Triliunan Rupiah berputar selama libur Lebaran

Candi Prambanan Hak atas foto Yaya Ulya
Image caption Pengelola Candi Prambanan mencatat, jumlah pengunjung pada liburan tahun ini meningkat 10 persen dibanding tahun lalu dan setiap harinya peredaran uang mencapai 3-5 milyar.

Uang yang beredar selama mudik lebaran diperkirakan mencapai ratusan trilyun rupiah, dan berdampak pada ekonomi di daerah. Pengamat menyebutkan momen libur Idur Fitri ini dapat dimanfaatkan untuk membangun daerah dalam jangka panjang.

Ratusan orang tampak mengunjungi lokasi wisata Tebing Breksi di Desa Sambirejo, Prambanan, Sleman, Daerah Istimewa Yogyakarta, mereka tampak menaiki tangga tebing dan juga berfoto-foto., pada akhir pekan terakhir libur Idul Fitri, Sabtu (01/07).

Tebing Breksi merupakan salah satu lokasi wisata yang dipadati pengunjung pada libur lebaran ini, meningkat lebih dari 100 persen dibandingkan hari biasa yang hanya mencapai 1.000 orang dan 5.000 pada hari Minggu kecuali pada bulan Ramadan yang

Kholiq Widiyanto, Ketua Pengelola Desa Wisata Tebing Breksi mengatakan jumlah pengunjung terbanyak sampai 9.500 orang. Meski tak ditetapkan tiket masuk, omset pengelola meningkat.

"Rata-rata sehari sampai 15-20 juta, kan di sini (bayarnya) masih sukarela, ya itu multitafsir banyak juga pengunjung bingung, kalau bingung ya bayar parkir saja," jelas Kholiq.

Pengelola Tebing Breksi menetapkan biaya parkir motor 2000 dan mobil 5000.

Hak atas foto Yaya Ulya
Image caption Wisatawan masih tampak memadati Tebing Breksi untuk menikmati matahari terbenam.
Hak atas foto Yaya Ulya
Image caption Ribuan pengunjung memenuhi Tebing Breksi setiap harinya di libur lebaran selama sepekan (25 Juni - 1 Juli). Pengelola mengaku mendapatkan omzet 20 juta setiap harinya.

Pengunjung di situs Candi Prambanan juga meningkat sampai jumlah tertinggi lebih dari 30.000 orang. Di sana, para wisatawan membayar tiket masuk RP.40.000 ribu dewasa dan 20 ribu untuk anak-anak.

Pujo Suwarno, GM Unit Prambanan, Taman Wisata Candi Prambanan, Borobudur dan Ratu Boko (TWCPBB) memperkirakan jumlah perputaran uang di kawasan Candi mencapai milayaran rupiah.

"Kisaran 3-5 milyar setiap harinya," kata Pujo.

Hak atas foto Yaya Ulya
Image caption Ribuan pengunjung memadatati komplek Candi Prambannan, di Sleman, DIY, pada musim libur lebaran, Rabu (28/06).

Hunian hotel

Peningkatan juga terjadi di tingkat hunian hotel. Menurut Istidjab M. Danunagoro dari Persatuan Hotel dan Restoran Indonesia (PHRI), puncak peningkatan okupansi hunian hotel terjadi pada Rabu (28/06) dan Kamis (29/06). "Ada peningkatan 15%-20%," kata Istidjab.

Data Amrta Institute menyebut saat ini setidaknya terdapat 350 hotel berbintang di DIY dengan jumlah kamar 15.000 unit. Jika jumlah tersebut dikalikan dengan harga kamar yang paling murah yakni Rp250.000 per hari, maka jumlah yang didapat mencapai Rp3 milliar per hari.

Jumlah miliaran rupiah yang beredar di DIY saat libur lebaran ini baru dari dua lokasi wisata dan okupansi hunian hotel. Angka itu akan bertambah lagi jika ditambah dengan omzet di lokasi wisata lainnya, seperti kebon binatang Gembiraloka, pantai, dan omzet dari makanan khas atau oleh-oleh asli DIY.

Hak atas foto Eko Widianto
Image caption Libur lebaran, ribuan pengunjung berdatangan Masjid Tiban atau Pondok Pesantren Salafiah Bihaaru Bahri Asali Fadlaailir Rahmah di Malang Jawa Timur.

Wisatawan minati oleh-oleh

Peningkatan pengunjung juga terjadi di Kabupaten Malang. Ribuan orang tampak mendatangi Masjid Tiban yang berada di Pondok Pesantren Salafiah Bihaaru Bahri Asali Fadlaailir Rahmah, Sanan Rejo, Turen, Kabupaten Malang.

Salah satunya pengunjung asal Tegal, Bambang Samroni tengah mengagumi arsitektur masjid dengan perpaduan antara gaya oriental, Timur Tengah dan Eropa

"Ya penasaran pengen tahu, ada masjid merasa ornamen gaya-gaya aneh ga kayak di tempat lain," kata Bambang.

Tak hanya lokasi wisata yang ramai dikunjungi para pemudik, mereka juga menyerbu toko oleh-oleh khas Malang. Seperti keripik buah dan sayur serta buah apel. Ridwan pedagang oleh-oleh khas Malang mengaku pendapatannya melonjak sampai 30 persen dari rata-rata

"Ya mereka mencari oleh-oleh khas malang gitu, " kata Ridwan, "omset penjualannya sekitar Rp 4 juta (per hari)".

Pulau Jawa diuntungkan

Bank Indonesia memperkirakan kebutuhan penarikan uang tunai selama libur lebaran mencapai Rp167 trilliun, naik 14% dibandingkan Idul Fitri 2016.

Tetapi Menteri Keuangan Sri Mulyani menyebut Pulau Jawa yang paling banyak diuntungkan dengan mudik Lebaran.

"Mungkin mayoritas yang akan diuntungkan terutama di Pulau Jawa karena tradisi pulang kampung pada saat Lebaran berkonsentrasi di Pulau Jawa, jadi mungkin untuk beberapa provinsi Jawa Tengah, Jawa Barat, Jawa Timur, Yogya, akan mendapatkan aktivitas dari sisi tempat tinggal hotel, " kata Sri Mulyani pada Minggu (25/06) lalu.

Dia juga menambahkan aktivitas ekonomi di daerah meningkat seiring bertambahnya kebutuhan makanan di daerah saat Lebaran, sehingga mendatangkan keuntungan bagi para pemilik restoran.

Hak atas foto Eko Widianto
Image caption Pengunjung berfoto di salah satu bagian Masjid Tiban Malang, Jatim.

Daerah harus kreatif

Perputaran uang selama Lebaran, menurut Direktur INDEF Enny Sri Hartati, mudik Lebaran seharusnya bisa dijadikan peluang untuk meningkatkan ekonomi di daerah.

"Jangka pendek misalnya, kalau banyak daerah mempunyai kreativitas untuk menyediakan kebutuhan pemudik selama mereka tinggal di daerah itu kan mestinya akan meningkatkan berbagai potensi daerah, minimal yang mereka konsumsi selama di desa itu bukan barang-barang dari kota lagi, tapi barang-barang produksi daerah kuliner daerah termasuk suvenir," jelas Enny.

Minat para pemudik pada lokasi-lokasi wisata, menurut Enny, dapat dimanfaatkan untuk mempromosikan destinasi wisata yang akan meningkatkan pemasukan daerah.

Selain jangka pendek, Enny berpendapat momen mudik ini juga dapat dimanfaatkan untuk meningkatkan ekonomi di daerah dalam jangka panjang.

"Jadi saat Lebaran ini bisa dijadikan tes untuk mengeluarkan produk tertentu, setelah Lebaran bisa dlihat mana yang laku dan yang tidak, selain itu para jaringan dengan orang yang berurbanisasi ini dapat dilakukan," kata dia.

Enny mengatakan selama ini urbanisasi belum memberikan dampak untuk meningkatkan ekonomi desa, terutama dalam menurunkan angka kemiskinan di desa, yang jumlahnya hampir dua kali lipat lebih besar dibandingkan di kota.

Berdasarkan data Badan Pusat Statistik (BPS), jumlah penduduk miskin di perdesaan mencapai 17,28 juta atau 13,96%. Sementara di perkotaan 10,49 juta jiwa (7,73%).

Laporan Yaya Ulya (Yogyakarta) dan Eko Widianto ( Malang)

Topik terkait

Berita terkait