Pelepasan lampion meriahkan perayaan Waisak di Borobudur

Perayaan Waisak Hak atas foto Fajar Sodiq
Image caption Tak kurang dari 2.000 lampion dilepas ke angkasa dalam perayaan Waisak di kompleks Candi Borobudur, Jawa Tengah.

Prosesi perayaan Tri Suci Waisak di kawasan Candi Borobudur, Magelang, Jawa Tengah pada Rabu (10/05) dimeriahkan dengan pelepasan ribuan lampion.

Tak kurang dari 2.000 lampion dilepas ke angkasa oleh umat Buddha dan masyarakat umum, kata wartawan Fajar Sodiq yang melaporkan dari lokasi acara.

Hak atas foto Fajar Sodiq
Image caption Pelepasan lampion di Candi Borobudur tak hanya dilakukan oleh umat Buddha tapi juga oleh masyarakat umum.

Ketua Perwakilan Umat Buddha Indonesia (Walubi) Hartati Murdaya mengatakan panitia menggelar pelepasan lampion di dua lokasi.

"Pelepasan lampion di Aksobhya untuk masyarakat umum dilakukan sekitar pukul 21.00 WIB. Sedangkan (pelepasan lampion) di pelataran Candi Borobudur dilakukan oleh umat Buddha pada pukul 02.00 WIB," kata Hartati.

Hak atas foto Fajar Sodiq
Image caption Panitia perayaan Waisak mengatakan jumlah lampion yang dilepas tahun ini lebih sedikit dari tahun lalu.

Ia mengungkapkan jumlah lampion yang diterbangkan pada perayaan Waisak tahun ini sekitar 2.000 buah, berkurang dibandingkan Waisak tahun sebelumnya yang mencapai 5.000 lampion.

Hak atas foto Fajar Sodiq
Image caption Melepas lampion melambangkan panjatan doa keselamatan.

"Jumlahnya dikurangi karena tidak boleh lepas banyak-banyak karena dilarang. Ada yang takut jika nanti lampion itu jatuh dan membakar. Tetapi lampion yang diterbangkan di sini jika jatuh, apinya sudah padam," ujarnya.

Hak atas foto Fajar Sodiq
Image caption Tak kurang dari 2.000 lampion dilepas dari dua lokasi di kompleks Candi Borobudur.

Lampion ini didatangkan dari Thailand karena memiliki kelebihan, antara lain bahan kertas yang dipakai tidak mudah terbakar atau bocor.

Hak atas foto Fajar Sodiq
Image caption Lampion yang dipakai untuk memeriahkan perayaan Waisak didatangkan dari Thailand.

"(Kertas lampion buatan Indonesia) tidak dikhususkan untuk bahan pembuat lampion terbang, jadi akan meleleh ketika dibakar. Kan bahaya jika lampion seperti ini jatuh di atas rumah," jelas Hartati.

Ia mengatakan secara filosofi lampion yang dilepas selalu terbang ke atas, begitu pula dengan umat Buddha yang selalu menganggap surga di atas.

"Dengan melepas lampion, kita berdoa mendapat keselamatan. Untuk selamat tentunya disertai dengan perbuatan baik, sehingga bisa membuahkan karma yang baik pula," katanya.