki dari arah Stasiun Gambir. Beberapa membawa bendera bertuliskan huruf arab, tapi belum terdengar yel-yel atau orasi.

Aksi 505 juga diikuti sejumlah ormas seperti Forum Komunikasi Betawi dan Jawara Betawi. Agam, anggota Jawara Betawi berkata ikut aksi untuk menuntut Gubernur DKI Basuki Thahaja Purnama (Ahok) dihukum maksimal, 5 tahun.

"Tuntutan jaksa, satu tahun penjara itu 'cemen,' kami aksi agar hakim bisa menjatuhkan vonis 5 tahun. Saya ikut aksi ini bukan karena kepentingan politik, tapi karena bela agama".

Agam menambahkan proses hukum Ahok tidak akan terganggu karena aksi massa, karena massa juga punya hak menyampaikan tuntutannya dengan berunjuk rasa.

"Unjuk rasa ini justru harusnya membuat hakim lebih bersikap adil dalam menentukan vonis, bukan tertekan oleh massa" kata Agam.

Hak atas foto BBC Indonesia
Image caption Agam, dari 'Jawara Betawi,' mengaku datang bukan untuk urusan politik.

Sebelumnya, Wakil Ketua GNPF-MUI, Zaitun Rasmin, mengaku aksi mereka bukan untuk menekan para hakim dalam menjatuhkan vonis untuk Ahok, yang dituntut hukuman satu tahun penjara dengan masa percobaan dua tahun.

"Umat tidak mau ribut-ribut dan ingin aksi di Masjid Istiqlal untuk munajat untuk berdoa, dan akan kirim utusan ke Mahkaman Agung untuk mendukung indepedensi hakim-hakim yang mulia itu."

"Kami tak ingin menekan, kita serahkan sepenuhnya pada hakim, kami tidak menuntut hukuman apapun," jelasnya kepada Sri Lestari BBC Indonesia.

Hak atas foto BBC Indonesia
Image caption Banyak yang datang ke Istiqlal dengan berjalan kaki.

Sejak akhir tahun lalu GNPF-MUI melakukan rangkaian aksi untuk menuntut agar aparat hukum mengadili Ahok dalam kasus dugaan penistaan agama terkait penyebutan surat Al-Maidah 51 dalam pidato di Kepulauan Seribu.

Dalam pidato itu Ahok dianggap menghina surat Al-Maidah dan menyusul demonstrasi yang diikuti ratusan ribu umat Islam pada Desember lalu, Ahok kemudian diadili.

Berita terkait