Penembakan di Deiyai Papua, warga dan polisi saling tuding soal ‘tembakan peringatan’

foto Hak atas foto Facebook Putrii Deiyai Tabeimiyo
Image caption Sejumlah foto usai penembakan diunggah masyarakat di media sosial.

Kasus dugaan penembakan oleh pihak kepolisian terhadap warga Kampung Oneibo, Kabupaten Deiyai, Papua, pada Selasa (02/08), menyisakan saling tuding antara pihak kepolisan dan warga.

Pada peristiwa yang menewaskan seorang warga dan melukai setidaknya tiga orang lainnya itu, warga menyebut polisi "langsung tembak, tanpa memberikan peringatan" dalam upaya meredakan konflik.

Sementara Polisi mengklaim telah "melaksanakan tugas sesuai standar dan memberikan (tembakan peringatan) sampai tiga kali".

Kepada BBC Indonesia, seorang warga, Abeth Youw, menceritakan peristiwa bermula ketika seorang warga Kampung Oneibo, Selasa (02/08), tenggelam di sungai dan diselamatkan dalam kondisi sekarat.

Warga pun meminta tolong kepada perusahaan PT Putra Dewa Paniai (PDP), yang sedang membangun jembatan di Oneibo, untuk meminjamkan mobil perusahaan agar bisa membawa korban ke rumah sakit di kota.

"Perusahaan gak mau... Kok mereka ada di kampung kami, tetapi tidak mau antar," kata Abeth lewat sambungan telepon, Rabu (02/08).

Hak atas foto Facebook Bung Ones Madai
Image caption Warga berkumpul di depan kantor Polres Paniai. Deiyai berada di dalam wilayah Paniai.

Korban akhirnya meninggal dunia dalam perjalanan menuju rumah sakit dengan menggunakan kendaraan warga setempat, setelah "dua-tiga jam menunggu perusahaan tapi tidak digubris".

Masyarakat lantas "melampiaskan kemarahan dengan merusak kamp perusahaan". Polisi menyebut, warga juga "menganiaya karyawan di sana (PDP)".

Perusahaan yang kemudian menelepon polisi, disusul dengan kedatangan Kapolsek dan Komandan Peleton Brigade Mobil (Brimob) setempat, beserta "sekitar sepuluh" pasukan Brimob. Ricuh yang tidak terelakkan berujung pada tertembaknya sejumlah warga.

Hak atas foto Reuters
Image caption Ilustrasi. Keberadaan polisi di Papua.

Kabid Humas Polda Papua Kombes Ahmad Kamal, kepada BBC Indonesia menegaskan bahwa kepolisian telah melakukan dialog, "tetapi warga menganggap polisi memihak perusahaan. Lalu terjadi pelemparan mobil Brimob dengan batu, serta serangan dengan panah".

"Saya bantah (tidak menggunakan peringatan). Yang kita tangani ini masyarakat, bukan kelompok kriminal, ada SOP-nya... Kami (telah) berikan (tembakan) peringatan sampai tiga kali, lalu yang keempat, penembakan ke arah tanah. Dugaannya, pantulan tembakan (ke tanah) itulah yang mengenai sejumlah warga".

Minta pertanggungjawaban

Peristiwa ini disayangkan ketua Komisi A DPRD Deiyai, Yohanes Adii.

"Yang mana senjata itu milik negara, dan dibeli oleh hasil keringat rakyat. Kami sesali juga karena yang mencabut nyawa itu seharusnya adalah Tuhan, tidak satu pun manusia yang punya hak mencabut nyawa," katanya kepada BBC Indonesia.

"Ini kan kepolisian pihak ketiga ... yang jadi persoalankan kan perusahaan yang tidak mau melayani masyarakat ... seharusnya bisa dikomunikasikan baik-baik terlebih dahulu."

Yohanes meminta Brimob ditarik dari Deiyai. Hal serupa juga diutarakan warga Deiyai, Abeth Youw. Abeth juga meminta "pertanggungjawaban Brimob" atas jatuhnya korban.

Namun, polisi menolak tuntutan tersebut.

"Tanggung jawab yang bagaimana? Masyarakat harus pahami prosedur hukum," kata Ahmad Kamal. "Kita (polisi) juga ada korban. Kita korban material, mobil dinas, mobil negara. Semua harus taat pada hukum, apakah masyarakat itu sendiri atau aparat."

Hak atas foto Getty Images
Image caption Insiden penembakan warga di Papua telah terjadi beberapa kali.

Meskipun begitu, pihak Profesi dan Pengamanan (Propam) Polri, disebut Kamal sudah mendatangai TKP di kampung Oneibo. "Sedang menginvestigasi". Jika ternyata ada anggota yang melanggar "kode etik, atau disiplin, atau pidana, akan dilihat sejauh mana dia melanggar."

Brimob meresahkan?

Kepada BBC Indonesia, ketua Komisi A DPRD Deiyai, Yohanes Adii, menyebut "Deiyai itu daerah yang aman dari dulu, tidak seperti daerah lain." Dia mengkritik keberadaan Brimob yang ditempatkan di sana "sejak tiga tahun lalu" karena dinilai meresahkan masyarakat.

Menurut Yohanes ada sekitar 20-30 personil Brimob yang ditugaskan di Deiyai.

Lebih jauh lagi, dia menyebut Brimob telah melakukan berbagai hal yang tidak disukai masyarakat. "Mereka adu ayam, (jadi) bandar togel. Itu yang mereka lakukan di sana. Bikin situasi nggak bagus. Makanya kami marah sama Brimob," kata Yohannes.

Tuduhan itu dibantah Polda Papua. Menurut Kabid Humas Polda Papua Kombes Ahmad Kamal, keberadaan Brimob "karena terkait dengan situasi keamanan (di Deiyai), dan atas permintaan pemerintah daerah."

Hak atas foto AFP
Image caption Ilustrasi. Kabid Humas Polda Papua Kombes Ahmad Kamal meminta agar warga dan DPRD fokus menangani penembakan di Deiyai.

"Jangan karena ada masalah ini dibesar-besarkan. Kenapa dari kemarin tak ada laporan masyarakat tentang perilaku (Brimob) di sana. Jangan terus mengkambinghitamkan. Kita selesaikan masalah ini satu persatu sampai tuntas. Jangan sampai membias ke mana-mana," tegas Ahmad kamal.

Dia mengungkapkan kepolisan sedang bertemu dengan tokoh masyarakat Deiyai untuk mengambil langkah strategis, agar kejadian rusuh dan penembakan tidak terulang lagi.

Berita terkait