Bom bisa dibuat seharga Rp850 ribu: Lebih 100 terduga teroris ditangkap

bom panci

Kepolisian Republik Indonesia mengungkapkan sepanjang 2017 ini telah menangkap lebih dari 100 terduga teroris di Indonesia.

Penangkapan dilakukan di berbagai penjuru tanah air: Medan, Jambi, Jakarta, Pandeglang, Bandung, Cianjur, Garut, Kendal, Temanggung, Malang, Surabaya, dan Bima.

Kepala Biro Penerangan Masyarakat Divisi Humas Polri, Brigjen Rikwanto menyatakan penangkapan gencar dilakukan sebulan terakhir, setelah terjadinya bom bunuh diri di Kampung Melayu, Rabu (24/05) malam.

"Kita melakukan ini sebagai pencegahan, agar nanti di Idul Fitri, tidak terjadi hal yang tidak diinginkan," ujar Rikwanto dalam jumpa pers di Mabes Polri, Kamis (22/06).

Sejak akhir Mei hingga Rabu (21/06), Detasemen Khusus 88 (Anti Teror), telah menangkap 46 orang di berbagai daerah. Sebanyak 14 di antaranya disebut terkait dengan ledakan di Kampung Melayu, Jakarta Timur.

Image caption Tersangka asal Bima, Kurniawan, disebut polisi berencana mengebom Mapolsek Wahom, pada 17 Juni 2017.

Penangkapan juga dilakukan terkait pencegahan sejumlah aksi teror. Di antaranya, kepolisian menangkap dua tersangka, Nasrul Hidayat dan Kurniawan di Bima, Nusa Tenggara Barat yang diduga "akan mengebom Mapolsek Wahom, Bima, pada 17 Juni 2017."

Selain itu, polisi juga menangkap Syafrizon, pada Rabu (07/06) di Serang, Banten, karena diduga akan meledakkan kantor kepolisian Banten "menggunakan bom yang dimasukkan dalam mobil."

Bom 'murah' Rp850 ribu

Dalam konferensi pers di Mabes Polri, Kamis (22/06), Polri juga memperlihatkan barang bukti kasus dua bom bunuh diri di Kampung Melayu.

Barang bukti berupa serpihan dua buah panci yang digunakan pelaku, mangkuk tempap meracik bahan bom, gotri atau bola timah, dan lain-lain.

Image caption Kadiv Humas Polri Irjen Setyo Wasisto memegang serpihan bom panci Kampung Melayu.

Kepala Divisi Humas Polri Irjen Setyo Wasisto mengungkapkan bagaimana penangkapan dan barang bukti yang dikumpulkan Polri memperlihatkan bahwa teroris belakangan ini tidak perlu dana besar untuk beraksi.

"(Panci) ini murah ini. Hanya Rp200.000. Total Rp850.000, sudah bisa buat bom. Logikanya kan ini murah," tutur Setyo, Kamis (22/06).

Image caption Setumpuk barang bukti bom Kampung Melayu.

Bom panci bunuh diri yang dikenakan pelaku Ichwan Nurul Salam dan Ahmad Sukri itu telah mengakibatkan 16 orang korban. Sebanyak lima di antaranya, termasuk dua pelaku, tewas.

Dari 14 orang yang ditangkap terkait bom Kampung Melayu, sebanyak sembilan orang telah ditetapkan sebagai tersangka.

Hak atas foto AFP
Image caption Bom di Kedutaan Australia, September 2004 silam menewaskan sembilan orang.

Pengamat terorisme dari Universitas Indonesia, Ridwan Habib, menyatakan biaya di bawah Rp1 juta itu memang jauh lebih murah dibandingkan biaya Bom Bali atau bom di Kedutaan Australia, 2004 silam.

"Karena menggunakan casing mobil, dan harus menumpuk bahan ammonium fosfat secara berurutan di mobil, jauh ya (perbandingan biayanya). Kebutuhan untuk bom Australia itu, selain sewa mobil, itu di atas Rp10 juta," tuturnya kepada BBC Indonesia, Kamis (22/06).

Namun, biaya lebih murah bukan berarti daya ledak juga lebih rendah. "Tergantung casing, density. Apakah pakai panci, tabung gas, atau tupperware, itu kepadatannya berbeda. Semakin padat, efeknya semakin besar... Termasuk tergantung isian bomnya. Kalau diisi paku, gotri, bahan tajam, tentu lebih mematikan."

Blokir situs pembuat bom

Kepada BBC Indonesia, Brigjen Rikwanto menyatakan dengan bom yang dibuat murah 'dana (pembuatannya) berasal dari mereka-mereka saja, dari lingkungan sendiri', tanpa perlu kucuran dana besar.

Image caption Polisi menyebut dana pembuatan bom berasal dari 'mereka-mereka sendiri'.

Ketika ditanyakan BBC Indonesia, apakah itu berarti sekarang siapapun bisa membuat bom, Rikwanto masih membantahnya.

"Tidak siapapun: tentu harus punya keterampilan. Tetapi jangan mencoba, akan kami penjara."

Dia mengklaim berbagai upaya sedang dilakukan polisi untuk menghentikan upaya pihak-pihak yang tergabung dengan kelompok dengan pemikiran ekstrim, yang bermaksud untuk bertindak, melakukan aksi teror.

Selain menggencarkan program deradikalisasi, Polri juga "memblokir situs-situs yang mengajarkan pembuatan bom," tambah Rikwanto.

Hak atas foto Polda Metro Jaya
Image caption Bom bunuh diri menggunakan peledak panci di Kampung Melayu, menewaskan lima orang.

Namun, Ridwan Habib menyebut menutup website tidak akan efektif karena pelaku menyebarkan cara pembuatan bom lewat media sosial.

"Lewat WhatsApp, Telegram, platform medsos yang saat ini belum dilarang. Pemblokiran sangat tidak cukup, karena mereka kebanyakan menyebarkannya lewat kontak langsung. Bahrun Naim saja masih rutin mengirim materi lewat Telegram. Kalau blokir ya itu yang dibloklir telegram. Tapi pastinya akan menimbulkan pro kontra," tuturnya.

Ridwan menyarankan Polri untuk memetakan potensi 'kader pro-terorisme' dan membangun database orang yang mungkin melakukan serangan. "Memang akan membuat polisi jadi sibuk karena harus monitor harian, tetapi jauh lebih efektif daripada menutup platform di media sosial," pungkas Ridwan.

Berita terkait