Walau hujan kurangi titik api, kabut asap masih kepung Aceh Barat

aceh Hak atas foto Junha
Image caption Kabut asap mengepung Kota Meulaboh selama beberapa hari terakhir.

Kebakaran hutan dan lahan (karhutla) masih terus berlangsung di Kabupaten Aceh Barat, walaupun bom air dan hujan yang dua kali turun di kawasan itu mengurangi titik api.

"Kemarin kabut asap memang mengepung kota, tapi Alhamdulilah hujan turun. Titik api sudah banyak berkurang," kata Kepala BPBD Aceh Barat Teuku Syahluna Polem kepada BBC Indonesia, Jumat (28/07).

Syahluna menyebut lembaganya masih akan menjatuhkan bom air. Jumat (28/07) ini, dua helikopter dijadwalkan melakukan water bombing di dua kecamatan, yakni Johan Pahlawan dan Kayaw XVI.

"Sudah ada dua helikopter yang tiba di Meulaboh. Satu sudah beroperasi sejak tiga hari lalu, yang satu datang kemarin sore," tuturnya.

Hak atas foto Junha
Image caption Kebakaran di Aceh Barat kebanyakan terjadi di lahan gambut.

Sebelumnya, anggota BPBD serta personel gabungan dari Polri dan TNI kesulitan memadamkan api di lahan yang berada di tengah hutan. Selain akses menuju lokasi kebakaran buruk, kekeringan dan keterbatasan alat menyulitkan proses pemadaman.

"Sebelum heli datang, kami memang tidak mampu memadamkan api di tengah hutan. Kami memadamkan api dengan alat ala kadarnya. Water cannon milik polisi dan TNI juga dikerahkan," kata Syahluna.

Sementara itu, Kepala Dinas Kesehatan Aceh Barat, Zafril Luthfi, menyebut setidaknya 241 warga enam kecamatan di kabupaten itu menderita infeksi saluran pernafasan akut (ISPA). Kepada wartawan, dia menyebut ratusan warga itu terlalu banyak menghirup asap karhutla.

"Sebenarnya ISPA itu selalu ada. Namun karena kabut asap, trennya jadi meningkat dari kondisi normal. Apabila ditemukan pneumonia maka harus menjalani rawat inap di Rumah Sakit Umum Daerah (RSUD) atau Puskesmas," katanya.

Hak atas foto Junha
Image caption Warga di Aceh Barat memakai masker agar tidak langsung menghirup kabut asap.

Kepada BBC Indonesia, warga Meulaboh bernama Edi Saputra menyebut kabut asap telah masuk ke pemukiman penduduk, termasuk rumahnya. Ia pun berinisiatif meminta istri dan balitanya menggunakan masker selama di rumah.

"Kabut asap sangat menggangu aktivitas. Biasanya udara pagi mudah dihirup, tapi selama tiga hari belakangan, kami susah bernafas, termasuk saat di rumah yang berjarak hampir 44 kilometer dari titik kebakaran," ujarnya.

Tak hanya itu, Edi menyebut kabut asap juga mengganggu mobilitasnya dari satu tempat ke tempat lain. Asap, kata dia, membuat jarak pandang pengendara lalu lintas menjadi terbatas.

Hak atas foto Junha
Image caption Akibat kabut asap, setidaknya 241 warga enam kecamatan di Aceh Barat menderita infeksi saluran pernafasan akut (ISPA),

Direktur lembaga Walhi Aceh, Muhammad Nur, mengatakan hasil analisis pihaknya hingga akhir Juli 2017 terdapat sekitar 40 titik panas yang tersebar di delapan kabupaten/kota di Aceh.

Sebaran titik panas terbanyak berada di Aceh Barat 12 titik dan Nagan Raya 11 titik, Aceh Besar, Aceh Jaya, Aceh dan Tengah masing-masing tiga titik. Sedangkan di Aceh Singkil, Gayo Lues dan Su­bulussalam satu titik.

Dikatakan, kerusakan hutan dan lahan hingga saat ini sudah mencapai 960.000 hektare (Ha) karena berubah fungsi menjadi pertambangan legal maupun ilegal, perkebunan rakyat maupun industri, pembangunan 44 ruas jalan dalam kawasan hutan dan proyek energi.

Menurutnya, perubahan fungsi lahan gambut menjadi perkebu­n­­an merupakan faktor utama penyebab kebakaran di Aceh.

Topik terkait

Berita terkait