Sabah dan Miangas 'jadi jalur masuk' milisi WNI ke Marawi

Asap membumbung dari lokasi pengeboman oleh Angkatan Udara Filipina di Marawi, Filipina. Hak atas foto NOEL CELIS/AFP/Getty Images
Image caption Asap membumbung dari lokasi pengeboman oleh Angkatan Udara Filipina di Marawi, Filipina.

Badan Nasional Penanggulangan Terorisme atau BNPT meyakini bahwa Jamaah Ansharut Daulah (JAD) adalah kelompok yang memberangkatkan WNI untuk berperang di Marawi, Filipina selatan.

Keterlibatan kelompok Jamaah Ansharut Daulah dalam mengirimkan WNI ke Marawi, Filipina, tak lepas dari sosok Bahrun Naim, yang disebut otak bom Sarinah, dan merupakan bagian dari kelompok Katibah Nusantara.

Oleh BNPT, Bahrun Naim disebut-sebut sering menyebarkan doktrin-doktrin dari pemimpin ISIS, Abu Bakar al Baghdadi, pada sel-sel JAD di Indonesia, termasuk doktrin untuk melakukan perlawanan.

"Katibah Nusantara melalui forum chatting memberikan perintah pada sel-sel yang sudah berbaiat dengan ISIS. Kita ketahui bahwa JAD itu sudah berbaiat dengan ISIS," kata Hamidin.

Dia juga menambahkan bahwa Filipina sudah ditetapkan sebagai salah satu walayat atau provinsi ISIS oleh pemimpin ISIS Abu Bakar al Baghdadi melalui surat kabar ISIS.

"Di situ sudah ada DPR-nya, sudah ada batalion-batalion tempurnya, sehingga ini menjadi magnet bagi gerakan-gerakan JAD," ujar Hamidin.

Hamidin memperkirakan bahwa kemungkinan WNI yang berada di Marawi, Filipina, untuk berperang akan melalui jalur Sabah, Malaysia atau jalur laut melalui Miangas, Sulawesi Utara.

Meski begitu, dari Sabah, Hamidin belum bisa memperkirakan bagaimana para WNI tersebut bisa sampai ke Marawi.

"Kalau dari bandara, tentu akan sulit karena pengawasan, yang dimungkinkan dari Indonesia itu melalui jalur tradisional, jalur laut, melalui Miangas. Tetapi mereka sadar bahwa meski dekat wilayahnya, tapi sulit dilakukan karena tidak ada supporting dari masyarakat sekitarnya, karena kebanyakan masyarakat di sana beragama Kristen dan Katolik. Teroris itu akan memilih jalur-jalur yang paling mudah, itu jalur-jalur yang satu akidah," ujarnya.

Penggunaan jalur-jalur tikus oleh milisi Indonesia ke Filipina juga dibenarkan oleh mantan anggota Front Pembebasan Islam Moro (MILF) Filipina, Ali Fauzi, yang pernah mendirikan kamp pelatihan militer di Mindanao.

Hak atas foto TED ALJIBE/AFP/Getty Images
Image caption Menteri Pertahanan Ryamizard Ryacudu mengatakan di Malaysia beberapa waktu lalu bahwa ada sampai 40 WNI yang terlibat pertikaian Marawi.

Lalu dengan kemungkinan terbukanya jalur yang dilalui kelompok milisi tersebut dari Filipina ke Indonesia, apakah akan berdampak pada munculnya gerakan serupa di Indonesia? Ali Fauzi meragukannya.

"Dalam pengamatan saya, mereka belum punya kemampuan untuk melakukan aksi yang sama seperti di Marawi. Di Filipina, peredaran senjata di sana cukup banyak, peluru juga, bom juga demikian, sementara di Indonesia, polisi, TNI, sudah cukup baik meredam peredaran senjata. Di Indonesia juga belum didukung skill gerilya seperti halnya di Filipina," kata Ali.

Bagi pengamat terorisme Universitas Indonesia, Ridwan Habib, kembalinya WNI yang habis berjuang dari Marawi ke tanah air tetap harus diwaspadai, karena dia meyakini mereka akan berpengaruh terhadap jaringan radikal di dalam negeri.

Namun Ridwan menyoroti masih lemahnya proses deradikalisasi yang terjadi pada WNI yang kembali dari daerah konflik ISIS seperti Suriah, dan nantinya dari Filipina.

"Kalau kemudian mereka menduplikasi kemampuan merakit senjata, merakit bom, maka itu akan membahayakan Indonesia. Problem besarnya ada pada kebijakan Indonesia yang belum satu pintu dan satu suara, belum ada road map (peta jalan), petunjuk jelas bagi penegak hukum, baik itu Bea Cukai, Imigrasi, Densus 88, polisi, penjaga perbatasan, dan seterusnya," kata Ridwan.

"Misalnya dalam kasus deportasi, tertangkap di Turki kemudian dipulangkan, sampai ke Indonesia, bingung, siapa yang harus melakukan rehabilitasinya. Akibatnya ya sekadar formalitas.

"Di satu penampungan Kementerian Sosial, diberi makan di situ, aktivitas membuat ini, itu, lalu dipulangkan kembali, lalu mereka keluar dari situ, ya membangun jaringan kembali," ujarnya lagi.

Kepolisian Filipina sudah merilis nama tujuh milisi asal Indonesia yang diyakini ikut dalam perang di Marawi, sementara itu Menteri Pertahanan Ryamizard Ryacudu mengatakan di Malaysia beberapa waktu lalu bahwa terdapat 40 WNI yang terlibat pertikaian Marawi.

Topik terkait

Berita terkait