Copot Kapolres Solok, Kapolri ‘tindak tegas polisi yang tidak beri perlindungan’

tito Hak atas foto AFP/Getty
Image caption Kapolri Jenderal Tito Karnavian mengatakan dirinya bakal mengganti atau memutasi bawahannya jika tidak bertindak tegas menangani kasus persekusi, seperti yang terjadi di Solok.

Kapolri Jenderal Tito Karnavian mencopot Ajun Komisaris Besar Susmelawati Rosya dari jabatannya sebagai Kepala Kepolisian Resor Solok, Sumatera Barat, terkait kasus persekusi yang menimpa dokter Fiera Lovita.

Menurut Asisten Sumber Daya Manusia (As SDM) Mabes Polri, Irjen Pol Arief Sulistyanto, Ajun Komisaris Besar Susmelawati Rosya dicopot 'karena tidak tegas dalam penanganan tindakan liar ormas yg melakukan persekusi'.

"Ini merupakan tindakan tegas Pimpinan Polri terhadap Kepala Satuan Wilayah yang tidak berani melakukan tegas terhadap kejahatan persekusi yang dilakukan oleh ormas secara liar. Kapolri telah menginstruksikan kepada semua Kasatwil untuk memberikan perlindungan dan pengayoman seluruh warga masyarakat dari berbagai bentuk tindakan main hakim sendiri," sebut Arief kepada BBC Indonesia melalui telepon.

Menurut Arief, jabatan kapolres Solok selanjutnya akan diserahkan kepada Kepala Unit II Subdirektorat IV Direktorat Tindak Pidana Narkotika Bareskrim Polri AKBP Dony Setiawan.

Sehari sebelum pencopotan Susmelawati, Tito mengatakan dirinya bakal mengganti atau memutasi bawahannya jika tidak bertindak tegas menangani kasus persekusi, seperti yang terjadi di Solok.

"Bagi polisi yang tidak berani, polisi yang tidak memberikan perlindungan, kami kasih tindakan dengan tegas. Saya tidak akan segan-segan untuk mencari dan mengganti orang yang lebih tegas," ujar Tito pada Jumat (02/06).

Kepada Kapolda Sumatera Barat, Tito mengatakan telah beberapa kali menegur agar melindungi warga dari tindakan main hakim sendiri.

Hak atas foto AFP/JUNI KRISWANTO
Image caption Fiera Lovita mengaku didatangi sekelompok orang yang mengaku anggota FPI setelah dirinya mengunggah status Facebook.

Fiera Lovita adalah dokter umum di Rumah sakit daerah (RSUD) Kota Solok, Sumatera Barat. Dia mendapat ancaman setelah mengunggah status di laman Facebooknya yang isinya mengherankan sikap pimpinan Front Pembela Islam, FPI, Rizieq Shihab, dalam kasus dugaan pelanggaran Undang-undang Pornografi.

Akibat pernyataannya, perempuan berusia 40 tahun ini mengaku telah didatangi sekelompok orang yang mengaku anggota FPI dan meminta dirinya mencabut status tersebut dan meminta maaf.

"Saya nggak aman di sini (Kota Solok, Sumatra Barat), saya dianggap menista ulama," kata Fiera Lovita kepada BBC Indonesia pada 27 Mei lalu.

Damar Juniarto, Koordinator regional Southeast Asia Freedom of Expression Network (SafeNet), mencatat terdapat 59 orang yang ditarget persekusi. Mereka tersebar merata di Indonesia dan berdasarkan pemetaan, paling besar di Jawa Barat.

"Persekusi ditargetkan pada orang-orang melakukan postingan di media sosial isinya yang menurut pelaku persekusi yang diduga menurut mereka menghina agama dan ulama," kata Damar.

Topik terkait

Berita terkait