Kebakaran hutan-lahan di Aceh membesar, kabut asap ganggu pernafasan penduduk

Aceh Hak atas foto AFP/GETTY IMAGES/CHAIDEER MAHYUDDIN
Image caption Ilustrasi. Hampir setiap tahun Aceh dilanda kebakaran hutan dan lahan, seperti di Aceh Besar tahun 2016 yang terlihat pada foto ini.

Kebakaran hutan dan lahan seluas 64 hektar di Kabupaten Aceh Barat mulai mengganggu pernafasan warga setempat. Hari Minggu lalu, setidaknya tiga orang dilarikan ke RSUD Cut Nyak Dhien Meulaboh kerena terdampak asap kebakaran.

Kepala Pusat Data, Informasi, dan Humas BNPB Sutopo Purwo Nugroho menyebut Kebakaran hutan dan lahan (karhutla) itu terjadi di lima kecamatan, yakni Woyla, Meureubo, Sama Tiga, Johan Pahlawan, dan Arongan Lambalek.

Penyebabnya, kata Sutopo, masyarakat membersihkan lahan dengan cara membakar sisa tanaman. "Akibatnya api menyebar ke lahan lain," kata Sutopo melalui keterangan tertulis, Selasa (25/07).

Sutopo menuturkan, karhutla tersebut mulai muncul sejak Selasa pekan lalu. Hingga kini sejumlah lahan gambut dan mineral masih terbakar.

BNPB memprediksi, karhutla berpotensi membesar seiring puncak musim kemarau pada Agustus dan September. "Ancaman karhutla dan kekeringan akan meningkat," tutur Sutopo.

Terhambat infrastruktur

Sutopo mengatakan, personel gabungan dari sejumlah instansi sulit memadamkan api. Ia berkata, para personel terhambat ketiadaan akses jalan ke lokasi pembakaran.

Tak hanya itu, Sutopo menyebut upaya penjinakan api juga terkendala jumlah mobil pemadam dan sumber air yang terbatas. "Penanganan dilakukan secara manual," ucapnya.

Hak atas foto AFP/GETTY IMAGES/CHAIDEER MAHYUDDIN
Image caption Kabut asap seperti yang terjadi di perkebunan sawit, Aceh Jaya, tahun 2014, kembali terulang setiap tahun di berbagai wilayah Aceh.

Polres Aceh Besar tercatat telah mengerahkan water cannon ke lokasi karhutla. Di sisi lain, BPBD mulai membagikan masker dan makanan siap saji kepada warga terdampak karhutla.

Berdasarkan pantuan LAPAN melalui satelit Aqua, Terra, dan SNNP, saat ini terdapat 170 titik panas di seluruh Indonesia. Sebanyak 35 titik api di antaranya berada di Aceh.

Provinsi dengan jumlah titik api terbesar saat ini adalah Nusa Tenggara Timur (44). Jawa Timur berada di bawah Aceh dengan 9 titik api, sedangkan Kalimantan Selatan dan Nusa Tenggara Barat di peringkat berikutnya dengan 8 titik api.

Sementara itu, dalam catatan Global Forest Watch Fires selama 17 hingga 24 Juli, Sumba Timur merupakan kabupaten dengan jumlah titik api terbesar, diikuti Aceh Barat, Nagan Raya, dan Aceh Singkil.

Pada peta pantauan Global Forest Watch Fires, Aceh tertutup warna merah karena memiliki kerentanan karhutla sangat besar.

Berita terkait