Pancasila: Mengapa siswa jadi wajib nyanyikan Indonesia Raya?

anak sekolah Hak atas foto AFP
Image caption Sejumlah siswa sekolah dasar di Jakarta tengah mengikuti kampanye cuci tangan di Jakarta, 6 Mei 2007.

Setiap siswa sekolah tidak hanya diwajibkan menyanyikan Indonesia Raya, mereka juga akan diberi materi sejarah kelahiran lagu kebangsaan itu, kata seorang pejabat Kemendikbud.

Perpaduan dua pendekatan itu diharapkan membuat siswa memiliki keterikatan kolektif dengan sejarah di balik lagu Indonesia Raya sekaligus menghayati nilai-nilai kebangsaan, kata Dirjen Kebudayaan Kementerian Pendidikan dan Kebudayan, Hilmar Farid.

"Yang mau kita lakukan, agar (kewajiban menyanyikan Indonesia Raya) tidak menjadi seremoni, adalah terus-menerus berbicara keterkaitan sejarah, siapa penciptanya, banyak cerita lainnya," kata Hilmar Farid kepada BBC Indonesia, Kamis (25/05).

Kemendikbud telah mengeluarkan peraturan menteri pada pertengahan April lalu yang salah satu isinya meminta lagu kebangsaan Indonesia Raya dinyanyikan sebelum kegiatan belajar mengajar.

Mereka juga telah merekam kembali lagu Indonesia Raya dalam bentuk lengkap tiga stanza di perusahaan rekaman Lokananta, Solo, Sabtu (20/05) lalu. Lagu hasil rekaman inilah yang akan distandarkan sehingga tidak ada lagi berubah-ubah.

Dan rencananya peraturan itu akan mulai diberlakukan mulai Agustus 2017 saat tahun ajaran baru.

Hak atas foto Reuters
Image caption Kemendikbud mengakui kewajiban menyanyikan Indonesia Raya ini dilatari kehadiran gerakan transnasional keagamaan yang diyakini telah merambah dunia pendidikan.

Lagu Indonesia Raya dinyanyikan bersama-sama di dalam klas sebelum pelajaran dimulai. Setiap siswa bergilir menjadi dirigen untuk memimpin lagu tersebut.

Hilmar Farid mengakui kewajiban menyanyikan Indonesia Raya ini dilatar gerakan transnasional keagamaan yang telah merambah dunia pendidikan.

Gerakan itu secara sistematis menolak konsep kebangsaan. "Ini tentu masalah," tegasnya.

Media playback tidak ada di perangkat Anda
Indonesia raya di Lokananta

"Kita lihat serangan-serangan terhadap pondasi negara, seperti Pancasila, Bhinneka Tunggal Ika. Simbol-simbol negara mulai ditinggalkan, bendera sekarang ada yang dianggap ada yang lebih unggul. Ini mesti ditangani dan dihadapi secara sistematis," kata Hilmar.

Kenyataan ini makin diperparah karena beberapa sekolah tidak lagi melakukan upacara bendera dan tidak menyanyikan Indonesia Raya secara berkala, kata Hilmar.

"Itu sebabnya kami terdorong untuk membuat usaha ini universal, artinya semua sekolah harus mengalami dan juga menetapkan caranya dan seterusnya dibuat aturannya," paparnya.

Seremoni belaka?

Ketika rezim Orde Baru berkuasa, sekolah diwajibkan menggelar upacara bendera setiap Senin dan lagu Indonesia Raya selalu dinyanyikan secara bersama.

Karena digelar secara rutin, aktivitas seperti itu pernah dikritik karena dianggap menjadi kegiatan seremoni belaka. Kekhawatiran seperti ini kini muncul lagi ketika kini setiap siswa diwajibkan menyanyikan Indonesia Raya

Hilmar Farid memahami adanya kekhawatiran seperti itu. Karenanya, salah-satu jalan keluar yang dia tawarkan adalah menyisipkan materi sejarah di balik perjalanan lagu kebangsaan itu.

Hak atas foto Getty Images
Image caption Setiap siswa sekolah tidak hanya diwajibkan menyanyikan Indonesia Raya, mereka juga akan diberi materi sejarah kelahiran lagu kebangsaan itu, kata seorang pejabat Kemendikbud.

"Adanya cerita sejarah itu menjadi penting, sehingga lagu yang sudah biasa kita nyanyikan itu, punya dimensi yang sangat berbeda ketika diberi 'kedalaman' itu," katanya.

Dari arsip sejarah yang dipelajari Hilmar, kelahiran lagu Indonesia Raya sejak awal sangat ditakuti oleh pemerintah kolonial Hindia Belanda, karena dianggap dapat memperkuat sentimen nasionalisme.

Seperti diketahui, lagu Indonesia Raya yang merupakan karya Wage Rudolf Supratman itu dinyanyikan pertama kali secara resmi dalam Kongres Pemuda II di Jakarta, 1928, yang melahirkan Sumpah Pemuda.

Semenjak saat itulah, pemerintah kolonial Hindia Belanda melarang lagu itu dinyanyikan di tempat umum. Hilmar mengaku menemukan beberapa kepingan sejarah terkait kelahiran lagu itu.

"Orang ditangkap karena menyanyikan Indonesia Raya, ada pertemuan yang didahului menyanyikan lagu Indonesia Raya digerebek, terus ada anak-anak pramuka yang lewat di depan tangsi polisi Belanda, sambil bersiul-siul Indonesia Raya kemudian dicatat oleh polisi kolonial Belanda," ungkapnya.

Kemendikbud saat ini sedang merancang mekanisme dan modelnya sehingga pemberian materi itu menyenangkan bagi setiap siswa. "Yang jelas, tidak doktriner," tukas Hilmar.

Berita terkait