Anies Baswedan: "Saya akan pikul tanggung jawab jaga toleransi di Jakarta"

anies baswedan Hak atas foto Reuters
Image caption Anies Baswedan menyatakan akan memikul tanggung jawab menjaga dan mengelola toleransi antara kelompok beragama setelah dilantik menjad gubernur DKI Jakarta.

Gubernur terpilih DKI Jakarta, Anies Baswedan, menyatakan kondisi umat beragama seusai Pilkada 2017 akan segera membaik dan dirinya akan memikul tanggung jawab menjaga serta mengelola toleransi antara kelompok beragama setelah dilantik menjadi pemimpin ibu kota. Akan tetapi, analisis pakar politik menyebutkan sangat sulit mencairkan ketegangan politik dalam waktu dekat,

"Saya punya tanggung jawab menjaga kebhinnekaan. Ada isu soal identitas dan disparitas. Ini harus diselesaikan secara beriringan sehingga ketika ada perbedaan, mengelolanya mudah," ujar Anies pada sesi diskusi di Kongres Diaspora Indonesia, Jakarta, Sabtu (1/7), seperti dilaporkan wartawan BBC Indonesia, Abraham Utama.

Anies tidak mengelak atas anggapan tentang situasi kebhinekaan yang menurun saat pilkada DKI 2017 berlangsung. Namun ia yakin, kondisi antarumat beragama itu akan segera membaik seiring selesainya tahapan pilkada.

"Secara umum masyarakat Indonesia memiliki sikap toleran, tapi tidak lepas dari masalah. Pilkada adalah pelajaran tentang kebhinekaan tapi sekarang kita semakin lebih dewasa," ujarnya.

Direktur sekaligus peneliti Lembaga Survei Indonesia, Dodi Ambardi, mengatakan sangat sulit mencairkan ketegangan dalam waktu dekat, apalagi dua tahun ke depan akan digelar Pemilu Presiden 2019.

Dodi mengatakan perpecahan politik di kalangan masyarakat bisa disembuhkan apabila para elitenya telah "membereskan" diri mereka terlebih dahulu.

"Merekalah yang memobilisasi isu-isu sektarian, isu-isu SARA. Jadi mereka yang beres dulu," kata Dodi kepada BBC Indonesia beberapa waktu lalu.

"Kalau mereka, misalnya, tidak memantik api dengan isu SARA, saya kira polarisasi di tingkat pemiilihnya, akan menurun draktis," tambahnya.

Hak atas foto AFP/Getty Images
Image caption Anies Baswedan menilai ketimpangan kesejahteraan berpotensi menjadi pemicu utama konflik antarumat beragama.

Anies menilai ketimpangan kesejahteraan berpotensi menjadi pemicu utama konflik antarumat beragama. Ia berjanji menghadirkan peluang ekonomi yang sama bagi setiap warga Jakarta.

"Disparitas di Jakarta itu dashyat, yang miskin, yang tidak bekerja, yang tidak sekolah. Tugas gubernur adalah membangun suasana persatuan itu dengan cara membereskan ketimpangan," tuturnya.

Mengutip situs Sekretariat Kabinet, Upah Minimum Provinsi DKI pada tahun 2017 sebesar Rp3,3 juta. Sementara itu, merujuk data terakhir Badan Pusat Statistik DKI pada Maret 2015, setidaknya 3,93% warga DKI berada di bawah garis kemiskinan atau satu dari 25 warga Jakarta masuk kategori miskin.

Di sisi lain, Setara Institute menyebut DKI Jakarta sebagai provinsi kedua dalam daftar lokasi yang paling kerap menjadi lokasi insiden intoleransi. Data lembaga itu menunjukkan, jumlah pelanggaran kebebasan beragama di Jakarta pada 2016 meningkat jika dibandingkan dengan tahun sebelumnya.

Hak atas foto Reuters
Image caption Para pendukung pasangan Anies Baswedan-Sandiaga Uno di kawasan Petamburan, Jakarta, meluapkan kegembiraan ketika berbagai hasil hitung cepat menunjukkan pasangan tersebut mengungguli pasangan Basuki Tjahaya Purnama-Djarot Syaiful Hidayat dalam Pilkada DKI Jakarta 2017.

Pada kongres serupa, saat menyampaikan pidato kunci, mantan Presiden Amerika Serikat Barack Obama juga menyorot isu toleransi masyarakat Indonesia. Ia menyebut persatuan antarkelompok agama merupakan ciri khas Indonesia.

Kebhinekaan, kata Obama, tak hanya tampak pada konstitusi tapi juga rumah ibadah yang berdiri bersebelahan.

"Bhinneka Tunggal Ika, Anda harus memperjuangkan itu. Jika tidak ada toleransi dan tiba-tiba muncul perang, masyarakat akan terpecah. Kita harus saling menghormati. Jika Anda yakin atas agamamu, jangan curigai agama orang lain," kata Obama.

Topik terkait

Berita terkait