Buka puasa lintas agama, kelompok pemuda Cirebon jaga toleransi

cirebon Hak atas foto Pelita Perdamaian
Image caption Kaum muda dari berbagai latar belakang dan agama berkumpul di Gereja Kristen Perjanjian Baru Fajar Keagungan, Kota Cirebon, untuk berbuka puasa.

Puluhan anak muda dari berbagai latar belakang dan agama tampak duduk melingkar di sebuah ruangan di Gereja Kristen Perjanjian Baru Fajar Keagungan, Kota Cirebon, Jawa Barat, Senin (19/06).

Secara bergantian mereka menyampaikan makna dan tradisi yang dijalani umat Muslim di Cirebon.

Di ruangan sebelahnya, beberapa orang sibuk menyiapkan makanan untuk berbuka puasa. Menunya, sate ayam dan lontong, serta kolak. Buka puasa para pemuda lintas Iman ini merupakan salah satu kegiatan rutin yang digelar oleh kelompok Pelita Perdamaian yang terdiri dari berbagai agama.

Hansel Kristianto, siswa kelas 12 SMA Kristen Penabur Cirebon, mengatakan buka puasa bersama pemuda lintas agama ini penting untuk menjalin sikap saling memahami.

"Dimulai dari yang kecil dan diharapkan bisa lebih besar dan kita bisa saling menghormati antar agama, sehingga perseteruan agama itu bisa dihindari," kata dia.

Hansel mengatakan dalam forum seperti ini dapat diketahui tradisi puasa umat Buddha, Kristen, serta Islam.

Hak atas foto BBC Indonesia
Image caption Sate ayam dan lontong siap disajikan untuk berbuka puasa.

Buka puasa bersama pemuda lintas Iman ini hanya salah satu kegiatan yang dilakukan oleh Pelita Perdamaian di Cirebon, selain dialog antar Iman yang rutin digelar setiap bulan. Selama dua tahun terakhir, Pelita Perdamaian juga aktif melakukan kegiatan kunjungan ke tempat ibadah atau lembaga pendidikan agama seperti pesantren melalui kegiatan 'pesantren lintas Iman'.

"Jadi ada yang dari gereja itu tinggal di pesantren selama beberapa hari, ikut kegiatan belajar mengajar dan ngaji kitab kuning juga. Lalu dari Islam juga dikenalkan bagaimana ibadat umat Kristen di gereja," jelas Haryono, Wakil Ketua Pelita Perdamaian.

Hilangkan stereotipe

Haryono, mengatakan dialog yang diikuti oleh pemuda dari berbagai latar belakang agama itu bertujuan untuk menghilangkan stereotipe yang muncul karena tidak saling memahami.

"Kita menyediakan ruang setiap elemen masyarakat, komunitas keagamaan untuk bertemu. Pesertanya dari Katolik, Kristen, Buddha, Hindu, JAI atau Jemaat Ahmadiyah. Nggak formal kita ngobrol aja agar kita saling mengenal, dan tidak ada lagi prasangka terhadap golongan lain," jelas Haryono.

Selain itu, untuk menyebarkan sikap toleran antar umat beragama, Pelita juga mengadakan sekolah Cinta Perdamaian yang digelar bergantian di Cirebon dan wilayah sekitarnya.

Pelita yang sebagian anggotanya merupakan mahasiswa dari Fahmina Institute ini, aktif merangkul anak usia sekolah dalam aktivitas ini.

"Ya tujuannya bagaimana mengajak anak-anak ini bersikap toleran dan juga mencegah radikalisasi di kalangan anak sekolah yang makin meningkat belakangan ini," jelas Haryono.

Hak atas foto Pelita Perdamaian
Image caption Mencegah radikalisasi di kalangan kaum muda, memang merupakan salah satu tujuan dibentuknya Pelita Perdamaian.

Cegah radikalisasi

Mencegah radikalisasi di kalangan kaum muda, memang merupakan salah satu tujuan dibentuknya Pelita Perdamaian. Setelah peledakan bom di Mapolres Cirebon pada 2011 lalu, para tokoh lintas agama mengajak para pemuda untuk membentuk kelompok pemuda yang memiliki latar belakang agama berbeda.

"Kita dulu awalnya kan tidak saling kenal, tapi kemudian secara rutin mengobrol dan akhirnya membuat kegiatan rutin," kata Haryono.

Pada perayaan agama, seperti Natal, anak-anak muda dari Pelita juga membantu menghias pohon Natal di gereja.

Sebelum Pelita terbentuk di Cirebon, telah ada Forum Sabtuan, yang beranggotakan tokoh lintas agama. Forum Sabtuan rutin mengisi acara dialog lintas Iman di RRI Cirebon setiap bulan.

"Materinya secara umum bagaimana agama mengajarkan toleransi, bagaimana hidup rukun antar agama, tapi kita menekankan pada kerukunan atau toleransi ya bukan materi agamanya," jelas Yohanes Muryadi dari Forum Sabtuan, yang juga pengurus di Gereja Katolok Bunda Maria Cirebon.

Yohanes berharap dialog lintas Iman ini bisa menjadi salah satu upaya mengantisipasi penyebaran paham radikal di Indonesia.

Topik terkait

Berita terkait