Sidang e-KTP: Andi Narogong bantah tuduhan memberikan uang ke anggota Komisi II

Andi Agustinus alias Andi Narogong kini membantah pernah makan siang dengan Ketua Golkar Setya Novanto. Hak atas foto BBC Indonesia
Image caption Andi Agustinus alias Andi Narogong kini membantah pernah makan siang dengan Ketua Golkar dan Ketua DPR Setya Novanto.

Andi Agustinus alias Andi Narogong, salah satu tokoh kunci dalam kasus proyek KTP elektronik (e-KTP), membantah tuduhan bahwa ia pernah memberikan uang kepada anggota Komisi II DPR.

Dalam kesaksiannya di sidang ke-17 kasus e-KTP di Pengadilan Tipikor Jakarta, Senin (29/05), Andi juga mengaku tidak pernah mengatur pembagian uang dengan politisi Partai Golkar Setya Novanto, serta politisi Partai Demokrat Anas Urbaningrum dan Nazarudin, seperti dilaporkan wartawan BBC Indonesia, Pijar Anugerah.

Sebelumnya, menurut surat dakwaan KPK, Andi dituduh telah memberikan fee kepada sejumlah anggota Komisi II DPR dalam kurun September-Oktober 2010 untuk memperlancar pembahasan anggaran e-KTP di DPR.

Dalam surat dakwaan, Andi juga disebutkan mengatur pembagian jatah dengan Setya Novanto, Anas Urbaningrum, dan Nazarudin.

Berdasarkan kesepakatan yang mereka buat, Komisi II DPR mendapat jatah 5% dari total anggaran, setara Rp261 miliar. Sedangkan Andi dan Setya disebutkan mendapat 11% dari total proyek Rp5,9 triliun, yakni Rp574,2 miliar.

Akan tetapi di persidangan, Andi mengatakan kepada Jaksa Penuntut Umum (JPU) bahwa dirinya hanya memberikan uang kepada terdakwa Irman sebesar US$1,5 juta secara bertahap dari Februari hingga April 2011.

Andi mengaku memberikan uang tersebut karena diminta Irman, dan ia setuju karena berharap mendapatkan pekerjaan setelah lelang selesai.

Hak atas foto BBC Indonesia
Image caption Selain Andi, ada lima saksi lain yang dijadwalkan memberi keterangan dalam sidang e-KTP, Senin (29/05) termasuk Direktur Jenderal Kependudukan dan Catatan Sipil Kemendagri Zudan Arif Fakrulloh.

Hingga saat ini, uang yang diberikan kepada Irman itu belum kembali, kata Andi.

"Saya sadar kalau itu salah. Dan saya menyesal," jawab Andi ketika ditanya jaksa.

Selain kepada Irman dan Sugiharto, yang menjadi perantara Irman, Andi berkata tidak pernah memberi uang kepada siapapun.

Kesaksian ini bertentangan dengan penjelasan jaksa sebelumnya dalam dakwaan, yang menyebutkan bahwa Andi pernah dua kali memberikan uang kepada Sekjen Kemendagri Diah Anggraini, masing-masing USD1 juta, pada sekitar Desember 2010.

Uang tersebut, kata jaksa, terkait dengan mulusnya persetujuan anggaran e-KTP di DPR dan surat izin proyek dari Kemenkeu.

Andi juga mengatakan bahwa dirinya baru bertemu dengan politisi Partai Golkar Setya Novanto dua kali, membicarakan soal urusan atribut partai. Berlawanan dengan kesaksian sebelumnya, ia membantah pernah ikut makan siang bersama di kantor fraksi Golkar, lantai 12 Gedung DPR.

Ia juga mengaku tidak kenal dengan politisi Partai Demokrat Anas Urbaningrum dan Nazarudin.

"Tidak pernah," jawab Andi ketika ditanya jaksa apakah ia pernah bertemu dengan mereka.

Topik terkait

Berita terkait