Aksi saling jambak dua perempuan cerminkan masalah KRL di Jabodetabek?

kereta Hak atas foto BBC Indonesia
Image caption Aksi penjambakan dua perempuan penumpang KRL Jabodetabek terjadi April lalu, akibat keduanya berebut tempat duduk.

Video dua perempuan yang saling menjambak lantaran memperebutkan tempat duduk di kereta commuterline Jabodetabek menjadi viral di media sosial.

Pengamat menilai kondisi transportasi dan perilaku konsumen adalah akar masalahnya.

Tayangan yang ramai dibagikan di media sosial itu, menurut Humas PT KAI Commuter Jabodetabek (KCJ), Eva Chairunisa, terjadi pada April lalu saat kereta melintasi Stasiun Duren Kalibata, Jakarta Selatan.

Insiden tersebut adalah yang kedua dalam tiga bulan terakhir. Sebelumnya, sempat ada perkelahian serupa yang melibatkan dua perempuan di kereta jalur Jakarta-Bekasi.

"Yang di video itu terjadi di kereta khusus wanita, sedangkan kasus kedua di kereta reguler. Tapi, tidak setiap bulan terjadi. Itu sebenarnya hal kecil, kasuistis," kata Eva kepada BBC Indonesia.

Hak atas foto Getty Images

Namun, Ketua Yayasan Lembaga Konsumen Indonesia, Tulus Abadi, menilai video viral itu bukan keributan kecil yang remeh. Akar penyebabnya, kata dia, jauh lebih serius dan mencerminkan kondisi transportasi kereta di Jabodetabek.

"Kasus penjambakan berangkat dari overcapacity (kelebihan kapasitas) commuter line yang sangat jauh dari memadai, khususnya pada jam-jam sibuk," ujar Tulus.

Dia menilai perkelahian antarpenumpang menjadi tak terhindarkan lantaran jumlah kereta dan frekuensi perjalanan tidak mampu menandingi ratusan ribu orang.

"Secara umum, kapasitas kereta commuterline di Jakarta masih sangat kurang dilihat dari demand yang ada, khsusunya pada jam-jam sibuk. Sehingga antar konsumen saling berebut tempat duduk karena sudah overcapacity," kata Tulus.

"Memang di luar negeri semua kereta massal penuh ketika jam sibuk, namun di Jakarta sudah kelewat penuh. Berdiri saja susah, bahkan ibaratnya bernapas saja berebut oksigen," papar Tulus.

PT KCJ, sambungnya, juga harus melakukan sosialisasi kepada penumpang agar bisa menghargai hak penumpang lainnya.

"Perilaku konsumen juga belum terdidik dan terinformasi dengan baik. Misalnya tempat khusus untuk orang jompo, sakit, dan hamil malah ditempati penumpang yang bukan kriteria itu. Konsumen juga kurang peka dengan tidak memberikan tempat duduk bagi ibu hamil," kata Tulus.

Hal itu diamini pengamat transportasi dari Universitas Indonesia, Ellen Tangkudung.

"Para penumpang memang harus diajari perilaku yang benar saat menumpang transportasi umum," ujarnya.

Hak atas foto Getty Images
Image caption Rata-rata penumpang harian commuter line mencapai 833,67 ribu orang pada 2016.

Jumlah kereta

Eva Chairunisa mengatakan kepadatan saat jam sibuk di commuterline tidak terhindarkan karena para penumpang di Jakarta dan sekitarnya melakukan aktivitas pada jam yang sama.

Insiden perkelahian penumpang, menurutnya, sangat sedikit terjadi dibandingkan dengan banyaknya sikap toleransi antarpenumpang.

"Setiap hari saya melihat di kereta khusus perempuan. Banyak juga yang toleransinya tinggi, seperti memberi tempat duduk bagi ibu hamil, anak, dan orang tua," ujarnya.

Hak atas foto Getty Images
Image caption "Para penumpang memang harus diajari perilaku yang benar saat menumpang transportasi umum," ujar pengamat transportasi, Ellen Tangkudung.

Namun, kesaksian itu berbeda dengan yang dialami Farida Indriastuti. Melalui Facebook, dia berbagi cerita di Facebook tentang pengalamannya menumpang commuterline jurusan Jakarta-Bogor.

"Saya juga pernah lihat ibu-ibu bertengkar karena ingin dapat duduk di commuterline jurusan Jakarta-Bogor. Cuma gak jambak-jambakan sih. Cuma maki-maki aja. Tapi duh kata-katanya gak patut didengar. Malu ah sebagai sesama perempuan," tulisnya.

Adapun Jentik Bunda Kalea menulis, "Rasanya pengen ikut jambak tu dua ibu2 #ikutgemes #gataumalu #rebutanbangkukrl"

KCJ, sebagaimana dipaparkan Eva Chairunisa, setiap hari mengoperasikan 81 rangkaian kereta. Sebanyak 18 rangkaian menggunakan 12 kereta, 31 rangkaian menggunakan 10 kereta, dan sisanya menggunakan delapan kereta.

Jumlah penumpang kereta di Jakarta dan sekitarnya sepanjang tahun lalu mencapai 280,58 juta orang. Adapun rata-rata penumpang harian commuter line mencapai 833,67 ribu orang pada 2016.

Topik terkait

Berita terkait