"Banyak LGBT Aceh yang pintar tapi sekarang takut dan pergi"

cambuk
Image caption Hukum cambuk biasanya menjadi tontonan warga Aceh.

Untuk pertama kalinya sejak Qanun Jinayat diterapkan di Aceh, dua laki-laki homoseksual di provinsi yang kerap disebut serambi Mekah itu, dihukum cambuk. Wartawan BBC Rebecca Henschke yang berada di Aceh saat pencambukan melaporkan, penerapan hukuman itu memicu ketakutan mendalam pada kaum gay di Aceh.

Bersama ratusan warga Aceh lainnya siang itu, Salman (bukan nama sebenarnya) ikut menyaksikan hukuman cambuk yang dipertontonkan untuk umum tersebut.

Namun, ketika para algojo mulai mencambuk terpidana dengan rotan, Salman menjauh.

"Ngeri, seram sekali, itu bisa saja saya yang di sana," kata Salman.

Hak atas foto Getty Images
Image caption Pencambukan dilakukan oleh tim algojo.

Di atas panggung pencambukan, tampak terpidana yang mengenakan baju putih memicingkan mata, menahan sakit. Mulutnya komat-kamit melafalkan doa di tengah sorakan warga yang menonton.

"Saya harus lebih hati-hati ke depannya. Memang pacar saya sekarang tidak di Aceh, tapi jujur saya khawatir dengan masa depan saya di sini," ujar Salman.

Hak atas foto Getty Images
Image caption Warga di Banda Aceh menyaksikan pelaksanaan hukum cambuk.

Sebagai warga Aceh, dia lahir dan besar di sini. Ia tak bisa meninggalkan provinsi itu karena harus merawat ibunya yang sudah renta.

"Banyak orang gay Aceh yang pintar dan berkontribusi bagi provinsi ini. Tapi ya sekarang mereka ketakutan, mereka harus merahasiakan orientasi seksual. Banyak juga yang sudah pergi ke luar."

'Keluarga menerima saya'

Pemimpin Aceh dengan tegas menyatakan bahwa hak mereka untuk menerapkan hukum syariah terjadi setelah konflik bersenjata.

Namun kelompok hak asasi manusia sudah secara keras mengkritik hukuman cambuk. Kelompok Human Rights Watch yang berbasis di New York mengatakan bahwa hukuman tersebut tergolong penyiksaan dalam hukum internasional.

Syeril, seorang perempuan transgender di Aceh, mengatakan bahwa kelompok LGBT kini 'harus sangat berhati-hati dalam berpakaian dan cara berperilaku dan apa yang dikatakan'.

"Contohnya, kita tidak menggunakan pakaian seksi, kita tidak boleh lagi melakukan itu," katanya sambil tersenyum.

Hak atas foto BBC Indonesia
Image caption Syeril mengaku kini dia semakin takut, tapi keluarga dan kampungnya sudah menerima dia.

Namun dia mengatakan bahwa keluarganya merasa nyaman dengan penampilannya. Mereka adalah anggota senior GAM dan masih berkuasa secara politik.

Menurut Syeril, dia dulu sering dipukuli oleh tentara Indonesia yang sedang mencari saudara laki-lakinya yang memberontak saat konflik senjata.

Syeril selamat dari tsunami dan mengatakan bahwa dia warga Aceh yang sebenarnya.

"Saya sedikit takut akan apa yang terjadi pada orang lain. Tapi secara pribadi, saya tidak punya masalah karena keluarga saya dan desa menerima saya. Mereka selalu baik dengan saya dan apapun yang terjadi, saya tidak akan meninggalkan mereka," katanya.

'Kami diperlakukan seperti binatang'

Hukuman cambuk itu juga menarik perhatian Hartoyo, aktivis hak-hak gay yang khusus terbang ke Aceh dari Jakarta.

Pada 2007, Hartoyo mengaku dia dan pacar lelakinya juga pernah ditangkap di Aceh. Kala itu Hartoyo bekerja di lembaga sosial untuk membantu membangun kembali Aceh setelah diguncang gempa dan tsunami pada 2004.

"Polisi mengencingi kepala saya. Kami berdua dipukul. Kami diperlakukan seperti binatang saja," katanya.

Hak atas foto Reuters
Image caption Kedua terpidana yang berusia 20-an tahun ditangkap setelah warga setempat menggerebek kamar sewa mereka saat melakukan hubungan seks.

"Tapi saya beruntung karena waktu itu homoseksualitas bukan tindakan kriminal," cerita Hartoyo.

Sehari sebelum hukuman cambuk, wartawan BBC Rebecca Henschke bersama Salman mendatangi penjara untuk bertemu salah satu terpidana hukuman seks sesama jenis itu.

Lelaki itu ketakutan, tangan dan tubuhnya bergetar. Dia tampak sangat cemas. Dia bercerita semula dia tidak mau menerima bantuan dari komunitas gay.

Hak atas foto Reuters
Image caption Hukum cambuk pada Selasa (23/05) adalah yang pertama atas pasangan gay di Aceh, namun komuntasi LGBT khawatir ini bukan yang terakhir.

"Saya sangat tertekan sekali di sini (tahanan), saya berusaha keras agar bisa diterima di sini, dan saya sekarang ingin keluar."

Yang diinginkannya adalah kembali pulang ke keluarganya dan hidup seperti sedia kala.

Sebelum sejumlah warga semena-mena masuk ke dalam kamar kos-kosannya dan diiringi dengan penangkapan, dia adalah mahasiswa tahun akhir jurusan kedokteran di Aceh.

Hak atas foto Getty Images
Image caption Kedua terpidana hubungan seks sesama jenis tiba di tempat pencambukan.

Namun, rasanya kembali hidup seperti dulu adalah hal yang sulit baginya.

Hukum syariah di Aceh membolehkan warga untuk mencari bukti dan kemudian menangkap orang-orang yang diduga melanggar hukum syariah.

Mereka bahkan dibolehkan memaksa masuk ke rumah seseorang, dan melakukan penangkanapan, meskipun terduga pelaku sedang melakukan hal-hal yang bersifat sangat pribadi.

'Menyelamatkan generasi muda'

Dalam rekaman penggerebekan yang beredar di media sosial, terlihat dua lelaki Aceh itu telanjang, ketakutan. Salah seorang lelaki tampak menelpon seseorang, memohon bantuan.

"Penggerebekan seperti itu dibolehkan di undang-undang kami," kata Illiza Sa'aduddin Djamal, Walikota Banda Aceh. "Mereka di kamar sewaan."

"Para tetangga curiga. Ya mereka tahu apa yang terjadi. Tapi mereka perlu bukti."

Hak atas foto Getty Images
Image caption Pada Mei 2017, seorang perempuan dicambuk karena tertangkap berduaan dengan lelaki yang bukan suaminya.

Februari tahun lalu, lewat akun Instagramnya, Illiza menulis ia akan 'memberantas' LGBT di Aceh.

"Saya ingin menyelamatkan generasi muda Aceh," katanya kepada saya. "Bayangkan apa yang terjadi kalau dunia dipenuhi orang-orang yang suka sesama jenis."

"Kami tak membenci orangnya, yang kami benci tindakannya."

'Malunya yang paling menyakitkan'

Pengemudi saya di Aceh, Brandi, bercerita bahwa dia kenal beberapa teman yang pernah dihukum cambuk karena meminum alkohol atau berjudi.

"Kata mereka malunya itu yang paling menyakitkan, dicambuk pakai rotaannya tidak begitu sakit," katanya.

Hak atas foto Getty Images
Image caption Malu saat menjadi tontonan umum dianggap lebih menyakitkan daripada cambukan rotan.

Salah satu temannya sudah dirotan tiga kali.

"Tapi dia tetap saja minum alkohol. Bahkan sekarang dia foto selfie sebelum dicambuk," katanya tertawa.

Tak ada lagi tempat sembunyi

Aktivis hak-hak gay, Hartoyo, akhirnya tidak jadi menyaksikan pencambukan.

Setelah mengunggah rencana kehadirannya di media sosial, bermuncullah broadcast di media sosial yang mendesaknya untuk keluar dari Aceh. Massa bertanya-tanya di mana keberadaannya.

Dia ingin sekali bertemu dengan dua pemuda yang dicambuk, dan membantu mencari cara apakah bisa membawa mereka keluar Aceh, menuju Jakarta.

"Saya ingin mereka tahu kalau mereka tidak sendiri, bahwa tempat yang aman itu masih ada."

Hak atas foto Polda Metro Jaya
Image caption Sebanyak 141 orang dibawa ke Polres Jakarta Utara karena diduga terlibat dalam pesta seks gay.

Namun, setelah penangkapan 141 lelaki gay di sebuah sauna di Jakarta, usai sebelumnya sejumlah lelaki ditahan di Surabaya, tampaknya sekarang tidak ada lagi tempat aman bagi komunitas gay di Indonesia.

Topik terkait

Berita terkait