Serangan siber Wannacry di Indonesia 'bisa diantisipasi'

Virus Hak atas foto Reuters
Image caption Penyebaran ransonware wannacry terjadi di berbagai negara.

Pemerintah mengatakan serangan siber masih ditemukan di Indonesia pada Senin (15/05) dalam skala kecil, meski begitu pemerintah terus melakukan upaya mengatasi serangan siber.

Menteri Komunikasi dan Informatika, Rudiantara, menyebutkan sejumlah perangkat komputer di sejumlah perusahaan swasta dan satu kantor pelayanan publik Samsat diserang, tetapi bisa diatasi.

"Saya tidak punya angka persisnya tetapi yang dilaporkan ada Samsat, koorporasi di (pulau) Jawa ada juga perusahan perkebunan tapi tak banyak komputernya, tak lebih dari 10, karena pemerintah sangat gencar mengkomunikasikan ini," jelas Rudiantara kepada BBC Indonesia.

Sejak penyebaran ransomware WannaCry di Indonesia akhir pekan lalu, Kominfo telah menyebarkan informasi keamanan siber kepada para pengguna internet melalui situsnya, media dan juga kerja sama dengan operator telepon seluler.

Rudiantara mengklaim upaya sosialisasi cara penanganan ransomware Wannacry yang gencar sejak akhir pekan lalu, membuat tak banyak serangan di Indonesia.

Ia menjelaskan di Kominfo ada ID SIRTII yang terdiri dari unsur Kominfo, praktisi, dan pakar dari perguruan tinggi yang bertugas mengatasi, memonitor, menangkal dan memulihkan ketika terjadi permasalahan siber.

"Dan proses yang kami jalankan, bersama-sama antara ID SIRTII dan komunitas yang lain, gandeng tangan untuk sosialisasi ke masyarakat Indonesia, sehingga dampaknya sangat minor," kata dia.

Penyebaran ransomware Wannacry terjadi di sekitar 150 negara, termasuk Indonesia mulai pekan lalu. Program jahat ini dapat memasuki komputer tanpa disadari, lalu mengenkripsi data di dalamnya sehingga komputer tak dapat dipakai. Program jahat ini meminta 'tebusan' untuk memulihkan akses.

Rudiantara mengatakan di Indonesia serangan siber tidak sebesar di negara lain seperti Inggris. Pada akhir pekan pemerintah menyebutkan ada dua RS yang terkena yaitu RS Dharmais dan RS Harapan Kita. Tetapi kemudian, manajemen RS Harapan Kita tidak terkena serangan siber.

Hak atas foto BBC INDONESIA
Image caption Pelayanan di RS Dharmais yang terkena serangan virus ransomware wannacry masih belum normal seluruhnya sampai Senin (15/05).

Pantauan BBC pada Senin (15/05), pelayanan pasein di RS Dharmais sama dengan hari biasa, meski sedikit terhambat. Dirut Dharmais, Abdul Kadir, menjelaskan serangan terjadi Sabtu pukul 05.00 pagi.

"Pada saat itu, salah seorang petugas data entry kami di ruang rawat inap mau memasukkan data pasien rawat inap. Tiba-tiba terlihat tampilan di monitor itu berubah semua," jelas Abdul Kadir.

"Ia langsung melaporkan pada instalasi IT rumah sakit bahwa ada perubahan tampilan pada monitor komputer. Kemudian ia diinstruksikan untuk menghentikan semua proses di IT dan mematikan semua komputer yang ada di ruangan itu," tambah dia.

Abdul Kadir memastikan data pasien di RS Dharmais masih aman.

Hak atas foto WIKIPEDIA/FAIR USE
Image caption Komputer yang terkena wannacry akan menyedot data komputer dan meminta sejumlah tebusan.

Pengamat keamanan internet dari Vaksincom, Alfons Tanujaya, mengatakan serangan ransomware Wannacry melemah karena memiliki perisai pembunuh (Kill Switch), sehingga melemah sendiri.

Namun, Alfond mengatakan peristiwa ini membuat orang di Indonesia menjadi sadar akan keamanan siber.

"Kabar baiknya tanpa antisipasi malware bisa mati sendiri. Tapi mungkin kita ambil positifnya, mereka melakukan backup," katanya.

Dikatakan, komputer yang diserang menggunakan sistem operasi Windows XP yang mungkin karena tidak diperbarui, ada celah yang bisa dibobol ransomware.

Alfons mengatakan sebagian besar pengguna internet di Indonesia masih membutuhkan edukasi tentang keamanan siber agar tak mudah terkena serangan. Ia juga mengatakan Indonesia termasuk negara yang masih lemah untuk mengatasi serangan siber.

"Ini tak mudah ... ada korelasi penggunaan piranti lunak bajakan dengan celah keamanan yang tidak ter-update. Kita perlu edukasi," jelas Alfons.

Sampai saat ini, untuk keamanan siber pemerintah masih memprioritaskan pada tiga sektor penting, yaitu keuangan (perbankan), transportasi dan energi dengan melakukan standardisasi dan sosialisasi di sektor.

Pemerintah juga tengah mempersiapkan Badan Siber Nasional untuk menangkal dan mengatasi serangan siber.

"Badan siber ini multisektor, ada Kominfo, Lembaga Sandi Negara dan lembaga lain ... akan membuat kebijakan satu pintu dan lebih terkoordinir tugasn," kata Rudiantara.

Topik terkait

Berita terkait