Kasus nobar cabul di sekolah: apa tanggung jawab orang tua?

Orang tua berperan penting dalam mencegah anak-anak mengakses konten pornografi, kata seorang pegiat keamanan berinternet. Hak atas foto Science Photo Library
Image caption Orang tua berperan penting dalam mencegah anak-anak mengakses konten pornografi, kata seorang pegiat keamanan berinternet.

Kasus dugaan nonton bersama film cabul di sebuah sekolah menegaskan, orang tua perlu memulai diskusi tentang literasi digital dengan anak pada hari pertama mereka memberikannya gawai, menurut seorang pegiat keamanan berinternet.

Peneliti ICT Watch, Doni Budi Utoyo mengatakan bahwa diskusi bersama orang tua yang dilakukan secara berkala merupakan langkah utama untuk mencegah anak-anak mengakses konten pornografi.

"Mulai komunikasi pada saat hari pertama dia mau ngasih handphone ke anaknya, mau ngasih gadget ke anaknya, mau ngasih uang buat beli pulsa ke anaknya. Itu ada yang harus diomongin pertama kali dan berkelanjutan, secara berkala," tutur Doni kepada BBC Indonesia.

Masalah ini kembali menjadi perhatian setelah beredarnya sebuah foto di media sosial yang menunjukkan beberapa siswa berseragam pramuka diduga menonton film porno di kelas dengan menggunakan proyektor. Foto tersebut dilaporkan ke aplikasi Halo Polisi milik Polresta Depok pada Senin (24/07) malam.

Polisi masih menyelidiki foto tersebut. Belum diketahui lokasi foto diambil - ataupun keasliannya. Kepala Unit Kriminal Khusus Polresta Depok Firdaus mengatakan kepada BBC Indonesia, penyelidikan awal menunjukkan bahwa foto tersebut diunggah dari Bekasi.

"Kita harus memeriksa yang bersangkutan," kata Firdaus.

Akses ke pornografi dilarang ketat di Indonesia, dengan ancaman penjara bagi pembuat dan penyebar kontennya. Pemerintah juga menyatakan telah memblokir lebih dari 700.000 situs web, yang mayoritasnya memuat konten pornografi.

Namun, data mengindikasikan kenyataan yang sebaliknya. Salah satu situs pornografi terbesar di dunia, Pornhub, mencatat Indonesia sebagai negara dengan pertambahan mobile traffic share kedua terbanyak (457%) pada 2014. Itu berarti Indonesia termasuk negara yang sering mengakses konten pornografi lewat ponsel - meskipun tidak termasuk 20 negara dengan lalulintas terbanyak.

Hak atas foto Pornhub
Image caption Indonesia menempati peringkat dua dalam daftar negara dengan peningkatan traffic ponsel terbesar pada 2014.

Studi yang lebih baru dari Wired menunjukkan bahwa Indonesia termasuk negara dengan pengguna Virtual Private Network (VPN) terbanyak (41%) pada 2016. Seperti diketahui, VPN ialah cara yang kerap digunakan pengguna internet untuk mengelak dari sensor pemerintah.

Menurut Doni Budi Utoyo dari ICT Watch, memblokir seluruh konten negatif di internet memang pekerjaan mustahil. Penyaringan yang dilakukan Kementerian Komunikasi dan Informasi, kata Doni, ialah upaya minimum karena pertumbuhan konten dan variasi jenisnya tidak pernah benar-benar bisa dipantau.

Maka dari itu, tanggung jawab "paling dominan" ada di tangan orang tua. Ada tiga hal yang menurutnya perlu didiskusikan orang tua bersama anak ketika pertama kali mengamanahkan gawai.

"Pertama, diskusikan kebutuhannya. Pada saat si anak kita kasih gawai... (kita tanya) 'Nak, ini buat apa? Kebutuhanmu apa? ... Paling enggak orang tua mengeksplorasi itu. Kemudian diskusikan tanggung jawabnya. Dan yang ketiga ialah diskusikan risikonya. Ini saja dulu dijalanin," tutur Doni.

Setelah langkah tersebut, lanjut Doni, orang tua dapat menggunakan aplikasi Kontrol Orang Tua untuk memantau penggunaan internet anak dari jauh atau membatasi akses mereka.

Pendidikan seks

Menurut Psikolog Liza Marielly Djaprie, akar masalah terpaparnya anak-anak dengan pornografi ialah kultur masyarakat Indonesia yang umumnya menganggap seksualitas sebagai hal yang tabu untuk dibicarakan secara terang-terangan. Ini menyebabkan topik tersebut tidak terbahas secara proporsional, ujarnya.

"Sehingga tidak ada, atau amat sangat jarang, ada sekolah yang memberikan pendidikan seksualitas karena nanti dianggap tak sesuai dengan agama, tak sesuai dengan budaya, segala macam... terus kadang-kadang anak kecil pun ketika diajarkan alat kelaminnya itu bisa menggunakan kata-kata lain ... yang mengakibatkan anak tidak tahu kalau itu suatu hal yang normal.

"Sementara ada teori kalau di psikologi itu... makin dilarang-larang, biasanya pikiran kita makin penasaran."

Liza berpendapat perlu dicanangkan pendidikan seksualitas di setiap tahap institusi pendidikan supaya pertanyaan-pertanyaan tentang itu di kepala anak-anak dapat disampaikan kepada ahlinya dan didiskusikan dalam wacana yang tepat.

Hak atas foto Thinkstock
Image caption Psikolog Liza Marielly Djaprie berpendapat, perlu dicanangkan pendidikan seks secara formal meski di tengah masyarakat yang umumnya menganggap seksualitas sebagai hal yang tabu untuk dibicarakan.

Selain itu, senada dengan Doni, Liza juga menekankan pentingnya peran orang tua dalam pembentukan karakter anak.

"Bagaimana orang tua, atau orang dewasa mengajarkan arti kasih itu seperti apa sih... hubungan cinta kasih itu seperti apa. Kemudian (memperhatikan) apakah anak sering terekspos dengan hubungan suami-istri," jelasnya.

Menteri Pemberdayaan Perempuan dan Perlindungan Anak Yohana Yambise telah mengatakan bahwa 25. Ia menyebut pornografi sebagai salah satu pemicu kasus pelecehan seksual.

Topik terkait

Berita terkait