Tujuh orang yang mengubah sejarah LGBT

para tokoh Hak atas foto Getty Images

Dalam banyak hal, saat ini adalah momen yang tepat untuk menjadi gay dan lesbian -dan LGBT pada umumnya.

Sudah semakin normal melihat pasangan sesama jenis berpegangan tangan di depan umum. Bahkan di berbagai belahan bumi, sekarang orang bisa merayakan pernikahan sesama jenis.

Namun, tiga bulan setelah pemungutan suara Brexit, serangan homofobia meningkat 147%. Kekhawatiran yang sama juga terjadi di benua seberang. Wakil Presiden Amerika, Mike Pence menetang pernikahan sesama jenis dan menandatangi sebuah undang-undang yang melegalkan sektor bisnis untuk menolak pelanggan gay dan transgender atas dasar kebebasan beragama. LGBT juga menghadapi risiko masalah kesehatan yang terus meningkat.

Presiden Donald Trump bahkan membatlakn ketetapan Presiden Obama yang tak lagi membatasi keterlibatan kaum LGBT di dinas militer. Jadi, kendati begitu banyak pencapaian, ternyata masih banyak hal yang harus diperjuangkan.

Inilah sejumlah manusia luar biasa yang telah berjuang untuk hak-hak kaum gay dan lesbian.

1. Karl Heinrich Ulrichs: Orang gay pertama yang secara terbuka menyuarakan hak-hak homoseksual

Karl Heinrich Ulrichs adalah seorang pegawai negeri di Jerman sampai dia dipaksa untuk mengundurkan diri pada tahun 1854 karena homoseksualitasnya

Dia menjadi aktivis dan menerbitkan 12 jilid karya tentang seksualitas, termasuk apa yang diyakini sebagai teori pertama tentang homoseksualitas. Dia berpendapat homoseksualitas adalah, 'kondisi bawaan' bukan korupsi yang bisa dipelajari, seperti pandangan yang berlaku saat itu.

Urlich dianggap sebagai orang gay pertama yang secara terbuka menyuarakan hak-hak homoseksual. Pada tahun 1867, dia mendesak pemerintah Jerman untuk mencabut undang-undang anti-homoseksualitas, dan itu membuatnya ditempatkan sebagai pelopor gerakan hak kaum gay.

2. Barbara Gittings: Ibu gerakan hak-hak sipil LGBT

Barbara Gittings lahir di Wina, Austria, pada tahun 1932, dan pindah ke Philadelphia, AS pada usia 18 tahun.

Ia dikisahkan bepergian dengan menumpang mobil di New York pada akhir pekan dengan pakaian pria.

Gittings mengepalai cabang Daughters of Bilitis (DOB) New York di tahun 1950an - organisasi hak-hak sipil lesbian pertama di AS.

Pada 1070-an, dia adalah anggota terkemuka dari gerakan perlawanan untuk mengeluarkan homoseksualitas dari daftar gangguan kejiwaan American Psychiatric Assosiation (APA).

Pada tahun 2006, APA mengakui upayanya dengan memberinya penghargaan hak asasi manusia.

3. Harvey Milk: Orang gay terbuka pertama yang terpilih sebagai pejabat publik

Harvey Milk lahir di New York pada tahun 1930, dan menjadi aktivis hak gay terkemuka.

Dia menyuarakan hak-hak gay setelah pindah ke San Fransisco pada tahun 1972.

Hak atas foto Getty Images

Pada tahun 1977 dia menjadi orang gay pertama yang terpilih menjadi pejabat publik, memenangkan kursi di Dewan Kota San Fransisco. Dia sebelumnya juga pernah mencalonkan diri dua kali, namun tidak berhasil.

Milk tewas terbunuh pada tahun 1978 oleh Dan White, seorang anggota dewan kota.

Kehidupan Harvey Milk diangkat dalam sejumlah besar buku dan film, termasuk Milk (2008) yang dibintangi Sean Penn dan mendapat penghargaan Academy Awards.

4. Magnus Hirschfeld: Ayah dari transgenderisme

Hak atas foto Getty Images

Hirschfeld diyakini telah menciptakan istilah 'transvestitisme'.

Dia mendirikan klinik identitas gender pertama di dunia, yang kliennya termasuk Einar Wegener (tokoh protagonis film Danish Girl pada 2015, yang beralih menjadi Lili Elbe - salah satu orang pertama yang menjalani operasi ganti kelamin).

Hirschfeld mulai meneliti seksualitas setelah pindah ke Berlin pada tahun 1896, di mana dia tinggal sebagai pria gay secara terbuka dan berkampanye untuk hak-hak kaum gay.

Dia pernah digambarkan Hitler sebagai "Yahudi paling berbahaya di Jerman" dan seluruh perpustakan Institute for Sexual Science miliknya dibakar oleh Nazi.

5. Audre Lorde: Penyair prajurit lesbian

Hak atas foto Getty Images

Audre Lorde mendefinisikan dirinya sebagai 'lesbian kulit hitam penyair pejuang.'.

Lahir di New York pada tahun 1934, Lorde bekerja sebagai pustakawan selama bertahun-tahun sebelum menerbitkan buku puisi pertamanya, First Cities, pada tahun 1968.

Karyanya mencakup segala hal mulai dari hak sipil (The Black Unicorn) dan seksualitas, hingga pertempurannya dengan kanker payudara (A Burst of Light, dimana Lorde menerima American Book Award).

Dia mengilhami Barbara Smith untuk menciptakan Kitchen Table: Women of Color Press, penerbit A.S. yang pertama oleh, untuk, dan tentang perempuan kulit berwarna.

Pada tahun 2001, Audre Lorde Award diluncurkan untuk menghormati karya puisi kaum lesbian.

6. Bayard Rustin: pahlawan hak-hak sipil gay

Hak atas foto Getty Images

Bayard Rustin adalah penasihat Martin Luther King, dan seorang aktivis gay yang terbuka.

Dia adalah tokoh kunci di Washington for Jobs and Freedom pada Maret 1963, saat Martin Luther King memberikan pidato bersejarahnya "Saya bermimpi".

Walter Naegle, mitra Rustin selama dekade terakhir hidupnya, mengatakan bahwa dia adalah "seseorang yang berjuang untuk memperluas kebebasan demokratis kita dan meningkatkan kebebasan sipil dan kebebasan individu kita."

Pada tahun 1948, Rustin menjalani hukuman penjara karena menolak berperang. Catatan penjara-nya mendefinisikan dia sebagai "mengaku homoseksual" - satu alasan, mungkin, mengapa Rustin tidak mendapat pengakuan yang sama dengan orang lain dalam gerakan hak-hak sipil.

7. Christine Jorgensen: transgender eks-GI

Hak atas foto Getty Images

Lahir George Jorgensen di Bronx, New York, Jorgensen menjalani satu setengah tahun perawatan hormon dan operasi jenis kelamin tahun 1952.

Christine turun dari pesawat dengan baju berbalut bulu, pasca operasi yang dilakukan di Denmark.

Teit Ritzau, dokter Denmark, yang mengenal Christina dengan baik mengatakan "Jorgensen muda itu mengidentifikasi dirinya… sebagai perempuan yang kebetulan berada di tubuh laki-laki."

Ketika kembali ke New York, Jorgensen menjadi sasaran media dan memicu diskusi nasional tentang identitas gender.

Pada tahun 1952, dia dinobatkan sebagai Woman of the Year oleh Masyarakat Skandinavia di New York.

Jorgensen sendiri mengakui betapa revolusioner kasusnya, dengan mengatakan, "Kami tidak memulai revolusi seksual, tapi saya pikir kami turut mendorongnya!"

Dia meninggal pada tahun 1989 karena kanker.

Topik terkait

Berita terkait