'Akan repot’ jika hanya andalkan Polri lawan terorisme siber

isis Hak atas foto PA
Image caption Tampilan beranda akun Facebook seorang perempuan asal Inggris yang dituduh bersimpati kepada ISIS. Menebar pengaruh radikal melalui internet telah dilakukan kelompok-kelompok garis keras beberapa tahun terakhir untuk merekrut anggota.

Hasil pemeriksaan Kepolisian Indonesia menunjukkan sejumlah terduga teroris mengalami radikalisasi melalui internet, khususnya media sosial.

AW, seorang pedagang bakso yang menjadi tersangka perakit bom panci di Bandung, diketahui terpengaruh ajakan di media sosial. Kepala Divisi Humas Polri Irjen Setyo Wasisto mengatakan AW kerap menjelajahi konten-konten radikal menggunakan telepon selulernya.

Pengaruh konten radikal di dunia maya juga berdampak pada DYN, perempuan calon pengebom bunuh diri yang ditangkap akhir tahun lalu. Perempuan kelahiran Cirebon itu berencana melakukan serangan bom bunuh diri ke Istana Kepresidenan, saat pergantian giliran jaga pasukan pengaman presiden (Paspampres).

Untuk melawan penyebaran pengaruh radikal di internet, khususnya di media sosial, Kapolri Jenderal Tito Karnavian mengatakan bakal menguatkan kemampuan pendeteksian dalam wujud patroli internet.

"Harus dilakukan patroli internet dengan memperkuat, mengonsolidasikan kekuatan siber nasional. Polisi, BIN, Badan Siber, Kemenkominfo, semua," kata Tito.

Strategi Polri lainnya, lanjut Tito, adalah menutup situs-situs radikal dan melakukan penetrasi ke percakapan di internet.

"Semua saluran komunikasi mereka dipenetrasi atau di-take down. Yang nggak bisa ditutup, kita masuk dan menjadi bagian mereka dan tahu rencana mereka," papar Tito.

Hak atas foto BBC Indonesia
Image caption Sebuah contoh penerbitan yang pernah dibuat oleh kelompok pendukung ISIS di Indonesia.

Metode perekrutan

Menebar pengaruh radikal melalui internet memang telah dilakukan kelompok-kelompok garis keras beberapa tahun terakhir untuk merekrut anggota.

Biasanya mereka mempublikasikan propaganda secara terbuka lewat Facebook dan YouTube. Orang-orang yang tampak tertarik dengan propaganda itu kemudian didekati melalui aplikasi percakapan, seperti Whatsapp dan Telegram.

Metode itu jauh berbeda dengan Bom Bali pada 2002, yang para pelakunya saling mengenal dan telah berpengalaman menjalani pertempuran di Afghanistan dan pelatihan di Mindanao, Filipina.

"Sekarang nggak sampai enam bulan sudah beraksi. Para pelakunya juga tidak saling mengenal bertahun-tahun. Kalaupun saling kenal, pasti prosesnya cepat. Misalnya, kenal lewat online baru ketemu offline, atau kenal offline baru kemudian ditindaklanjuti lewat online," kata Noor Huda.

Noor Huda mencontohkan DYN, perempuan calon pengebom bunuh diri yang ditangkap akhir tahun lalu. Berdasarkan temuan Polri, DYN intensif berbincang dengan tokoh ISIS di Indonesia, Bahrun Naim, melalui aplikasi percakapan Telegram.

"Dia kan nggak pernah ketemu Bahrun Naim. Kalau seseorang tertarik, digiring dan dimasukkan secara khusus ke kelompok percakapan Whatsapp. Dari situ kemudian radikalisasi berlanjut," kata Noor Huda.

Hak atas foto Videopress
Image caption ISIS kerap merilis video propaganda yang menampilkan remaja dan bocah laki-laki berperawakan Melayu sedang memanggul senjata api.

'Akan repot'

Karena banyaknya percakapan di dunia maya, langkah Polri dalam menangkal pengaruh kelompok garis keras di internet, menurut Noor Huda, tidak cukup.

"Sekarang dengan masifnya internet, sekian ribu orang berbagi konten radikal cepatnya minta ampun. Jika kita menjadikan kepolisian satu-satunya panglima dalam penanganan terorisme, akan repot," ujarnya.

Yang bisa dilakukan, paparnya, adalah menggerakkan peran masyarakat. Dia menegaskan bahwa kasus-kasus terduga teroris selalu didahului perubahan perilaku.

"Orang yang terdekat terutama keluarga, itu harus cepat-cepat membaca pertanda. Ada perubahan perilaku yang terlihat. Jika itu terjadi, di situlah intervensi harus segera dilakukan," katanya.

Noor Huda merujuk pada kasus Akbar Maulana, seorang remaja asal Aceh, yang mendapat beasiswa studi ke Turki dan dipengaruhi konsep-konsep ISIS melalui media sosial. Akbar hampir berangkat ke Suriah dan bergabung dengan ISIS namun urung setelah terharu dengan tangisan ibunya yang melarangnya untuk pergi ke Suriah.

Pada masa liburan sekolah pada Juni 2014 dia pun memutuskan untuk kembali ke Indonesia, alih-alih berjihad ke Suriah.

Cerita Akbar dan teman-temannya disampaikan Noor Huda Ismail lewat film dokumenter bertajuk Jihad Selfie.

Hak atas foto Jihad Selfie
Image caption Jihad Selfie mengisahkan remaja yang terpengaruh paham ISIS melalui media sosial.

Menandingi narasi kelompok radikal

Di samping aksi aparat penegak hukum dan menggerakan peran masyarakat, yang juga perlu ditempuh adalah menandingi narasi kelompok radikal, meskipun gaungnya mungkin dirasa masih kurang.

Nahdlatul Ulama, misalnya, melakoni hal itu dalam situs NU Online.

Pemimpin redaksi NU Online, Savic Ali, mengatakan bahwa situs tersebut sengaja membangun 'narasi tandingan terhadap narasi-narasi radikal yang dibangun kelompok garis keras'.

Savic mengisahkan bagaimana situsnya merilis narasi tandingan, misalnya, atas konsep jihad.

"Kami membuat penjelasan bahwa jihad tidak seperti yang didengungkan kelompok teroris yang atas main bom bunuh diri dengan korban tidak berdosa, tidak tahu apa-apa, itu tidak benar. Tidak ada jihad seperti itu," kata Savic.

Savic tidak menepis bahwa penebaran pengaruh radikal di internet sangat marak.

"Untuk itu, kami membangun banyak portal untuk mengimbangi kelompok garis keras ini," tandasnya.

Sepanjang 2017 Polri telah menangkap lebih dari 100 terduga teroris di Indonesia. Yang terbaru, Polda Sumatera Barat tengah menyelidiki selebaran bernada dukungan terhadap kelompok yang menamakan diri Negara Islam atau ISIS.

Topik terkait

Berita terkait