Masjid Istiqlal tak beri izin, penyelenggara tetap gelar 'aksi bela ulama'

istiqlal Hak atas foto ROMEO GACAD/AFP
Image caption Masjid Istiqlal, Jakarta, dipadati ribuan orang umat Islam yang tengah mengikuti ibadah di bulan Ramadhan, 28 Juni 2014.

Penyelenggara aksi bela ulama tetap akan menggelar acara di dalam Masjid Istiqlal, Jakarta, Jumat (09/06), walaupun pihak pengelola masjid tidak memberi izin penggunaan masjid untuk acara tersebut.

Pengelola Masjid Istiqlal telah menyatakan tidak memberikan izin acara aksi bela ulama, karena akan ada acara selepas salat Jumat, demikian kepala bagian protokol Masjid Istiqlal, Abu Hurairah, kepada media, Jumat (09/06).

Adapun Imam besar Masjid Istiqlal, Nazarudin Umar mengatakan, walaupun masjid Istiqlal dilarang untuk kegiatan politik, pihaknya tidak bisa melarang apabila ada orang-orang yang datang untuk salat Jumat.

"Dari dulu tidak boleh masjid itu (untuk kegiatan) politik. Juga masjid Istiqlal. Tapi melarang orang salat Jumat 'kan juga tidak boleh," kata Nazarudin kepada wartawan BBC Indonesia, Heyder Affan, Jumat pagi.

Meskipun demikian, Nazarudin menegaskan, orang-orang yang hendak salat Jumat itu "tidak boleh ada spanduk".

"Tetapi kalau mau melakukan orasi-orasi segala macam layaknya mau demo, itu bukan di masjid tempatnya. Apalagi masjid (Istiqlal milik) negara," tegasnya.

Hak atas foto BBC Indonesia
Image caption Aksi 5 Mei 2017 dimulai dari Masjid Istiqlal menuntut agar Gubernur DKI Jakarta, Basuki Tjahaja Purnama diputus bersalah dalam kasus dugaan penistaan agama.

Dihubungi terpisah, penyelenggara acara aksi bela ulama menyatakan pihaknya akan tetap menggelar acara di dalam masjid Istiqlal.

"Tetap digelar, kita sudah berkumpul di Istiqlal," kata Sekjen Presidium Alumni 212, Hasrun Harahap kepada BBC Indonesia, Jumat (09/06) pagi.

Aksi bela ulama, demikian mereka menyebutnya, digerakkan oleh orang-orang yang menyebut dirinya sebagai alumni aksi 212 sebagai protes terhadap apa yang disebut sebagai praktik kriminalisasi terhadap ulama dan aktivis Islam.

Mereka merujuk kepada sejumlah kasus belakangan, mulai pemberian status tersangka pimpinan FPI Rizieq Shihab, penangkapan Sekjen Forum Umat Islam (FUI) Muhammad Al-Khathath, hingga penyebutan nama politikus Amien Rais dalam sidang kasus dugaan korupsi.

"Ini kriminalisasi yang sistematik," ungkap Hasrun.

Hak atas foto AFP
Image caption Imam besar Masjid Istiqlal, Nazarudin Umar (kanan) saat menerima kunjungan Wapres AS Mike Pence, 20 April 2017. "Dari dulu tidak boleh masjid itu (untuk kegiatan) politik. Juga masjid Istiqlal," kata Nazarudin.

Adapun aksi 212 adalah sebutan terhadap aksi massa yang dimotori Front Pembela Islam (FPI) dan sejumlah ormas Islam pada 2 Desember 2016, menuntut agar Gubernur DKI Jakarta, Basuki Tjahaja Purnama, dipenjara.

Walaupun telah dilarang untuk melakukan orasi di dalam masjid Istiqlal, Hasrun mengatakan pihaknya tetap melakukan koordinasi dengan pihak pengelola Masjid Istiqlal agar diizinkan berorasi di dalam masjid.

"Tapi kami sudah meminta kepada pimpinan ormas yang ikut aksi agar orasi agama, bukan politik," kata Hasrun seraya menjelaskan, acara ini juga akan diisi ceramah agama hingga usai salat Tarawih pada Jumat malam.

Hak atas foto Elshinta
Image caption Acara aksi bela ulama ini sebelumnya telah dilarang oleh Kapolda Metro Jaya, Irjen Mochamad Iriawan. Pada Kamis (08/06), Iriawan mengatakan: "Iya (kami larang), untuk apa?"

Acara aksi bela ulama ini sebelumnya telah dilarang oleh Kapolda Metro Jaya, Irjen Mochamad Iriawan. Pada Kamis (08/06), Iriawan mengatakan: "Iya (kami larang), untuk apa?"

"Tadarusan saja, doa-doa saja semoga situasi tertib, pangan banyak, rakyat juga sejahtera. Itu saja doakan," paparnya lebih lanjut.

Topik terkait

Berita terkait