Pemerintah 'belum serius' tangani pemudik disabilitas

disabilitas Hak atas foto MRAD
Image caption MRAD menyebut tidak adanya perbaikan fasilitas untuk memudahkan mobilitas disabilitas di tempat peristirahatan (rest area) di sepanjang jalan tol.

Pemerintah Indonesia dianggap belum serius menangani pemudik yang menyandang disabilitas, karena belum menyediakan fasilitas fisik dan non fisik bagi mereka.

Ilma Sovri Yanti, inisiator Mudik Ramah Anak dan Disabilitas (MRAD) mengatakan, perhatian pemerintah terkait mudik masih bersifat umum dan tidak menyentuh kelompok rentan, seperti disabilitas, anak-anak, ibu menyusui dan lansia.

"Negara masih abai dan belum serius menangani persoalan-persoalan yang dialami oleh teman-teman disabilitas. Penyelenggara mudik masih mempedulikan hal-hal yang bersifat umum, tapi belum menyentuh kepentingan disabilitas," ujar Ilma kepada wartawan BBC Indonesia, Ayomi Amindoni, Rabu (05/07).

Seharusnya, Ilma menambahkan, penyelenggara mudik harus mewujudkan rasa aman, nyaman dan memberikan kebebasan bagi kelompok rentan yang seharusnya menjadi perhatian semua pihak.

Dia kemudian mencontohkan tidak adanya perbaikan fasilitas untuk memudahkan mobilitas disabilitas di tempat peristirahatan (rest area) di sepanjang jalan tol.

"Misalnya, untuk menuju masjid saja mereka harus melewati 20 anak tangga yang cukup curam, untuk menuju ke toilet mereka juga harus menempuh beberapa anak tangga," jelasnya.

Selain itu, tidak ada pembatas jalan, serta tidak ada jalur khusus bagi penyandang disabilitas sehingga beresiko bagi keamanan dan kenyamanan mereka.

Hak atas foto MRAD
Image caption Selama dua tahun penyelenggaraan mudik ramah disabilitas, MRAD, mencatat jumlah peserta terus mengalami peningkatan.

Belum lagi adanya persepsi kebanyakan masyarakat yang menganggap kaum disabilitas sebagai golongan yang harus dikasihani dan dibantu.

"Ini sangat berbeda dengan yang diharapkan teman-teman disabilitas. Mereka ingin dibuka ruang kesempatan yang bebas hambatan sehingga mereka bisa melakukan fungsinya atau memiliki kemandirian yang maksimal," cetusnya.

Dia kemudian mengajak pemerintah, perusahaan dan masyarakat secara luas memperhatikan dan ikut memberi alternatif bagi sebagian orang yang disebutnya selama bertahun-tahu belum bisa merasakan mudik lantaran kondisi fisiknya.

Selama dua tahun penyelenggaraan mudik ramah disabilitas, MRAD mencatat jumlah peserta terus mengalami peningkatan.

Jika tahun lalu pesertanya hanya tujuh orang disabilitas, tahun ini mencapai 14 orang. Namun demikian, temuan MRAD menyebutkan, ada 40 disabiltas yang tidak bisa mudik lantaran keterbatasan fasilitas kendaraannya.

Tanggapan Kemenhub

Juru bicara Kementerian Perhubungan JA Barata mengakui pemerintah belum optimal dalam penyediaan fasilitas fisik dan non-fisik mudik lebaran kepada disabilitas.

Kendati begitu, pihaknya berjanji akan terus menerus memperbaiki fasilitas transportasi agar memudahkan aksesibilitas disabilitas.

Hak atas foto SEJUK
Image caption Mudik bagi disabilitas sama dengan pemudik lainnya, harus disiapkan jauh-jauh hari, terutama atas kebutuhan khusus setiap disabilitas, ujar MRAD.

Misalnya, beberapa trotoar di terminal bus sekarang sudah dilengkapi dengan konblok untuk memfasilitasi kebutuhan tuna netra.

Sama halnya di stasiun kereta api, kelandaian peron disesuaikan agar tidak menyulitkan disabilitas, kata Barata.

"Fasilitas memang belum semua, kita akui belum beri aksesibiltias yang baik bagi disabilitas ataupun anak dan lansia," ujar Barata kepada BBC Indonesia, Rabu (05/07).

Pelaksanaan mudik secara umum

Lebih lanjut Barata mengklaim pelaksanaan mudik tahun ini mengalami perbaikan ketimbang tahun lalu.

Pasalnya, meski dari sisi volume jumlah pemudik mengalami peningkatan di semua moda transportasi, baik darat, laut dan udara, namun jumlah kecelakaan justru mengalami penurunan.

Hak atas foto EPA
Image caption Kementerian Perhubungan mengklaim pelaksanaan mudik tahun ini mengalami perbaikan ketimbang tahun lalu.

"Angka kecelakaan menurun dari tahun lalu sekitar 1 juta kecelakaan, menjadi sekitar 500.000 kecelakaan," klaimnya.

Kendati begitu, Kementerian Perhubungan memiliki beberapa catatan sebagai pekerjaan rumah pelaksanaan mudik tahun depan.

Hak atas foto Reuters
Image caption Meski dari sisi volume jumlah pemudik mengalami peningkatan di semua moda transportasi, baik darat, laut dan udara, namun jumlah kecelakaan justru mengalami penurunan.

Yaitu, antara lain, pengelolaan rest area yang terdapat di sepanjang jalan tol. Menurutnya, ada pelaksanaan mudik tahun ini yang sering terjadi kemacetan di sekitar rest area lantaran penumpukan pemudik yang berlama-lama istirahat di rest area.

"Otomatis, semakin bertambah jalan tol maka juga akan bertambah rest area," kata Barata.

Tahun depan, lanjut Barata, Kementerian Perhubungan akan mengoptimalkan moda laut untuk transportasi mudik untuk mengurangi kepadatan kendaraan di jalur darat.

"Kita akan kembangkan angkutan laut dari Lampung ke Semarang," kata dia.

Selain itu, Kementerian Perhubungan juga akan memperketat pengawasan kondisi bus untuk mengantisipasi terjadinya kecelakaan di jalur darat.

Berita terkait