Milisi Indonesia 'masuk ke Filipina selatan lewat Pulau Sebatik'

MNLF Hak atas foto AFP
Image caption Pasukan Front Pembebasan Nasional Moro (MNLF) dalam sebuah patroli di Filipina Selatan, 29 Juli 2016.

Sejak tahun 1990an, Pulau Sebatik - yang terletak di wilayah perbatasan Indonesia-Malaysia di Kalimantan Utara - merupakan 'jalur tikus' bagi warga Indonesia yang akan bergabung dengan kelompok milisi bersenjata di Filipina Selatan.

Mantan anggota Front Pembebasan Islam Moro (MILF) Filipina, Ali Fauzi, mengatakan, Pulau Sebatik digunakan sebagai pintu masuk ke Filipina Selatan karena penjagaan perbatasannya "tidak begitu kuat".

"Dari (Pulau) Sebatik kemudian dengan sangat mudah bisa masuk ke Tawau (Malaysia). Dari Tawau nanti tinggal memilih mau menyeberang ke Filipina, di daerah mana," kata Ali Fauzi kepada BBC Indonesia, Kamis (08/06) siang.

Ali Fauzi adalah adik kandung terpidana bom Bali, Amrozi, dan terpidana seumur hidup, Ali Imron. Saat bergabung dengan organisasi teroris, Jamaah Islamiyah (JI), Ali dikenal ahli merakit bom.

Dia juga pernah mendirikan kamp pelatihan militer MILF di Mindanao, Filipina, bersama Abdul Matin dan Umar Patek pada 2002. Dia ditangkap polisi Filipina dan kemudian dipulangkan ke Indonesia pada 2006.

Hak atas foto ADEK BERRY/AFP
Image caption Ali Fauzi mendirikan kamp pelatihan militer MILF di Mindanao, Filipina, bersama Abdul Matin dan Umar Patek pada 2002. Dia ditangkap polisi Filipina dan kemudian dipulangkan ke Indonesia pada 2006.

Fauzi, yang kini tinggal di Lamongan, Jawa Timur, mengaku dirinya dan rekan-rekannya "sangat mudah" keluar-masuk dari wilayah perbatasan Indonesia, Malaysia dan Filipina. "Kita tahu border (perbatasan) tiga negara itu tidak begitu ketat."

Menurutnya, salah-satu wilayah perbatasan Indonesia-Malaysia yang sering dijadikan sebagai "pintu" keluar-masuk ke Filipina adalah Pulau Sebatik. "Itu jalur tikus," ungkapnya.

Pulau berukuran kecil ini terbagi menjadi dua, yaitu wilayah selatan masuk Provinsi Kalimantan Utara, dan wilayah utara merupakan bagian Negara Bagian Sabah, Malaysia.

Dari pulau itulah, mereka kemudian menyeberang ke Kota Tawau, Malaysia, sebelum menentukan perjalanan melalui laut ke wilayah yang dituju di Filipina Selatan. "Nanti tinggal kita pakai perahu kecil, langsung bisa sampai di wilayah Filipina Selatan," kata Ali Fauzi.

Adapun jalur untuk menyelundupkan senjata atau material lain ke Filipina Selatan, sambungnya, pihaknya menggunakan jalur utara yang dianggap "lebih aman". "Jalur itu adalah ada di Sulawesi Utara, karena di sana banyak pulau-pulau."

Anggota Jamaah Ansharud Daulah (JAD)?

Ali Fauzi menduga jalur penyusupan ini masih digunakan oleh puluhan warga Indonesia yang bergabung dengan milisi Maute dan kemudian terlibat dalam penyerangan Kota Marawi, Filipina.

Hak atas foto David Greedy/AFP
Image caption Anggota kelompok bersenjata Moro Islamic Liberation Front (MILF) di Filipina Selatan, 28 Maret 2004.

Dia juga tidak terlalu kaget ketika Badan Nasional Penanggulangan Terorisme (BNPT) mengungkap sebagian besar WNI yang bergabung dengan milis Maute dan terlibat penyerangan Kota Marawi adalah anggota Jamaah Anshar Daulah.

Sebelumnya, Kepala BNPT Suhardi Alius, mengatakan JAD memiliki kesamaan paham dan tujuan dengan kelompok radikal di Filipina Selatan, yaitu mendirikan dan berbaiat kepada Negara Islam Irak dan Suriah (ISIS).

"Yang kami monitor memang dari kelompok itu (JAD)," kata Suhardi Alius kepada Tempo, Rabu (07/06).

Peta kelompok militan Filipina berubah

Menurut Ali Fauzi, hubungan JAD dengan kelompok milisi Maute tidak terlepas dari faktor sejarah. "Karena kalau kita kaji secara historis, kelompok perlawanan di Filipina ada ikatan, bukan hanya emsoional, tapi ikatan jaringan, memang melibatkan orang-orang Filipina dan Indonesia," ungkapnya.

Sejak tahun 1990an, tidak sedikit warga Indonesia yang bergabung dengan kelompok-kelompok perlawanan di Filipina selatan. "Ada kelompok Jamaah islamiyah, ada kelompok Negara Islam Indonesia, dan kelompok-kelompok sempalan lainnya," kata Ali Fauzi.

Hak atas foto AFP
Image caption Tentara Filipina tengah mengevakuasi warga di Marawi pada 31 Mei 2017 lalu.

Namun demikian, pemetaan kelompok-kelompok militan di Filipina selatan mulai berubah sejak 2014 seiring dengan kemunculan kelompok ISIS global.

Hal ini kemudian ditindaklanjuti dengan kelompok-kelompok militan di Indonesia yang berbaiat kepada ISIS, jelasnya.

"Tentu jalinan-jalinan seperti ini mereka terus rawat, yaitu jalinan antara ISIS Suriah, dan kemudian jaringan ISIS Indonesia-Filipina, juga mereka rawat," katanya lebih lanjut.

Penangkapan satu WNI

Sementara itu, Kepolisian Indonesia juga merilis penangkapan seorang berinisial RS, Selasa (06/06) di Desa Kepek, Kecamatan Wonosari, Kabupaten Gunung Kidul, karena diduga terlibat pemberangkatan para WNI ke Turki, Suriah dan Filipina Selatan.

Diduga RS terlibat pemberangkatan, antara lain, empat orang WNI yang ditetapkan sebagai daftar pencarian orang (DPO) oleh otoritas Filipina. Mereka adalah YO, AS, Y, dan AKY.

"Dia juga diduga melakukan pengiriman uang ke Filipina Selatan sekitar Februari 2017," kata Kepala Bagian Penerangan Umum Divisi Humas Mabes Polri, Komisaris Besar Martinus Sitompul, dalam keterangan tertulis, Rabu (07/06).

Topik terkait

Berita terkait