Satu kasus perdagangan manusia, 15 orang divonis penjara di NTT

buruh Hak atas foto AFP / Getty
Image caption Wahyu Susilo dari Migrant Care mengatakan bahwa selama ini kebanyakan kasus perdagangan manusia di NTT hanya berhenti di pemeriksaan polisi dan tidak berlanjut di persidangan.

Setelah minggu lalu Pengadilan Negeri Kupang di Nusa Tenggara Timur (NTT) memvonis penjara tujuh pelaku perdagangan manusia yang menyebabkan kematian TKI di Malaysia, Yufrinda Selan, minggu ini, pengadilan kembali menjatuhkan vonis penjara bagi delapan tersangka lainnya.

Yufrinda Selan, meninggal pada 2015 di Malaysia dengan organ tubuh yang diperkirakan diambil untuk kemudian dijual.

Jenazah Yufrinda Selan, 19 tahun, dipulangkan pada 14 Juli 2016 lalu setelah hampir setahun merantau ke Malaysia. Di dalam peti mati, di tubuh Yufrinda terdapat sayatan berbentuk aksara 'Y,' sementara otak dan lidahnya ditempatkan bersama isi perut.

Polisi menetapkan 16 tersangka dalam kasus pengiriman TKI ilegal Yufrinda Selan, namun hanya 15 tersangka yang divonis penjara.

Vonis dijatuhkan dalam dua persidangan terpisah: delapan tersangka divonis pada Selasa (30/05) dan tujuh lainnya divonis minggu sebelumnya pada Rabu (24/05) lalu.

Di antara delapan orang yang divonis Selasa (30/05) adalah Diana Aman yang dihukum sembilan tahun penjara dari tuntutan 10 tahun. Diana adalah orang yang mengirim Yufrinda Selan ke Malaysia.

Humas PN Kupang Jimi Kusuma berkata bahwa "JPU tidak bisa menghadirkan terdakwa dan posisinya tidak diketahui ada di mana".

Sebelumnya, status Diana dialihkan menjadi tahanan kota karena depresi, namun karena tidak muncul dalam pengadilan, banyak yang menduga Diana sudah kabur.

Yusak dan Rahmawati, anak buah Diana Aman yang menjemput Yufrinda di Surabaya, masing-masing dijatuhi hukuman tujuh dan enam tahun penjara.

Yasmin, yang membawa Yufrinda dari kampungnya ke rumah penampungan calon TKI milik Martha Kaligula dan Tony Poh, orang yang mengurus dokumen Yufrinda, serta Steven masing-masing dijatuhi hukuman tujuh tahun penjara.

Komanudin, anggota jarigan di Medan dan Sella, anggota jaringan di Surabaya masing-masing divonis enam tahun penjara.

Kedelapan tersangka juga didenda sebesar masing-masing Rp120 juta. Apabila mereka tidak dapat membayar denda maka dapat diganti pidana kurungan tiga bulan.

Selain denda, mereka juga harus membayar restitusi atau ganti rugi kepada korban atau ahli waris korban jika meninggal.

"Kalau restitusi itu tidak dibayar, jaksa akan melelang harta (terdakwa) untuk membayar restitusi", seperti dijelaskan Jimi kepada wartawan BBC Indonesia Mehulika Sitepu.

Restitusi yang ditetapkan pengadilan berkisar Rp1 juta hingga Rp2 juta kepada setiap terdakwa, kecuali Diana Aman yang harus membayar Rp25 juta.Seorang tersangka lain, Benediktus dinyatakan bebas karena tidak terbukti terlibat dalam persengkongkolan perdagangan manusia.

Hak atas foto Febriana Firdaus
Image caption Ratusan orang berkumpul di depan kantor Gubernur Provinsi Nusa Tenggara Timur di Kupang, pada pertengahan November tahun lalu guna mengenang para TKI yang telah meninggal dunia.

Ketujuh tersangka yang divonis pada Rabu (24/05) di antaranya Moses Bani, mantan pegawai Kantor Imigrasi di Kupang, dihukum empat tahun penjara, lebih rendah dari delapan tahun tuntutan jaksa.

Eduard Leneng, bos untuk jaringan Kupang, divonis lima tahun penjara.

Marce Tefa, pengurus penampungan di Pekanbaru, serta Martha Kaligula anggota jaringan Kupang, masing-masing mendapat hukuman lima tahun penjara.

Sopir Eduard Leneng, Niko Lake serta Martil Dawat yang bertugas mengurus paspor dan seluruh dokumen TKI, masing-masing mendapat hukuman tiga tahun penjara.

Terpidana lain, Putri Novita, kepala cabang agen rekrutmen di Kupang, dipenjara tiga setengah tahun.

Meski hukuman yang dijatuhkan di bawah tuntutan jaksa, Wahyu Susilo dari Migrant Care mengatakan bahwa hal itu dapat dianggap sebagai "momentum bagi penegakan hukum".

Topik terkait

Berita terkait