Polisi Cina ikut buru lebih dari 100 'penipu' warga Cina dan Taiwan di Indonesia

EPA Hak atas foto EPA
Image caption Polisi mengatakan sebagian tersangka kejahatan siber yang ditangkap di Indonesia tidak memegang paspor.

Polri dan kepolisian Cina bekerjasama melakukan operasi memburu dan menangkap lebih dari 100 warga Cina dan Taiwan yang melakukan penipuan di indonesia dengan mengaku sebagai penegak hukum.

Direktorat Jenderal Imigrasi membantah 'kecolongan' sehubungan dengan masuknya lebih dari 100 warga Cina dan Taiwan di Indonesia yang diduga melakukan kejahatan siber itu.

Kabag Humas dan Umum Direktorat Jenderal Imigrasi, Agung Sampurno, membantah pihaknya kecolongan dengan masuknya para tersangka dari Cina dan Taiwan.

"Kita bukan kecolongan. Kalau kita tangkap satu-dua orang di imigrasi, bisa bubar semua teman-temannya. Tindak pidana cyber crime kan baru ditangkap kalau sudah melakukan perbuatan. Ditangkap di tiga tempat adalah bagian strategi dari penyidik Polri," kata Agung kepada BBC Indonesia.

Sebelumnya, Mabes Polri bekerja sama dengan Kepolisian Cina menggelar penangkapan terhadap lebih dari 100 warga Cina dan Taiwan di Jakarta, Surabaya, dan Bali yang diduga melakukan kejahatan siber.

Hak atas foto EPA
Image caption Di Jakarta, Polri dan kepolisian Cina menangkap 27 warga Cina dan Taiwan di perumahan Pondok Indah. Sementara di Bali, polisi membekuk 28 orang. Adapun di beberapa lokasi di Surabaya, sebanyak 93 orang ditangkap.

Di Jakarta, Polri dan kepolisian Cina menangkap 27 warga Cina dan Taiwan di perumahan Pondok Indah. Sementara di Bali, polisi membekuk 28 orang. Adapun di beberapa lokasi di Surabaya, sebanyak 93 orang ditangkap.

Kepada wartawan, Kepala Biro Penerangan Masyarakat Divisi Humas Polri, Brigjen Rikwanto, mengatakan para tersangka menghubungi calon korban di Cina dan Taiwan dari Indonesia dengan berpura-pura sebagai aparat penegak hukum asal Cina dan Taiwan.

Kemudian para tersangka mengatakan kepada calon korban bahwa dia sedang diselidiki karena terkait kasus pidana. Mereka kemudian meminta sejumlah uang agar kasus pidana tersebut dihentikan.

Di Surabaya saja, Kepala Tim Tindak Surabaya Satgas Khusus Bareskrim Polri, AKBP Susatyo Purnomo, mengatakan keuntungan yang diperoleh mencapai Rp 5,9 triliun.

Hak atas foto EPA
Image caption Kepolisian Indonesia menangkap seorang warga Taiwan yang diduga menyelundupkan sabu sebanyak satu ton di Anyer, Provinsi Banten, 13 Juli lalu.

Tanpa paspor

Polri menyebut sebagian besar tersangka tidak memiliki paspor. Di Surabaya, misalnya, hanya 20% dari 93 tersangka yang memiliki paspor. Adapun di Jakarta, semua tersangka tidak menyimpan paspor.

Menanggapi hal ini, Wakil Kepala Polri, Komjen Syafruddin mengatakan adanya broker paspor yang ikut terlibat dalam sindikat ini.

"Masuk ke Indonesia pasti pakai paspor, para broker dan sebagainya dikoordinir oleh brokernya. Nah dia jadi tidak bawa paspor," ujarnya.

Menteri Hukum dan Hak Asasi Manusia, Yasonna Laoly, tidak percaya mereka tidak punya paspor.

"Tidak mungkin mereka masuk kemari tanpa paspor. Mungkin mereka sengaja membuangnya untuk mempersulit. Nanti kalau tidak ada kita minta surat perjalanan dari Dubes Cina. Kepolisian Cina juga ada di sini, kita minta mereka mengawal proses hukum mereka," kata Yasonna Laoly, Senin (31/07).

Penangkapan terhadap warga Cina dan Taiwan yang diduga terlibat kejahatan siber telah berlangsung selama beberapa tahun terakhir. Pada 2017, setidaknya ada empat penggerebekan yang berujung pada penangkapan sejumlah warga Cina dan Taiwan.

Penangkapan warga Cina dan Taiwan

  • Agustus 2016

Polisi menangkap 31 warga Cina dan Taiwan di Perumahan Green Garden dan Apartemen Taman Anggrek, Jakarta Barat atas dugaan kejahatan siber.

  • Maret 2017

Polisi membekuk setidaknya 64 orang warga Taiwan di Pantai Indah Kapuk, Jakarta Utara. Mereka diduga melaukan penipuan via telepon dengan menjebak sejumlah pejabat dan orang penting Taiwan.

  • Mei 2017

Kepolisian Sumatera Utara, petugas Imigrasi Kelas I Sumatera Utara dan petugas Interpol menangkap 78 warga negara Cina dan Taiwan di Kabupaten Deli Serdang.

Puluhan warga asing tersebut ditangkap karena diduga memeras dengan modus operandi mengaku sebagai petugas pemberantasan korupsi dan jaksa.

  • Juni 2017

Kepolisian Resor Bogor Kota, Jawa Barat menangkap 31 warga Cina yang diduga melakukan kegiatan penipuan secara daring.

  • Juli 2017

Polri bekerja sama dengan Kepolisian Cina menangkap 148 warga Cina dan Taiwan di Jakarta, Surabaya, dan Bali atas dugaan kejahatan siber.

Topik terkait

Berita terkait