PNS penanam ganja untuk obat istri divonis delapan bulan penjara

Media playback tidak ada di perangkat Anda
Sekelompok orang di Indonesia mengaku mengonsumsi ganja untuk pengobatan.

Fidelis Ari Sudarwoto, pegawai negeri sipil Kabupaten Sanggau, Kalimantan Barat, yang menanam ganja untuk obat istrinya, divonis bersalah pada kasus ganja, Rabu (02/08).

Majelis hakim Pengadilan Negeri Sanggau menjatuhkan hukuman penjara selama delapan bulan dan denda sebesar Rp1 miliar subsider satu bulan kurungan kepada Fidelis.

Putusan hakim tersebut lebih berat dibandingkan tuntutan jaksa penuntut umum. Pada sidang sebelumnya, jaksa mengajukan tuntutan berupa lima bulan penjara dan denda Rp500 juta subsider satu bulan kurungan.

Hak atas foto Dokumentasi keluarga
Image caption Fidelis Ari Sudarwoto dinyatakan bersalah karena memberikan ganja kepada istrinya, Yeni Riawati.

Kuasa hukum Fidelis, Marcelina Lin, menyayangkan putusan hakim tersebut. Tak hanya soal masa penjara dan denda, ia juga menyoroti perbedaan antara vonis dan pertimbangan hakim.

Marcelina menuturkan, majelis hakim mendasarkan vonis Fidelis pada pasal 116 ayat (1) UU 35/2009 tentang narkotika. Ia menyebut pasal yang digunakan majelis hakim itu berbeda dengan pasal yang diajukan jaksa.

"Dakwaan yang coba dibuktikan penutut umum adalah dakwaan alternatif kedua, yaitu pasal 111 ayat (2) tentang larangan menanam dan memelihara narkotika," ujarnya kepada wartawan BBC Indonesia, Abraham Utama.

Marcelina mengatakan, pada bagian pertimbangan, majelis hakim mengakui Fidelis tidak terlibat perdagangan gelap narkotik. Ia berkata, hakim juga menyatakan Fidelis tidak terbukti memperkaya diri sendiri atau orang lain, bukan pengedar atau pemakai, dan juga bukan bandar narkoba.

Pertimbangan hakim itu, kata Marcelina, sama seperti kesaksian penyidik BNN yang memberikan keterangan pada sidang sebelumnya.

Belum banding

Fidelis tidak langsung menggunakan hak untuk mengajukan banding. Marcelina menyebut kliennya itu meminta waktu untuk mempertimbangkan langkah hukum berikutnya.

Berdasarkan ketentuan, Fidelis memiliki tujuh hari untuk menentukan sikap atas vonis majelis hakim. Jika tidak terima dengan vonis tersebut, Fidelis harus mengajukan memori banding ke Pengadilan Tinggi Pontianak, paling lama sepekan ke depan.

"Dia menyampaikan ingin berpikir dulu. Keputusan ada di tangannya, kami hanya mendampingi saja," ujar Marcelina.

Hak atas foto Dokumentasi keluarga
Image caption Fidelis usai mendengarkan vonis hakim di gedung Pengadilan Negeri Sanggau.

Pada sidang vonis tersebut, Fidelis didampingi kakak perempuannya, Yohana, dan kakak laki-lakinya, Ari. Putra Fidelis, Samuel, juga hadir pada sidang itu. Kepada BBC Indonesia, Yohana menyebut langkah hukum Fidelis berikutnya akan diambil dengan mempertimbangkan sejumlah hal.

"Kami akan bicarakan dengan keluarga karena ada faktor-faktor yang harus kami pertimbangkan, antara lain pekerjaan dan anak-anaknya. Kami perlu waktu," ujarnya.

Kasus Fidelis bermula ketika BNN menemukan tanaman ganja miliknya, awal tahun 2017. Ia mengaku menanam ganja sebagai obat untuk istrinya yang didiagnosa mengindap Syringomyelia—sebuah penyakit di sumsum tulang belakang.

Sekitar 32 hari sejak Fidelis ditahan, istri Fidelis yang bernama Yeni Riawati meninggal dunia.

Topik terkait

Berita terkait