Empat WNI akan dideportasi dari Amerika Serikat

Imigran Guatemala Hak atas foto John Moore/Getty Images
Image caption Pengungsi Guatemala yang dideportasi dari AS tiba menggunakan pesawat ICE pada Februari 2017 lalu.

Agen Imigrasi dan Penegakan Bea Cukai Amerika Serikat, ICE, dilaporkan menahan empat orang WNI yang sudah tinggal 20 tahun lebih di New Jersey.

Empat orang tersebut adalah penganut Kristen dan merupakan bagian dari sekitar 80 WNI Kristen yang tinggal di New Jersey.

Arino Massie, Saul Timisela, Rovani Wangko, dan Oldy Manopo ditahan setelah menghadiri pertemuan tahunan yang disebut 'check-in' di New York.

Pada masa pemerintahan Presiden Obama pertemuan ini adalah sesuatu yang rutin namun di bawah pemerintahan Presiden Donald Trump, pertemuan tersebut penuh dengan ketidakpastian.

Situs WNYC melaporkan bahwa mereka diperintahkan untuk datang lagi sambil membawa paspor.

Jika sebelumnya mereka dilepas dan dipersilakan untuk melakukan 'check-in' lagi pada tahun berikutnya, kali ini mereka langsung ditahan dan dibawa ke fasilitas penahanan di Elizabeth, New Jersey.

Keterangan ini disampaikan oleh pendeta Seth Kaper-Dale dari Reformed Church of Highland Park, yang menampung para WNI tersebut.

Direktur Perlindungan WNI Kementerian Luar Negeri, Lalu Muhammad Iqbal, mengatakan KJRI di New York sudah mendapatkan akses kekonsuleran terhadap empat orang WNI yang berada dalam keadaan baik dan sedang menunggu proses pemulangan.

"KJRI terus memantau perkembangannya. Deportasi ini tidak terkait dengan kebijaksanaan Presiden Trump," kata Lalu lewat pesan pendek kepada wartawan.

"Prinsipnya kita menghormati hukum setempat. Ada pelanggaran keimigrasian dan paspor mereka sudah tidak berlaku sejak beberapa tahun lalu."

Terancam 'kerusuhan agama'

Keempat WNI tersebut -yang mengaku menyelamatkan diri dari kebencian agama di Indonesia- masuk menggunakan visa turis pada 1990-an namun tetap tinggal di Amerika Serikat meski masa berlaku visa mereka sudah habis.

Kepada New York Times tahun 2012 lalu, Timisela mengatakan bahwa perusuh anti-Kristen di Indonesia telah memenggal kepala kerabatnya, seorang pendeta, dan membakar gerejanya.

Setelah 11 September 2001, Amerika Serikat mewajibkan semua pria pemegang visa sementara dari negara-negara mayoritas Islam untuk mendaftar dengan pemerintah federal. Meski bukan Muslim, empat pria ini tetap harus mengikuti aturan tersebut.

Sempat sempat mengajukan suaka namun permohonan mereka ditolak dan tetap tinggal di New Jersey tanpa status permanen sambil bekerja kasar di gudang dan pabrik.

Pemerintah Amerika Serikat pernah melakukan penggerebekan atas pendatang gelap pada tahun 2006 yang ikut menyoroti keberadaan WNI Kristen asal Indonesia, yang sebagian sudah dideportasi, sementara lainnya ditahan.

Namun pada 2009, pendeta Kaper-Dale membantu mencapai kesepakatan dengan pemerintahan Obama yang memungkinkan puluhan orang untuk tetap tinggal di AS dalam masa percobaan sampai 2012 dengan sebagian dari mereka tetap dideportasi.

Pada 2013, petugas federal membolehkan WNI ini tinggal asal tidak terlibat tindakan kriminal namun bertemu tiap tahun dengan agen ICE.

Topik terkait