Bom panci Bandung dan 'tren' jihad individu tanpa pemimpin

polisi, bandung Hak atas foto AFP/Getty Images/TIMUR MATAHARI
Image caption Polisi memperlihatkan hasil penggeledahan polisi di rumah seorang terduga pelaku terorisme di Bandung.

Polisi menangkap seorang pedagang bakso setelah sebuah bom panci yang diduga dirakitnya meledak secara tidak sengaja di kamar kosnya di Bandung.

Pelaku AW, menurut polisi, diduga akan meledakkan bom panci tersebut pekan depan di sebuah restoran dan kafe di kawasan Braga, Bandung, selain juga di sebuah gereja.

Penangkapan AW tersebut, Sabtu (08/0&0, menjadi yang ketiga kalinya terduga teroris melakukan aksi, setelah sepekan sebelumnya terjadi penusukan terhadap dua anggota polisi di sebuah masjid di Jakarta Selatan, dan penyerangan terhadap markas Polda Sumut.

Berbagai tren aksi dugaan terorisme ini, menurut seorang pengamat, Taufik Andrie, menjadi bukti bahwa kini seorang terduga pelaku tak perlu menjadi bagian dari jaringan terorisme tertentu untuk melakukan aksinya.

"Struktur (jaringan) ini tidak kaku, mereka berada di garis ideologi yang sama, sama-sama mendukung ISIS, tapi kalau bicara konsep kepemimpinannya kan tidak beku, dalam arti ideolognya Aman Abdulrahman, tetapi mereka bisa mengembangkan sel-sel seluas mungkin."

"Bahkan, Jamaah Ansharut Daulah, kelompok yang aktif, pemimpinnya banyak ditangkapi, tapi sel-sel baru bermunculan, mengembangkan konsep leaderless jihad," kata Taufik.

Hak atas foto AFP/TIMUR MATAHARI
Image caption Maret lalu, Markas Kepolisian Daerah Jawa Barat dilaporkan menjadi sasaran peledakan bom oleh dua orang yang merupakan bagian dari kelompok Yayat Cahdiyat.

Sel-sel baru yang kecil tersebut, menurut Taufik, tidak semata-mata patuh pada pemimpin atau menunggu fatwa dan instruksi, tapi setia pada komitmen bersama dan bersedia untuk melakukan aksi.

Taufik juga menyebut bahwa beberapa kejadian aksi bom panci yang dilakukan oleh terduga simpatisan ISIS merupakan tren baru yang diujicobakan terus-menerus, sehingga 'ada yang berhasil dan ada yang tidak'.

"Kalau bicara mengenai proses penguasaan skill-skill pelatihan seperti perakitan, ini kan tidak reguler, karena tidak ada proses pelatihan, selalu otodidak, melalui internet. Ini sebetulnya menunjukkan bahwa dalam proses regenerasi, sebenarnya tidak berjalan dengan baik," ujarnya.

Bertindak sendiri

Kepolisian masih menyelidiki kemungkinan adanya keterkaitan terduga perakitan bom panci di Bandung, AW, dengan jaringan ISIS, setelah ditemukan secarik kertas di kediamannya yang isinya semacam baiat kepada pemimpin ISIS Abubakar Al Baghdadi.

Namun polisi yakini bahwa AW, seorang pedagang bakso, bertindak sendiri dalam merakit bom panci yang meledak sebelum waktunya.

"Hasil penyelidikan awal (dia) bekerja sendiri, belajar (merakit bom) dari internet... Sama dengan kasus penusukan yang terjadi di depan Mabes Polri. Berjihad sendiri," seperti dijelakan kata juru bicara Polda Bandung, Kombes Yusri Yunus.

Setidaknya sudah dua kali sebelumnya peristiwa bom terjadi di Bandung.

Pada Februari lalu, seorang pelaku Yayat Cahdiyat meledakkan bom panci di kawasan kantor kelurahan Arjuna sebelum ditembak oleh polisi, dan pada Maret lalu Markas Kepolisian Daerah Jawa Barat di Jalan Soekarno Hatta, Kota Bandung, dilaporkan menjadi sasaran peledakan bom oleh dua orang yang merupakan bagian dari kelompok Yayat tersebut.

Kepolisian Republik Indonesia mengungkapkan sepanjang 2017 telah menangkap lebih dari 100 terduga teroris di Indonesia.

Penangkapan dilakukan di berbagai penjuru tanah air: Medan, Jambi, Jakarta, Pandeglang, Bandung, Cianjur, Garut, Kendal, Temanggung, Malang, Surabaya, dan Bima.

Penangkapan gencar, menurut polisi, dilakukan setelah terjadinya bom bunuh diri di Kampung Melayu pada Mei 2017 lalu.

Topik terkait

Berita terkait