Sinta Nuriyah, 17 tahun merawat kebhinekaan dengan sahur keliling

Media playback tidak ada di perangkat Anda
Sinta Nuriyah dan 17 tahun memupuk toleransi

Sinta Nuriyah, istri mendiang Abdurahman Wahid atau Gus Dur, selama 17 tahun ini berkeliling ke berbagai daerah di Indonesia untuk melakukan sahur keliling, dengan melibatkan komunitas lintas agama dan kalangan masyarakat bawah.

Sedikitnya 200 orang duduk di sebuah ruangan di hotel Cirebon, di antara mereka tampak anak-anak sekolah dan juga warga yang berasal dari latar belakang etnis dan agama yang berbeda. Mereka menunggu kehadiran Sinta Nuriyah dalam acara buka puasa bersama pada awal Juli lalu.

Sekitar pukul 17:00 sore, Sinta memasuki ruangan dengan kursi rodanya dengan dibantu beberapa ajudan menuju panggung. Senyum terus mengembang meski kelelahan tampak jelas di wajahnya.

Tak lama setelah kehadiran Sinta, para peserta menyanyikan lagu Indonesia Raya.

Hak atas foto BBC INDONESIA

"Saya mulai mengajak mereka untuk melagukan Indonesia raya, agar mereka tumbuh semangat kebangsaan mereka, tumbuh kecintaan mereka kepada bangsa dan negara. Saya sampaikan itu tak keluar dari ajaran agama, karena hubbul wathon minal Iman, cinta tanah air itu sebagian dari iman, " jelas Sinta dalam wawancara dengan wartawan BBC Indonesia, Sri Lestari, di Jakarta, pertengahan Juni lalu.

Cinta tanah air artinya juga mencintai keberagaman di Indonesia, dan menurut Sinta sesuai dengan makna puasa.

"Apa sih ajaran puasa itu, pada ujungnya mempererat tali persaudaraan yang sejati diantara anak bangsa, kan ini sama paralel dengan situasi dan kondisi bangsa, kerukunan NKRI itu harus kita jaga, harus kita bina," lanjut Sinta.

Sebarkan toleransi

Sahur keliling mulai dijalani Sinta ketika suaminya Abdurahman Wahid alias Gus Dur masih menjadi Presiden keempat Indonesia pada tahun 2000 lalu. Ketika itu Sinta mengunjungi sejumlah kawasan yang menjadi 'tempat tinggal' warga miskin.

"Kita hanya bersilaturahmi menyapa mereka dengan baik , menanyakan bagaimana puasanya, dan apa yang menjadi kesulitan dalam kehidupannya.. kita banyak mendapatkan masukan, bagaimana kehidupan mereka, bagaimana mereka berjuang untuk mencari sesuap nasi," kata Sinta.

Hak atas foto BBC INDONESIA
Image caption Sinta Nuriyah berbuka puasa bersama di Cirebon.

Aspirasi warga miskin yang didapat saat Sahur Keliling menurut Sinta dijadikan masukan untuk membuat kebijakan yang berdampak pada mereka. Sahur Keliling ini terus dilakukan Sinta, meski Gus Dur tak lagi menjadi presiden sejak 2001.

Tetapi selama 10 tahun terakhir, Sinta lebih menekankan masalah toleransi dalam setiap ceramahnya.

"Intoleransi kian menguat, kerukunan itu digoyang-goyang, negara dan bangsa itu selalu diteror dan sebagainya, saya merasa bahwa kebhinekaan itu harus diperkuat," jelas Sinta.

Hak atas foto Komisi Keadilan dan Perdamaian Keuskupan Bandung

Beberapa tahun terakhir ini, keberagaman dan toleransi di Indonesia menjadi sorotan karena diskriminasi terhadap minoritas seperti penutupan masjid dan gereja di sejumlah daerah.

Juga ada kasus penodaan agama oleh Mantan Gubernur Jakarta, Basuki Tjahaya Purnama atau Ahok yang kemudian mendorong kelompok Gerakan Nasional Pengawal Fatwa MUI menggelar rangkaian demonstrasi yang menuntut Ahok dihukum, bersamaan dengan masa Pilkada Jakarta. Ahok kemudian dihukum dua tahun penjara.

Dalam penelitian Lembaga Survei Indonesia menunjukkan dalam pilkada Jakarta kembali muncul pembelahan politik yang belum hilang saat pemilihan presiden 2014 lalu.

Kondisi sosial dan politik itu menimbulkan kekhawatiran dalam diri Sinta.

"Melihat yang kemarin itu ya 214, 212 saya rasanya sampai nangis hati saya, " kata Sinta.

"Apalagi bapak menjelang wafatnya kan selalu yang dikhawatirkan adalah perpecahan bangsa ini, jadi itu yang membuat hati saya itu seperti dicambuk, anak bangsa ini harus diselamatkan, negara ini harus diselamatkan".

Hak atas foto AFP/GOH CHAI HIN
Image caption Unjuk rasa 4 November di Jakarta di ikuti ratusan ribu orang pada terkait dugaan penistaan agama dengan tersangka Basuki Tjahaja Purnama.

Keuskupan Bandung panitia sahur keliling

Cirebon, hanya merupakan salah satu kota yang dikunjunginya dalam acara sahur keliling selama bulan Ramadan, dan sudah dijalaninya selama 17 tahun. Tahun ini, Sinta berkeliling ke kota-kota di Pulau Jawa, serta Jambi di Sumatra dan Banjarmasin, Kalimantan Selatan.

Tjiong Tjwan Liem salah salah seorang panitia mengatakan permintaan untuk menggelar acara ini meningkat dari tahun ke tahun.

"Banyak permintaan dari daerah untuk menggelar sahur keliling, tak semua kota bisa dikunjungi, akhirnya yang jaraknya berdekatan disatukan di satu wilayah," kata dia.

Tahun ini merupakan yang keempat kalinya Sinta menggelar sahur keliling di Cirebon, Ketua Panitia penyelenggaraan acara bersama Sinta Nuriyah di Cirebon Yohanes Muryadi mengatakan setiap tahun acara ini melibatkan anak-anak muda agar ikut dalam menyebarkan sikap toleran.

"Kelompok radikal mempengaruhi kaum muda, di mana-mana meningkat terus, ini yang perlu kita waspadai, kita gunakan agama untuk rukun, toleransi itu penting sekali," jelas Yohanes.

Setelah buka puasa bersama di Cirebon, Sinta menggelar sahur keliling di Indramayu. Dini harinya, dia bersama rombongan harus menempuh perjalanan selama lebih dari satu jam dari Kota Cirebon dengan kondisi jalan yang tak selalu mulus.

Sampai di sebuah Masjid di Desa Totoran Kecamatan Pasekan, Sinta Nuriyah masih tampak bersemangat memberikan ceramah dalam acara sahur keliling bersama dengan warga nelayan dan eks buruh migran di Indramayu pada awal Juni lalu.

Hak atas foto Komisi Keadilan dan Perdamaian Keuskupan Bandung
Image caption Romo Rudianto menyamaipaikan sambutan dalam Sahur Keliling di sebuah masjid di Indramayu.

Di Indramayu, yang menjadi panitia Sahur Keliling adalah keuskupan Bandung yang sudah terlibat dalam aktivitas ini sejak 17 tahun lalu.

"Misi acara sahur keliling ini sesuai dengan ajaran Katolik juga, memperhatikan kaum lemah merupakan visi misi universal, apalagi dengan situasi yang sekarang Sahur Keliling merupakan pengejawantahan dari Pancasila," kata Romo Rudianto, perwakilan dari Keuskupan Bandung.

Sejak awal Sinta memang melibatkan kelompok agama minoritas dalam Sahur Keliling, dan kerap dilakukan di klenteng ataupun gereja. Ia pernah mendapatkan penolakan dari ormas Islam di Semarang dan Belitung.

"Berbuka di tempat seperti itu akan merontokkan akidah orang Islam katanya gitu, haduh kok murah banget ini orang Islam," kata Sinta heran.

"Akhirnya sesudah pidato, saya tanyakan bapak ibu sekalian siapa yang tidak pernah makan di restorannya orang Cina, tidak ada semuanya pernah, siapa yang tidak pernah membeli kue buatan Cina, engga ada, lha itu apa bedanya makan di sini dan di sana itu, ya sudah kalau tidak ada bedanya mengapa di pertanyakan, dipersoalkan jika tak ada bedanya," jelas Sinta.

Hak atas foto BBC INDONESIA

Meski begitu Sinta memilih pendekatan yang berbeda terhadap kelompok yang menentangnya.

"Cobalah kita dekati mereka dengan kasih sayang, selama ini mereka ditempa dengan kekerasan sampai akhirnya hatinya membeku, kalau kita dekati dengan kasih sayang sebagai manusia pasti hatinya tersentuh, ga mungkin manusia itu ga punya nurani," kata dia.

Sinta mengatakan pemahaman agama yang 'hanya pada kulit saja' membuat banyak orang mudah terprovokasi untuk menolak mereka yang berbeda dengan kelompoknya.

"Seperti yang kemarin itu, dengan memakai senjata agama mereka langsung patuh, itu yang mengkhawatirkan, kalau seperti ini bagaimana kita mempertahankan (bangsa) ini," kata Sinta.

Berita terkait