Pengamat: Ada peningkatan aksi penyerangan terhadap polisi

Penggeledahan rumah terduga ISIS di Surabaya, Jawa Timur, Juni 2017 Hak atas foto JUNI KRISWANTO/AFP/Getty Images
Image caption Kepolisian Republik Indonesia mengungkapkan bahwa sepanjang tahun ini, mereka telah menangkap lebih dari 100 terduga teroris di berbagai kota di Indonesia. Di sini, polisi tengah menggeledah rumah terduga anggota jaringan terkait ISIS di Surabaya, Jawa Timur, Juni 2017 lalu.

Aksi penusukan yang melukai dua anggota polisi di sebuah masjid di Jakarta Selatan diyakini tidak terkait dengan aksi penyerangan terhadap pos polisi yang menewaskan satu polisi di Sumatra Utara, pada Idul Fitri lalu.

Namun seorang pengamat terorisme meyakini adanya peningkatan terhadap aksi terorisme yang menyasar polisi.

Setidaknya sejak bom Sarinah pada 2016, polisi sudah menjadi target serangan bagi jaringan teroris, dan hal ini diakui oleh pakar terorisme Asia Tenggara, dan direktur Intitute for Policy Analysis of Conflict (IPAC), Sidney Jones. yang juga melihat adanya peningkatan dalam tingkat aksi yang dilakukan oleh jaringan teroris di Indonesia.

"Jelas ada eskalasi, karena sekarang ini ada serangan dari siapa saja dan di mana saja dengan senjata, entah itu bom atau pisau, dan saya kira tujuannya betul-betul teror, membuat polisi Indonesia takut, untuk menunjukkan bahwa tidak ada orang yang aman walaupun mereka penegak hukum. Saya kira ada kemungkinan besar mereka terinspirasi dengan apa yang terjadi di Marawi," kata Jones.

Sebelumnya, juru bicara Mabes Polri Irjen Setyo Wasisto mengatakan bahwa polisi belum menemukan adanya bukti bahwa Mulyadi, pelaku penusukan dua anggota Brimob di Jakarta Selatan, adalah bagian dari jaringan teror atau terkait dengan aksi penyerangan ke Polda Sumut pada dini hari jelang Idul Fitri yang menewaskan seorang polisi.

Meski begitu, Jones melihat bahwa aksi-aksi penyerangan terhadap polisi yang terjadi, tak lepas dari jaringan terorisme.

"Sebagian besar masih dari jaringan tertentu. Ada satu kasus saja, beberapa bulan lalu, di mana ada orang tanpa afiliasi yang mencoba menyerang Polres di Banyumas, tapi yang lain semuanya punya afiliasi dengan jaringan," kata Jones.

Menurutnya 'ada kemungkinan bahwa serangan di Medan dan masjid di Jakarta Selatan bukan dari jaringan Jamaah Ansharut Daulah (JAD)' meski dia menegaskan untuk menunggu kepastian dari hasil penyelidikan polisi.

"Sebelumnya kalau melihat Kampung Melayu atau bom Thamrin, itu (pelakunya) organisasi yang sama dengan yang menamakan diri JAD, tapi sekarang ada organisasi lain yang pro-ISIS, tapi tidak menjadi hierarki JAD," ujar Sidney.

Dalam sepekan terakhir, tiga anggota polisi menjadi korban aksi penyerangan.

Hak atas foto STR/AFP/Getty Images
Image caption Juru bicara Mabes Polri Irjen Setyo Wasisto mengatakan bahwa polisi belum menemukan adanya bukti bahwa Mulyadi, pelaku penusukan dua anggota Brimob di Jakarta Selatan, adalah bagian dari jaringan teror.

Di Sumatra Utara pada Idul Fitri lalu, seorang personel polisi tewas setelah dua pelaku yang disebut bagian dari serangan JAD menyerang pos penjagaan, sementara dua polisi terluka usai melakukan salat karena aksi penusukan yang dilakukan seorang pedagang kosmetik yang kemudian diidentifikasi sebagai Mulyadi.

Walaupun dua aksi ini terjadi berdekatan, namun polisi tidak menemukan adanya kaitan antara keduanya, menurut juru bicara Mabes Polri, Irjen Setyo Wasisto.

"Dari hasil pemeriksaan saksi-saksi, ada empat orang, kakak ipar, kakaknya, teman SMA dan teman berdagang, dari keempat orang ini semuanya masih menyatakan bahwa Mulyadi ini terinspirasi aksi dari melihat di handphone, melihat di media sosial. Saat bertemu dengan temannya pun, dia selalu asyik sendiri dengan handphone dan menyatakan ISIS itu baik, khilafah itu baik, sehingga dia merasa memusuhi polisi," kata Setyo.

"Sementara belum ada keterangan yang mendukung bahwa Mulyadi itu bagian dari jaringan apa, belum ada," ujar Setyo.

Kepolisian Republik Indonesia mengungkapkan bahwa sepanjang tahun ini, mereka telah menangkap lebih dari 100 terduga teroris di berbagai kota di Indonesia.

Penangkapan tersebut lebih gencar dilakukan setelah terjadinya bom bunuh diri di Kampung Melayu dalam apa yang disebut polisi sebagai 'preemptive strike' atau serangan pencegahan.

Namun Sidney Jones mengingatkan bahwa perubahan pola serangan pada polisi, seperti yang terjadi di Medan dan penusukan di masjid, akan menyulitkan jaringan intelijen polisi untuk mencegah serangan selanjutnya terjadi.

Topik terkait

Berita terkait