Tayangan video bunuh diri: Mengapa masyarakat tidak empati?

bunuh diri Hak atas foto PA

Video yang memperlihatkan detik-detik ketika dua orang perempuan meloncat dari lantai lima sebuah apartemen di kota Bandung, Jawa Barat, marak beredar di media sosial sejak Senin (24/07) malam.

Benny Prawira Siauw, Kepala Koordinator Into The Light Indonesia -sebuah komunitas pencegahan bunuh diri- menyayangkan beredarnya video tersebut di dunia maya.

Tindakan penyebaran video itu dianggapnya kurang berempati terhadap orang-orang depresi dan memiliki kecenderungan bunuh diri.

Dalam video tersebut terlihat orang-orang justru mengabadikan momen tersebut dengan telpon genggam mereka.

Apalagi, lanjut Benny, video yang beredar itu menjadi bahan ejekan masyarakat sehingga membuat orang-orang yang mengalami dan memiliki kecenderungan bunuh diri enggan berusaha mencari pertolongan.

"Ketika orang dengan kecenderungan bunuh diri melihat cacian, joke (kelakar) kita, akan menahan upaya mereka untuk mencari bantuan," kata Benny kepada BBC Indonesia.

"Karena mereka tahu masyarakat kita sangat judgmental (suka menilai) sehingga mereka akan memiliki kecenderungan untuk bunuh diri lebih tinggi karena mereka malu untuk mencari bantuan," tambahnya.

Penyebaran video ini, menurut Benny, akan sangat berdampak pada keluarga mereka yang melakukan bunuh diri. "Itu tidak adil untuk keluarga dari individu yang melakukan bunuh diri."

Belum lagi stigma dari masyarakat yang menganggap bunuh diri sesuatu hal yang tabu, tambahnya, sehingga menimbulkan rasa bersalah yang semakin hebat lagi.

"Padahal, mereka seperti juga kasus kematian lainnya, mereka juga butuh waktu untuk berduka. Duka dari bunuh diri itu jauh lebih berat ketimbang penyebab kematian lainnya

Dia kemudian menghimbau masyarakat segera melaporkan kepada pihak media sosial untuk menghapus konten tersebut.

Selain itu, masyarakat juga perlu menghentikan penyebaran informasi terkait orang yang bunuh diri dan video yang dapat berpotensi pada munculnya kehendak bunuh diri pada orang depresif.

"Orang yang sehat jiwa sekalipun dapat merasakan emosi negatif ketika menontonnya. Mari mulai share(membagi) konten yang bermanfaat dan lucu saja," kata dia.

Bunuh Diri Menular?

Lalu, apakah memang fenomena bunuh diri karena depresi itu bisa menular kepada orang lain?

Benny yang aktif melakukan konseling terhadap penyintas bunuh diri dan keluarganya sejak 4 tahun lalu, beranggapan bunuh diri sangat bisa menular, terutama terhadap orang yang memiliki kerentanan depresi.

Hak atas foto iStock

Contohnya, vokalis band Linkin Park Chester Bennington yang bunuh diri dengan cara gantung diri di hari ulang tahun karibnya, Chris Cornell.

Vokalis band Soundgarden ini bunuh diri dengan cara yang sama beberapa bulan sebelumnya. Diketahui bahwa Bennington mengalami depresi berkepanjangan dan sangat mengidolakan Cornell.

"Ketika penyampaian tidak aman, mempengaruhi adanya kemunculan bunuh diri pada orang lain yang rentan. Itu menginspirasi dan mendorong mereka untuk melakukan hal itu," jelas Benny.

"Selain memang kalau terkait selebritis, mereka punya attachment dengan fans. Jadi ketika idolanya bunuh diri, rasanya sama seperti patah hati," paparnya.

Tetapi anggapan seperti ini dipertanyakan peneliti psikologi Klinis dari Universitas Gadjah Mada, Putra Wiramuda, yang mengatakan pada dasarnya bunuh diri bukan menular.

Beberapa kondisi depresi yang mengarah bunuh diri memang terjadi karena faktor genetis, katanya.

Hak atas foto iStock

"Bisa jadi karena ada hereditas (keturunan), ada faktor genetis yang mempengaruhi bahwa mereka menjadi mudah depresi dan [memiliki] suicidal thought, berpikiran untuk bunuh diri. Jadi kakak adik ini ingin melakukan bunuh diri. Apalagi dipicu beberapa bulan sebelumnya ibunya meninggal," ujar Putra.

Kasus teranyar menunjukkan kedua perempuan yang bunuh diri dengan cara loncat dari balkon apartemen di kota Bandung, secara bergantian diketahui adalah kakak beradik.

Sang kakak berinisial EP (34) dan adiknya, ESP (28). Berdasar pengakuan saudaranya, keduanya diduga kuat mengalami depresi berkepanjangan.

Berdasar keterangan Kapolrestabes Bandung, Hendro Pandowo, menjelaskan motif dan penyebab kedua wanita ini bunuh diri lantaran kedua korban mengalami gangguan psikis selama delapan tahun dan pernah dirawat di Yayasan Penuai Indonesia di Bogor, sebuah panti rehabilitasi masalah kejiwaan.

Menurut keterangan kakak kandung kedua korban, Rionald Parubak, keduanya mengalami gangguan jiwa sejak tahun 2006 ketika ibu kandungnya meninggal dunia.

Peran Media Sosial

Kendati begitu, Putra mengakui media sosial berperan besar dalam menyebarkan 'penularan' bunuh diri bagi mereka yang memang memiliki kecenderungan bunuh diri. Mestinya, masyarakat dan media lebih bijaksana dalam mengabarkan peristiwa bunuh diri.

Selama ini, lanjut Putra, jika ada kasus bunuh diri yang diekspos adalah membuka aib dan menghakimi pilihan bunuh diri yang dilalukan orang yang bersangkutan.

Menurutnya, akan lebih konstruktif jika sudut pandangnya adalah pencegahan dan penanganan bunuh diri.

"Mungkin bisa cantumkan hotline service yang bisa langsung dihubungi ketika mengalami permasalahan serupa. Atau bisa juga dibuat infografik apa yang bisa dilakukan oleh orang-orang yang sedang depresi untuk bisa overcome dari masalah yang dihadapi. Mungkin itu jauh lebih baik dari pada mengumbar sisi negatifnya nanti eksesnya ke banyak orang akan semakin negatif," kata dia.

Di negara maju, lanjut Putra, kasus bunuh diri bahkan tidak diekspos di media. Jepang yang negara dengan angka bunuh diri yang tinggi, misalnya, salah satu cara mereka menekan bunuh diri adalah dengan tidak terlalu mengekspos berita soal bunuh diri.

"Karena sebenarnya ketika mereka mengekspos berita itu efek dominonya cukup mempengaruhi orang lain untuk melakukan bunuh diri yang sama," ungkap Putra.

"Kadang mereka semacam mendapat inspirasi, konfirmasi dan pembenaran jika orang lain yang punya masalah saja bisa bunuh diri maka saya pun punya hak untuk mengambil keputusan yang sama," jelasnya.

Senada, Benny menghimbau pemerintah untuk menyediakan layanan cepat, sayangnya saluran telepon yang dikenal dengan sebutan ASA dengan nomor 500-454 ini berhenti beroperasi sejak 2014.

"Pemerintah sediakan hotline, meskipun tidak dalam kondisi kita dibombardir oleh berita bunuh diri seperti belakangan ini. Dalam kondisi tenang pun itu dibutuhkan, karena sekarang hotline servicenya tidak aktif," kata dia.

Layanan konsultasi sepi peminat

Sementara itu, Kepala Biro Komunikasi dan Pelayanan Masyarakat Kementerian Kesehatan Oscar Primadi beralasan penutupan layanan konsultasi bagi penderita depresi ini lantaran sepi peminat.

Sehingga terjadi ketidakefektifan antara biaya dan sumber daya yang disediakan dengan jumlah penelefon yang masuk, katanya.

Data Kementerian Kesehatan mencatat sejak layanan ini dibuka pada 2010, jumah penelpon sebanyak 161 orang. Jumlah ini terus meningkat menjadi 222 orang pada 2011 dan 347 orang pada 2012. Kemudian, jumlah itu terus menurun dua tahun berikutnya menjadi 267 pada 2013 dan hanya 46 penelpon saja pada 2014.

"Sebagian besar penelpon lebih banyak bertanya seputar informasi kesehatan jiwa dan permintaan data atau informasi dibandingkan dengna konseling bunuh diri dan konsultasi masalah kejiwaan lainnya," ujar Oscar.

Karena itulah pihaknya menghimbau masyarakat yang ingin berkonsultasi untuk datang ke rumah sakit jiwa terdekat.

Saat ini beberapa rumah sakit jiwa sudah memiliki layanan konseling dan konsultasi melalui telpon, antara lain RSJ Amino Gondohutomo Semarang, RSJ Marzoeki Mahdi Bogor, RSJ Soeharto Heerdijan Jakarta, RSK Prof. Dr Soerojo Magelang dan RSJ Radjiman Wediodiningrat Malang.

Selain itu, peserta BPJS Kesehatan dapat melakuan pengobatan dan terapi pasien gangguan jiwa dengan gratis. Tentu ada prosedur untuk mendapatkan manfaat itu, yakni dengan berobat ke fasilitas kesehatan 1, dalam hal ini Puskesmas atau klinik setempat dan tidak bisa langsung ke rumah sakit.

Kendati begitu, fasilitas terapi gratis yang ditanggung oleh BPKJS Kesehatan ini belum bisa menjawab masalah kesehatan mental di masyarakat. Menurut Putra, tidak semua psikolog memiliki psikolog lantaran tidak memadainya jumlah psikolog di masyarakat.

"Idealnya, 22 psikolog berbanding 100.000 kasus. Data 2012 pkolog klinis hanya 345 orang yang harus menghadapi 240 juta jiwa. Ditambah lagi mereka hanya terpusat di pulau Jawa, tidak tersebar di seluruh Indonesia. Ini akan semakin mempersulit pasien untuk mencari layanan kesehatan yang sesuai," ujarnya.

Deteksi Dini

Minimnya fasilitas kesehatan jiwa, mengharuskan keluarga untuk lebih mawas diri dan deteksi dini untuk mencegah anggota keluarganya melakukan bunuh diri.

Menurut Putra, orang-orang yang melakukan bunuh diri biasanya mengambil keputusan itu tidak mendadak. Sebagian besar dari mereka bahkan sudah memikirkan itu secara bertahun-tahun.

"Bahkan, mungkin mereka sudah sering membicarakan hal ini ke orang-orang terdekat mereka sampai akhirnya mereka mengambil keputusan itu bukan suatu keputusan yang mendadak sebenarnya," katanya.

Cara yang paling mudah yang dilakukan keluarga, lanjut Putra, adalah dengan mendengarkan dengan penuh empati apabila sudah ada tanda-tanda salah satu anggota sudah mengarah ke obrolan tentang bunuh diri.

"Cara yang paling mudah adalah deteksi dini sebelum berlarut-larut, sebelum pikiran itu mulai tumbuh seperti kanker di pikiran mereka sampai akhirnya mereka melakukannya, sebisa mungkin berempatik ke mereka, mendengarkan mereka dan mengajak mereka ke psikolog atau psikiater," cetusnya.

World Health Organization (WHO) memasukkan depresi sebagai masalah utama kesehatan di dunia.

Berdasar data terakhir WHO saat ini lebih dari 300 juta orang di seluruh dunia hidup dengan kondisi depresi pada 2015, atau naik 18% ketimbang satu dekade sebelumnya. Setiap tahun, hampir 800.000 meninggal akibat bunuh diri.

Etika bermedia sosial

Sementara, konsultan marketing media sosial dan perilaku netizen, Nukman Luthfie menilai beredarnya video bunuh diri dua orang wanita di media sosial menunjukkan publik belum memahami etika bersosial media.

Ditambah lagi kecenderungan pengguna media yang menyebarkan suatu konten pertama kali merasa dirinya paling hebat.

Hak atas foto Getty Images

Semestinya, pengguna sosial lebih bijak untuk memposting konten positif.

Nukman menjelaskan, media sosial menjadi ajang bagi penggunanya untuk menyebarkan emosi, baik emosi positif -cinta dan kasih sayang, maupun emosi negatif - benci dan marah dan cepat menyebar ke pengguna lain yang memiliki emosi yang sama.

"Ini sudah ada hasil risetnya, emosi menyebar bagaikan virus melalui sosial media," kata Nukman.

Dalam perkembangannya, lanjut Nukman, media sosial menjadi platform bagi penggunanya untuk menyebarkan informasi. Ketika pengguna memiliki akun media sosial, otomatis dia menjadi media lantaran ia memiliki konten, jalur distribusi dan pembaca.

"Sekarang kita posting apa pun lah, terus ada yang membacanya, itu bisa jadi media dan menyebar. Harusnya sosial media mengadopsi etika-etika yang diadopsi oleh media mainstream," kata dia.

Berita terkait