"Ada bendera ISIS di rumah pelaku serangan Idul Fitri Polda Sumut"

Kepala Divisi Humas Polri Irjen Pol Setyo Wasisto di Mabes Polri, Minggu pagi. Hak atas foto BAY ISMOYO/AFP/Getty Images
Image caption Jubir Polri Irjen Pol Setyo Wasisto di Mabes Polri, saat memapar sejumlah penangkapan terduga teroris, pekan lalu.

Ada bendera ISIS dan gambar Abu Bakar al-Baghdadi di rumah seorang dari dua penyerang Polda Sumut dini hari jelang Idul Fitri yang menewaskan seorang polisi.

"Jadi ditemukan bendera ISIS di dinding, dan gambar Abu Bakar al-Baghdadi, pemimpin ISIS itu. Ada juga buku tentang ISIS, VCD, laptop, komputer, serta parang," kata juru bicara Polri, Irjen Setyo Wasisto, kepada Ging Ginanjar dari BBC Indonesia.

Disebutkan, benda-benda itu ditemukan di rumah SP, pelaku yang sekarang dalam keadaan luka parah, sementara dari rumah AR, pelaku yang tewas, bel;um ada laporan tentang penemuan khusus.

Serangan itu terjadi pada Minggu (25/6) sekitar pukul 03.00, kata Setwo Wasisto.

"Jadi dua orang melompat pagar di penjagan Polda Sumatera Utara, lalu menyerang petugas jaga yang sedang istirahat di salah satu dari tiga pos penjagaan, dengan senjata tajam" paparnya. .

Akibatnya, "seorang anggota polisi, Aiptu Martua Sigalinging gugur karena ditikam dengan senjata tajam. Korban ditikam di leher, dada, dan tangan," jelas Setyo lebih lanjut.

Seorang anggota Brimob di pos penjagaan lain kemudian bergegas membantu, dan melepaskan tembakan ke arah para terduga teroris.

"Seorang pelaku tewas ditempat dilumpuhkan, yang satu lagi masih (luka) kritis," tambah Setyo.

Setyo memastikan, para dokter bekerja keras agar SP yang masih dirawat di RS Bhayangkara, Medan, bisa pulih.

"Kami harapkan bisa sembuh, agar nanti bisa memberi keterangan untuk mengungkap jaringannya lebih jauh."

Kasus ini diselidiki lebih lanjut oleh Polda Sumut dibantu Densus 88, namun Setyo menyebut, diduga keduanya ada kaitannya dengan jaringan dari kelompok yang menamakan negara Islam atau ISIS.

"Minggu lalu, saya merilis ada tiga orang yang ditangkap Densus 88 di Medan, yang berencana menyerang polisi. Nanti kita dalami, apakah pelaku terkait dengan kelompok ini, atau mereka merupakan kelompok sendiri yang berafiliasi dengan Bahrun Naim di Suriah yang dikuasai ISIS."

Disebutkan, kaitan persisnya masih diselidiki lebih lanjut. Namun ia mengaitkan dengan seruan Bahrun Naim, pria asal Pekalongan yang diyakini merupakan tokoh yang banyak merekrut orang Indonesia untuk bergabung dengan ISIS. Ia diyakini bermukim di Suriah.

"Indikasinya ada himbauan dari Bahrun Naim. Bahwa orang-orang dimintai untuk melakukan amaliah, dengan menggunakan apa saja. (Seruan Bahrun Naim), Kalau tidak punya bom, pakailah senjata apa saja untuk menyerang. Itu yang terjadi di polda Sumut," tandas Setyo Wasisto.

Image caption Jubir Polri Setyo Wasisto saat memperlihatkan sejumlah barang bukti bom Kampung Melayu, beberapa waktu lalu.

Serangan terjadi hanya beberapa hari setelah polisi memberi pemaparan kepada wartawan tentang berbagai penangkapan dan penggrebekan

Kepala Biro Penerangan Masyarakat, Polri, Brigjen Rikwanto, Kamis (22/6) lalu menyatakan sepanjang tahun 2017 sudah dilakukan penangkapan terhadap hampir 100 orang, terkait dugaan terorisme. Dan penangkapan gencar dilakukan sebulan terakhir, setelah terjadinya bom bunuh diri di Kampung Melayu, Rabu (24/05).

"Kita melakukan ini sebagai pencegahan, agar nanti di Idul Fitri, tidak terjadi hal yang tidak diinginkan," kata Rikwanto saat itu.

Penangkapan dilakukan di berbagai penjuru tanah air: Medan, Jambi, Jakarta, Pandeglang, Bandung, Cianjur, Garut, Kendal, Temanggung, Malang, Surabaya, dan Bima.

Dalam konferensi pers di Mabes Polri, Kamis (22/06), Polri juga memperlihatkan barang bukti kasus dua bom bunuh diri di Kampung Melayu.

Barang bukti berupa serpihan dua buah panci yang digunakan pelaku, mangkuk tempap meracik bahan bom, gotri atau bola timah, dan lain-lain.

Jubir Polri Setyo Wasisto dalam jumpa pers itu mengungkapkan bahwa penangkapan dan barang bukti yang dikumpulkan Polri memperlihatkan bahwa teroris belakangan ini tidak perlu dana besar untuk beraksi.

Berita terkait