Dimas Kanjeng divonis 18 tahun, istri korban histeris: ‘Di mana keadilan?’

cover Hak atas foto Rayi Landung/Mustaghfirin

Dimas Kanjeng Taat Pribadi divonis 18 tahun penjara oleh pengadilan negeri Kraksaan, Kabupaten Probolinggo, Jawa Timur. Lelaki pemilik padepokan 'pengganda uang' itu disebut majelis hakim terbukti menganjurkan pembunuhan berencana terhadap dua orang.

"Terdakwa secara sah dan meyakinkan terbukti menganjurkan pembunuhan yang direncanakan itu. Sejumlah unsur mulai dari secara sengaja, berencana serta menghilangkan nyawa orang lain telah terbukti dalam persidangan," tutur ketua Majelis Hakim, Basuki Wiyono, Selasa (01/08).

Vonis tersebut lebih ringan dari pada tuntutan jaksa penuntut umum (JPU) yaitu hukuman seumur hidup.

Nama Taat Pribadi atau yang dikenal dengan Dimas Kanjeng populer pada akhir 2016 lalu. Laki-laki yang memiliki padepokan di Kecamatan Gading, Probolinggo ini, mengklaim bisa menggandakan uang hingga seribu kali dari jumlah yang disetorkan.

Hak atas foto Rayi Landung
Image caption Dimas Kanjeng berbicara dengan penasehat hukumnya.

Kasus hukum membelitnya ketika Dimas Kanjeng dituding menipu, dan merencanakan pembunuhan dua bekas anak buahnya, Ismail Hidayah (tewas pada Februari 2015) dan Abdul Ghani (tewas pada April 2016). Mereka dibunuh karena Dimas disebut khawatir, keduanya akan membocorkan dugaan praktik penipuan penggandaan uang.

Sebelum sidang vonis dimulai, Dimas Kanjeng, kepada wartawan di Proboliggo, Rayi Landung, mengungkapkan kalau dia berkeinginan "bisa bebas, itu harapan saya."

Saling banding

Wartawan Rayi Landung melaporkan, persidangan di pengadilan negeri Kraksaan berlangsung dengan penjagaan ketat. Sebanyak 200 personil polisi dari Polres Probolinggo dan Brimob Polda jawa Timur, bersiaga sejak pagi.

Hak atas foto Rayi Landung
Image caption Personil kepolisian menjaga ketat ruang persidangan saat vonis Dimas Kanjeng.

Pengunjung dibatasi. Hanya sedikit wartawan yang diperbolehkan masuk. Warga dan peliput yang menunggu di luar juga tidak bisa mendengarkan jalannya persidangan, karena pengeras suara tidak disediakan.

Usai sidang vonis, kepada wartawan di luar persidangan, kuasa hukum Dimas Kanjeng, M Sholeh menyatakan pihaknya telah mengajukan banding. Dia menyebut vonis hakim 'penuh keragu-raguan'.

"Terdakwa tidak ada kaitannya dengan pembunuhan itu... Kalau dibebaskan, (hakim) takut sama opini masyarakat, nanti dituduh menerima sesuatu. Vonis 18 tahun ini di luar perkiraan kita."

Image caption Salah-seorang tersangka pembunuhan bekas anggota padepokan Dimas Kanjeng saat rekonstruksi, Senin (03/10/2016).

Banding terhadap keputusan hakim, juga diajukan JPU.

"Dan hasilnya dapat dibuktikan bahwa terdakwa Taat Pribadi itu terbukti sah dan meyakinkan melakukan penganjuran untuk melakukan pembunuhan berencana. Saya banding karena dalam tuntutan kami seumur hidup, dan karena terdakwa banding, saya mengajukan banding juga," ungkap koordinator JPU, Usman.

Istri korban histeris

Dalam perjalanan kasus pembunuhan Ismail Hidayah dan Abdul Ghani, kepolisian telah menyebutkan bahwa kedua lelaki mantan anak buah Dimas Kanjeng itu, kerap ditagih 'santri-santri' Dimas yang telah menyetor uang, tetapi tidak kunjung mendapatkan hasil gandaan.

Mereka yang terpojok pun, mengancam akan membongkar praktek penipuan Dimas Kanjeng. Namun, ancaman itu berbalas "SMS ancaman dari teman-teman Dimas di Padepokan." Keduanya kemudian dibunuh.

Mendengar vonis 18 tahun itu, istri Ismail Hidayah, Bibi Resemjen histeris di luar ruang sidang.

"Putusan apa? Ini keputusan namanya ha? Membunuh dua orang yang membuat dia kaya sekarang. Sekarang jadi miliarder kayak gitu dari mana dia dapat keuangan? Orang diperas habis-habisan, dibunuh, hukumannya cuma 18 tahun," ungkap Bibi sambil berteriak-teriak.

Hak atas foto Rayi Landung
Image caption Dimas Kanjeng usai pembacaan vonis.

Dia pun kecewa mengapa Dimas "tidak dihukum seumur hidup?"

"Mending bunuh orang kalau gitu. Hukuman 18 tahun untuk dua korban! Di mana otaknya semua itu? Punya hati ndak? Punya anak ndak? Punya cucu ndak? Dimana hatinya semua itu."

Selain kasus anjuran pembunuhan, Dimas juga masih menjalani persidangan untuk kasus penipuan.

Berita terkait