Kekuatan menakjubkan dari gunung berapi

Gunung api Hak atas foto Arctic-Images

Dari Pompeii sampai Krakatau, selama berabad-abad gunung api sudah menjadi subjek seni dan dan sastra. Apa yang membuat gunung api begitu menggugah? Alastair Sooke mencari tahu.

"Selalu ada sesuatu yang baru untuk dipelajari dari gunung api," kata David Pyle, profesor ilmu bumi di Universitas Oxford. "Sekitar 600 gunung api telah meletus dalam 200 tahun terakhir, dan 1.500 gunung api lain bisa meletus dalam beberapa dekade ke depan."

Dia tersenyum.

"Tapi kita tidak pernah cukup pintar untuk mengetahui apa yang selanjutnya akan dilakukan gunung api. Letusan gunung api paling mematikan selalu berasal dari gunung api tidur."

Terlepas dari teknologi terbaik dalam ilmu pengetahuan modern, letusan besar bisa berdampak pada jumlah korban jiwa yang besar.

Sejak 1900an, dua peristiwa letusan gunung api terparah adalah letusan Gunung Pelée di Martinique, kepulauan Karibia, pada 8 Mei 1902 yang menghancurkan kota Saint-Pierre, dan menewaskan 28.000 orang; dan pada 1985, letusan Nevado del Ruiz di Kolombia, yang melelehkan gletser pegunungan, menimbulkan banjir lumpur yang mengalir di sisi gunung api dan menenggelamkan kota Armero, dan menyebabkan 20.000 orang tewas.

Hak atas foto Bodleian Libraries, University of Oxford
Image caption Sketsa terawal yang diketahui soal gunung api berasal dari abad 15, dari manuskrip Jerman, Perjalanan Santo Brendan.

Tentu saja, bukan hanya vulkanologis yang khawatir akan letusan besar.

Pameran Volcanoes yang diselenggarakan oleh Pyle di Bodleian Libraries di Oxford, mengingatkan kita bahwa letusan besar — Vesuvius pada 79 Masehi, Tambora pada 1815, Krakatau pada 1883 — menjadi subjek menarik, membuat manusia merasa ketakutan sekaligus kagum.

Selama beribu tahun, seniman dan penulis, begitu pula ilmuwan, telah tergerak untuk menggambarkan dan menampilkan gunung api.

Pameran di Bodleian menampilkan banyak materi tulisan dan cetak dari koleksinya, termasuk surat-surat, relief pahatan kayu, dan ukiran.

Pameran itu juga menampilkan sketsa terawal dari gunung api, dari bagian catatan pinggir naskah abad 15 awal dari Jerman berjudul Perjalanan Santo Brendan — kisah Kristiani tentang seorang pastur Irlandia yang berlayar di Atlantik dan mencari surga.

Dalam kisah tersebut, Brendan melihat pulau gunung api, dan dari salah satunya tampak "api melesat ke langit … sehingga gunung terlihat seperti api unggun yang menyala".

Ada juga peta indah dari gunung api Eslandia dari buku Theatre of the World, karya pembuat peta Flanders, Abraham Ortelius, edisi 1606, yang sering disebut sebagai atlas modern pertama.

Bersama dengan monster laut fantastis dan beruang kutub mungil yang terlihat mengambang di atas potongan es di Samudera Arktik, peta itu menampilkan beberapa gunung api, salah satunya adalah Hekla, yang pernah disebut pintu masuk ke kekacauan dan gletser Eyjafjallajökull, yang - empat abad kemudian - meletus pada April 2010, dan menghasilkan awan abu dan asap yang luar biasa yang bertiup ke sepanjang Eropa utara, mengganggu perjalanan udara selama beberapa minggu.

Di dekat situ, kami juga menemukan fragmen dari lembar papyrus yang dibakar dari kota kuno Romawi, Herculaneum, yang terkubur dalam letusan Vesuvius pada 79 Masehi, dan naskah abad 15 dari Pliny muda, yang memberikan laporan saksi mata letusan tersebut.

Saking akuratnya laporan Pliny tersebut — bahwa tanda awal letusan tersebut adalah awan yang tidak biasa, berbentuk pohon pinus yang muncul dari puncak gunung — sampai-sampai vulkanologis masih mengkategorikan jenis letusan besar seperti itu dengan 'Plinian'.

Pintu neraka

Menurut penulis dan sejarawan budaya James Hamilton - yang pada 2010 mengkurasi pameran seni yang bagus yang terinspirasi oleh gunung api di Compton Verney, Warwickshire - Gunung Vesuvius, di Teluk Napoli, punya dampak yang jauh lebih besar daripada gunung api lain dalam budaya Barat.

Utamanya, ini disebabkan oleh penemuan di abad 18 akan kota-kota Romawi seperti Pompeii dan Herculaneum, yang keduanya hancur karena letupan api dan awan abu pada letusan 79 Masehi.

Hak atas foto Bodleian Libraries, University of Oxford
Image caption Ilustrasi hidup dari Pietro Fabris yang didampingi oleh pengamatan William Hamilton akan Vesuvius pada abad 18.

"Kawasan ini dengan cepat menjadi magnet bagi turisme," kata Pyle. "Dan banyak turis kaya di Grand Tour terobsesi dengan Napoli dan Vesuvius. Saat mereka kembali, mereka ingin memperlihatkan gambaran menakjubkan akan pemandangan yang termasyhur dari Teluk Napoli di rumah-rumah mereka di pingir kota."

Dalam dunia antik, lansekap vulkanis kawasan tersebut terasosiasi dengan neraka: dalam Buku VI di Aeneid karya Virgil, misalnya, Aeneas turun ke dunia bawah tanah lewat gua dekat Danau Avernus, danau kawah gunung api yang tidak jauh dari Lapangan Phlegraean yang 'Menyala' karena vulkanik, di dekat barat Napoli.

"Di beberapa kisah dongeng Eslandia, Hekla digambarkan dengan cara serupa," kata Pyle.

Namun pada abad 18, orang-orang mulai tertarik dengan kesenian gunung api Campania, Italia, atas dasar ilmiah. Diplomat abad 18, William Hamilton, contohnya, yang menjadi duta besar Inggris ke Kerajaan Napoli antara 1764 dan 1800, terobsesi dengan Vesuvius.

Dia menyewa vila di kaki gunung, dan memantau siklus erupsi yang penting sepanjang 1760an dan 1770an, mengirimkan surat berisi laporan yang berisi pengamatan detilnya ke Royal Society di London.

Laporan ini kemudian diterbitkan antara 1776 dan 1779 dengan judul Campi Phlegraei atau Lapangan Berapi - digambarkan oleh Pyle sebagai "salah satu monograf deskriptif pertama akan gunung api aktif".

Laporan ini tetap luar biasa karena ilustrasi yang berpengaruh dan hidup dari seniman kelahiran Inggris, Pietro Fabris.

Muncul dari abu

Kemungkinan menyaksikan tontonan Vesuvius meletus menarik banyak turis, termasuk seniman seperti Joseph Wright dari Derby.

Pada 1774, Wright tinggal di Hamilton selama sebulan - menulis pada saudara laki-lakinya bahwa "ada letusan berarti pada saat itu - dan inilah pemandangan paling indah di alam". Dalam masa hidupnya, dia telah lebih dari 30 kali melukis gunung api meletus.

"Masa sibuk seni visual soal gunung api terjadi pada pertengahan sampai akhir 1700an," kata Pyle.

Pelukis JMW Turner juga mengunjungi Napoli pada 1819, empat tahun setelah dia memamerkan kanvas yang dramatis dan menonjol berjudul Letusan Pegunungan Souffrier, di Pulau St Vincent, pada Tengah Malam, pada 30 April, 1812, dari Sketsa yang Diambil Saat Itu oleh Hugh P Keane, Esq.

"Ini dilukis bukan dari pengamatan Turner, tapi seperti tertulis dalalm judul, dari sketsa yang diambil seorang pengacara dan pemilik perkebunan tebu, Hugh Perry Keane," kata James Hamilton, dalam buku tipis yang diterbitkan untuk mendampingi pameran Compton Verney.

Sayangnya, bagi Turner pada 1819, harapannya untuk menyaksikan gunung api meletus tidak terpenuhi. Saat dia berada di daerah itu, Vesuvius hanya mengeluarkan asap dan abu.

Seniman lain telah menggambarkan gunung api.

Pada abad 19, seniman Jepang Hokusai dan Hiroshige membuat cetakan kayu yang menggambarkan pemandangan gunung api aktif, Gunung Fuji. Pada 1874, John Ruskin melukis Etna dari Taormina di Sisilia. Bahkan Andy Warhol pada 1985 membuat serangkaian kanvas besar dengan warna terang yang menggambarkan letusan Vesuvius.

"Saya melukis denagn tangan setiap Vesuvius," katanya, "menggunakan warna-warna berbeda sehingga bisa memberi kesan dilukis satu menit setelah letusan."

Kartunis juga sudah sejak lama tertarik dengan gunung api: contohnya pada 1815, di malam Pertempuran Waterloo, George Cruikshank menggambar kartun politik yang memperlihatkan Vesuvius mengeluarkan Raja Napoli yang diturunkan, dan istrinya, Caroline, saudari Napoleon.

Pada 2010, letusan Eyjafjallajökull juga menginspirasi kartun satir Gerald Scarfe yang mengomentari kampanye pemilu Inggris.

Gunung api juga terbukti menarik bagi para penulis.

"Letusan gunung api global pertama, dalam artian liputan berita global, adalah letusan Krakatau pada 1883," kata Pyle.

"Jaringan telegraf transatlantik baru saja dibuat, dan kabar akan letusan tersebut sampai dalam beberapa jam ke Eropa utara. Dengan segera, Krakatau menjadi novel. RM Ballantyne menerbitkan buku berjudul Blown to Bits, beberapa tahun kemudian, diceritakan dari kesaksian orang-orang yang selamat dari letusan tersebut."

Hak atas foto RKO Radio Pictures
Image caption Ingrid Berdman membintangi Stromboli, salah satu dari banyak film yang berfokus pada kekuatan mematikan dari gunung api.

Pembuat film pun terpesona dengan gunung api. Pameran di Bodleian berisi dua poster film: satu untuk drama Italia, Volcano (1950), dan satu lagi untuk film neo-realis Stromboli karya Roberto Rossellini, dari tahun yang sama, dibintangi oleh Ingrid Bergman.

Ada banyak contoh kenang-kenangan dan barang bertema gunung api, termasuk kotak korek api 'Vulcan'.

Mungkin jawabannya jelas, tapi kenapa sebenarnya gunung api memukau imajinasi kita?

"Ada sesuatu yang menarik dari melihat ke kedalaman," kata Pyle. "Berdiri di sisi gunung api, Anda bisa mendengar gemuruh dan merasakan getarannya. Orang telah menggunakan kata-kata yang sama untuk menggambarkan gunung api selama beribu-ribu tahun. Gunung api menawarkan perasaan kekuatan dahsyat, yang berbeda dari yang pernah Anda rasakan di dunia."


Versi asli tulisan ini bisa Anda baca di The awesome power of volcanoes di laman BBC Culture

Topik terkait

Berita terkait