Temuan buku propaganda ISIS untuk anak di Medan, ‘puncak gunung es’

isis Hak atas foto AFP/Getty Images
Image caption Buku sekolah yang dicetak kelompok ISIS ditemukan di sebuah rumah di Mosul, Irak, pada November 2016. Pengamat terorisme mengatakan ISIS memang sengaja membuat propaganda untuk anak-anak .

Kepolisian Daerah Sumatera Utara menemukan 155 buku berisi propaganda kelompok ISIS yang diduga menargetkan anak-anak di rumah salah satu tersangka penyerangan markas Polda Sumut. Pengamat terorisme menyebut hal itu adalah 'puncak gunung es'.

"Kejadian ini harus dilihat sebagai puncak gunung es. Hanya ujungnya yang kelihatan, tapi di kakinya ada mesin propaganda, termasuk yang spesifik menyasar anak. Ini sudah seperti industri. Penangkapan yang dilakukan polisi hanya satu dari sekian banyak aspek yang harus dilakukan," kata Noor Huda Ismail, pengamat terorisme dari Yayasan Prasasti Perdamaian.

Kabid Humas Polda Sumut, Kombes Rina Sari Ginting, mengatakan buku-buku temuan pihaknya berwujud buku tulis. Pada bagian atas dan bawah di dalam buku tersebut 'terdapat indoktrinasi kepada anak-anak'.

"Indoktrinasinya antara lain bagaimana melakukan peperangan dengan paham ISIS," kata Rina kepada BBC Indonesia.

Dari penyelidikan sementara, Rina mengatakan buku-buku tersebut didesain sendiri oleh tersangka penyerangan Mapolda Sumut.

"Bahkan dia sendiri yang order ke percetakan. Plat-nya kita temukan di percetakan. Kita sedang mendalami apakah buku itu sudah tersebar ke luar. Yang jelas anak-anaknya pakai (buku tersebut)," tutur Rina.

Selain buku-buku berisi propaganda ISIS, kepolisian menemukan bendera ISIS dan gambar Abu Bakar al-Baghdadi—pemimpin ISIS.

Hak atas foto AFP/Getty Images
Image caption Personel Densus 88 Anti-Teror memperlihatkan berbagai temuan dari rumah tersangka peledakan bom di Majalengka, Jawa Barat, pada 2016 lalu. Kepolisian dianjurkan untuk tidak semata-mata menangkap tersangka pelaku teror.

Propaganda untuk anak

Propaganda ISIS yang menyasar anak-anak sejatinya bukan hal baru, menurut Noor Huda Ismail.

Dia menyebutkan bahwa strategi ISIS untuk menggunakan anak-anak sebagai serdadu telah digariskan tokoh ISIS bernama Abu Bakar an Najdi.

"Pesan An Najdi adalah ISIS harus menakuti-nakuti musuh luar biasa , salah satunya dengan menggunakan perempuan dan anak-anak. Isi pesannya kira-kira 'Perempuan dan anak-anak saja mau bertempur untuk ISIS'," kata Noor Huda.

Setelah An Najdi mengumandangkan pesan tersebut, data Pusat Perlawanan Terorisme Amerika Serikat menunjukkan dalam periode Januari 2015-Januari 2016, sebanyak 39% anak-anak tewas dalam serangan bom bunuh diri dan 33% dalam perang membela ISIS.

Diyakini 60% yang tewas berusia antara 12 hingga 16 tahun dan 6% berusia delapan hingga 12 tahun.

John Dorrian, perwira menengah militer AS yang terlibat dalam perang melawan ISIS di Timur Tengah, mengatakan ISIS mendirikan berbagai kios internet di wilayah-wilayah yang mereka kuasai di Irak dan Suriah, yang bisa dipakai oleh anak-anak untuk mengakses aplikasi dan situs-situs internet, baik untuk belajar bahasa Arab maupun 'ideologi ISIS'.

Para anak-anak ini, lanjut Dorrian, disiapkan untuk melakukan serangan yang menyasar tempat-tempat seperti Patung Liberty, Big Ben, dan Menara Eiffel.

Hak atas foto AFP
Image caption Sejumlah warga Indonesia yang bergabung dengan ISIS di Suriah membawa serta anak-anak mereka. Tindakan ini, menurut pengamat terorisme, sesuai dengan anjuran tokoh-tokoh ISIS.

Untuk publik Indonesia, ISIS merilis propaganda berupa video yang menampilkan belasan bocah yang mengenakan baju loreng dan tengah membakar paspor. Terlihat bendera ISIS di pojok kanan video tersebut.

Anak-anak itu juga ditampikan bergantian latihan menembak dengan senjata laras panjang dan pendek. Selanjutnya, seorang dewasa yang dikelilingi belasan anak terdengar berbicara dengan menggunakan bahasa Indonesia.

Tingkat sel

Noor Huda Ismail berpendapat bahwa temuan buku propaganda ISIS di rumah tersangka pelaku penyerangan Mapolda Sumut menguatkan imbauan tokoh ISIS, Abu Mus'ab al-Suri.

Al-Suri, kata Noor Huda, menganjurkan agar milisi dan simpatisan ISIS mengerahkan kemampuan di tingkat sel. Adapun tingkat sel terkecil adalah keluarga.

"Makanya serangan-serangan itu dilakukan individu-individu yang tidak terkait langsung dengan struktur top-down," kata Noor Huda.

Menurutnya, itu juga menjelaskan mengapa tersangka pelaku penyerangan Mapolda Sumut diduga menuntun anak-anaknya untuk menggunakan buku-buku propaganda ISIS.

Topik terkait

Berita terkait