'Makna politik' aksi solidaritas dunia untuk Ahok

Ahok, Hong Kong, unjuk rasa Hak atas foto Valentina Djaslim
Image caption Sekitar 1.500 warga Indonesia berkumpul di Victoria Park, Hong Kong, menggelar aksi yang mereka sebut 'Justice for Ahok' pada Minggu (14/5) pagi.

Aksi 1.000 lilin untuk Ahok diadakan bukan hanya di berbagai kota di Indonesia, tetapi juga di kota-kota besar di penjuru dunia.

Pengamat menganggap bahwa aksi tersebut sebagai potensi kekuatan baru politik di Indonesia, walau ada yang justru menganggap aksi tersebut bersifat memecah-belah.

Sebenarnya kasus penistaan agama bukan pertama kali terjadi di Indonesia, namun vonis dan dakwaan atas Basuki Tjahaja Purnama atau Ahok sepertinya menarik begitu banyak massa, di Indonesia dan juga di luar negeri.

Hal tersebut -menurut pengamat politik dari The Habibie Center, Rahimah Abdulrahim- berpendapat karena massa menganggap bahwa kasus Ahok telah dipolitisasi dalam Pilkada yang baru saja usai, yang dimenangkan oleh Anies Baswedan.

Selain itu ada juga rasa nasionalisme yang tinggi dari para WNI di luar negeri, dengan aksi serupa antara lain di Hong Kong, Amsterdam, London, Helsinki, Washington, maupun Toronto.

"Terus terang, kalau kita di luar negeri, kita sangat membanggakan Indonesia itu pluralis dan sebagainya. Dengan adanya berita-berita di luar negeri, ini juga salah satu indikator bahwa teman-teman ingin memperjuangkan... bahwa Indonesia tidak berubah," papar Rahimah.

Masalah yang belum selesai?

Dakwaan atas Basuki Tjahaja Purnama alias Ahok -yang berakhir dengan vonis dua tahun penjara- dilihat sejumlah pihak diwarnai dengan sentimen atas latar belakang etnis Cina maupun agama Kristen.

Dan aksi solidaritas Ahok juga bisa dilihat sebagai aksi solidaritas kepada etnis Cina di Indonesia, jelas Lies Marcoes, aktivis HAM dan ahli kajian Islam.

"Ini seperti peristiwa 1998, menyangkut etnis Cina yang biar bagaimanapun posisinya berbeda dengan etnis yang lain."

"Seejak masa kolonial memang belum selesai persoalan ke-Indonesia-an etnis Cina. Etnis Arab juga kelas dua di masa kolonial sama seperti Cina tetapi karena tidak ada persoalan dengan agama, mereka (etnis Arab) seperti bisa langsung mencampur dengan masyarakat. Kalau Cina, selalu ada kecurigaan," tambah Lies.

"Kecurigaan yang berbahaya, kecurigaan yang tidak pernah selesai dalam kebangsaan kita. Tidak pernah bisa dianggap menjadi 'Indonesia."

Hak atas foto BBC Indonesia
Image caption Setidaknya 400 orang yang berkumpul di Jubilee Gardens, London, untuk mendukung Ahok.

Stop stigmatisasi'

Bagaimanapun Ketua Pemuda Muhammadiyah, Dahnil Anzar Simanjuntak, mengatakan tidak tepat jika aksi mendukung Ahok dikaitkan dengan kebhinekaan.

"Hukuman yang diberikan kepada Ahok kemudian dikaitkan dengan ancaman dengan NKRI... tidak ada. Itu penegakan hukum yang sudah terang dan jelas", kata Dahnil, yang juga mengharapkan aksi-aksi mendukung Ahok sebaiknya dihentikan.

"Saya menghimbau hentikan melakukan stigmatisasi. Justru yang dilakukan hari ini adalah upaya menyeret-nyeret berbagai pihak seolah-olah yang menghukum Ahok atau yang setuju dengan hukuman terhadap Ahok anti-NKRI," tambah Dahnil.

"Justru apa yang mereka lakukan itulah justru yang sejatinya sedang mengancam NKRI."

Hak atas foto Astrid
Image caption Lebih dari 2.000 orang berkumpul di Museumplein, Amsterdam, Sabtu (13/05) untuk mendukung Ahok.

Dia menyarankan jika memang ada ketidakpuasan atas keputusan Pengadilan Negeri Jakarta Utara, maka sebaiknya diselesaikan melalui proses hukum dengan pengajuan banding di pengadilan tinggi.

Bagaimanapun, Lies Marcoes berpendapat bahwa aksi massa tersebut adalah respon yang wajar terhadap ketidakpuasan penegakan hukum.

"Menurut saya ini adalah pasal yang selalu akan bermasalah tetapi sekarang mendapatkan momentumnya yang baik dan pemerintah menurut saya harus melihat bahwa ini adalah ketidakpuasan secara umum kepada penegakan hukum di Indonesia."

Hak atas foto Pascalina Lumanauw
Image caption Wraga Indonesia yang berkumpul di Plaza West Covina, California, AS pada 13 Mei juga menyatakan dukungan atas Ahok.

'Kekuatan politik baru Indonesia'

Terlepas dari prokontra atas aksi global untuk mendukung Ahok, Rahimah Abdulrahim dari The Habibie Center berpendapat bahwa gelombang aksi solidaritas terhadap kebhinekaan bisa menjadi kekuatan politik baru Indonesia.

"Ini adalah sebuah tantangan baru dan banyak yang tadinya diam, sekarang bangkit. Mereka mau turun ke jalan. Mereka yang di luar negeri juga tidak mau hanya dicap 'ah kamu cuma dompleng saja menyebut kamu Indonesia. Mana ke-Indonesia-an kamu?"

"Jadi saya rasa ini adalah semangat baru. Tidak menutup kemungkinan ini akan menjadi kekuatan politik baru," tegas Rahimah.

"Pasti akan ada yang oportunis, memanfaatkan, tapi kita berharap ini adalah sebuah kekuatan baru untuk membangun bersama."

Hak atas foto Debra Tumiwa-Macawalang
Image caption Sebagian peserta aksi Los Angeles, AS, menuntut pembebasan Ahok.

Pendapat yang senada diutarakan Lies Marcoes, dengan melihat aksi-aksi tersebut sebagai sebuah pembelajaran demokrasi.

"Ini harus dilihat sebagai diskursus kebangsaan yang mau kita bangun seperti apa. Tugas kita untuk mengatasi persoalan ini dan negara harus hadir," kata Lies.

Berita terkait