WNI di Raqqa: KBRI Baghdad berkoordinasi dengan intelijen

Raqqa Hak atas foto AFP
Image caption Banyak keluarga pendatang ingin meninggalkan Raqqa sejak 10 bulan lalu karena kecewa dengan ISIS.

Kedutaan Besar RI Baghdad sudah berkoordinasi dengan aparat penegak hukum dan intelijen di Irak untuk proses serah terima 16 WNI yang ada di Raqqa.

Namun, Direktur Perlindungan Warga Negara Indonesia dan Badan Hukum Indonesia di Kementerian Luar Negeri, Lalu Muhammad Iqbal, mengatakan bahwa hingga saat ini mereka belum mendapat konfirmasi mengenai keberadaan para WNI serta waktu dan tempat serah terima kepada KBRI.

"Secepat mungkin akan diserahterimakan ke KBRI", kata Iqbal.

Menurut Iqbal, para WNI akan dimasukkan ke KBRI terlebih dahulu sebelum diterbangkan kembali ke Indonesia.

Saat tiba di Indonesia, rencananya, para WNI tersebut akan diserahkan ke Polri "untuk dilakukan screening lebih jauh dan didesain seberapa besar penanganan yang diperlukan oleh Polri".

"Kita sudah punya SOP dengan Densus 88, dengan Polri, bahwa semua orang yang dipulangkan karena terindikasi--meskipun dia belum bergabung--begitu dia tiba di tanah air langsung kita serah terimakan ke Polri. Apalagi ini sudah pernah masuk dan bergabung di ISIS," papar Iqbal.

Sebanyak 16 WNI saat ini diketahui berada di kamp pengungsi di Ain Issa, sekitar 50 kilometer di utara Raqqa.

Mereka pindah ke Raqqa dengan harapan bisa hidup layak di bawah naungan Daulah Islamiyah alias ISIS.

Orang-orang ini hampir semuanya kecewa dengan apa yang mereka lihat di Raqqa, yang sangat berbeda dengan 'gambaran indah' yang banyak diunggah ke internet.

Hak atas foto Kantor berita ANHA
Image caption Beberapa WNI yang tiba di kamp Ain Issa setelah meninggalkan Raqqa.

Nur, seorang perempuan berusia 19 tahun, kabur dari Raqqa setelah dikejar-kejar milisi ISIS yang ingin menjadikannya sebagai istri.

"Yang mereka bicarakan hanya soal perempuan," kata Nur.

Adapun Leefa, perempuan WNI berusia 38 tahun, keluar dari Raqqa karena janji ISIS untuk menyediakan layanan kesehatan gratis sama sekali bohong.

Pemerintah Indonesia mengatakan sekitar 500-600 WNI ada di Suriah saat ini. Sekitar 500 orang lagi mencoba masuk, tapi dideportasi sebelum tiba di kawasan yang dikuasai ISIS.

Berita terkait