Istri pria yang dibakar karena 'ampli mesjid' di Bekasi sedang hamil enam bulan

siti zubaidah Hak atas foto BBC Indonesia
Image caption Siti Zubaidah kehilangan suaminya, Muhammad Al-Zahra, yang dibakar hidup-hidup oleh massa karena mengira dia mencuri alat pengeras suara masjid.

Siti Zubaidah yang sedang hamil empat bulan tak membayangkan suaminya, Muhammad Al-Zahra, tak akan pulang lagi ke rumah untuk selama-lamanya setelah pamit untuk mencari alat pengeras suara bekas.

Berselang 10 jam usai pertemuan terakhir mereka atau sekitar pukul 23.00 WIB, hari Selasa (01/08), polisi mengabari Siti tentang kematian suaminya. Al-Zahra dikeroyok lalu dibakar hidup-hidup oleh massa.

"Orang-orang itu benar-benar tidak punya hati. Mau salah atau tidak, suami saya tidak seharusnya diperlakukan seperti itu," ujar Siti kepada BBC Indonesia, Jumat (04/08).

Muhammad Al-Zahra (30) adalah warga Kampung Jati, Cikarang Utara, Kabupaten Bekasi yang tewas setelah dikerok dan dibakar massa karena dituduh mencuri alat pengeras suara milik musala Al-Hidayah di Kecamatan Babelan, yang berjarak 34 kilometer dari rumahnya.

"Kenapa suami saya tidak diserahkan ke polisi kalau suami saya memang benar mencuri, tanpa harus dianiaya seperti itu. Suami saya manusia, bukan hewan," ucap Siti Zubaidah lagi, dalam tatapan nanar.

Perempuan berusia 25 tahun itu kini harus melanjutkan hidup bersama putranya yang berusia empat tahun. Sementara usia kandungannya masuk bulan keenam.

Hak atas foto BBC Indonesia
Image caption Siti Zubaidah berpose di teras rumahnya, tempat almarhum suaminya biasa menyervis alat pengeras suara.

Tak lulus sekolah dasar, Siti belum pernah bekerja. Ia mengaku dapat membaca, tapi tidak menulis. Selama lima tahun mengarungi bahtera rumah tangga, Al-Zahra merupakan penopang ekonomi keluarganya.

"Sehari paling dapat Rp70.000, tapi tidak setiap hari. Kadang tiga hari dia pulang nggak bawa duit," kata Siti.

Tiga bulan mendatang, saat hari melahirkannya tiba, Siti setidaknya harus mengeluarkan biaya paling sedikit Rp400.000 untuk membayar dukun beranak.

Uang itu menurutnya tidak sedikit, terutama setelah mengeluarkan Rp1,2 juta sebagai biaya pengambilan jenazah suaminya dari Rumah Sakit Polri Kramat Jati.

Siti dan Al-Zahra tinggal di kampung yang berada tak jauh dari pusat industri Jabeka. Sejak tiga bulan terakhir, mereka mengontrak rumah petak berukuran 6x10 meter yang berisi dua kamar tidur.

Meski berada dekat di kawasan pabrik, almarhum suaminya tak bekerja di sektor formal. Hanya memegang ijazah sekolah menengah pertama, Al-Zahra sempat berdagang roti keliling sebelum akhirnya terjun ke bisnis jual-beli dan servis alat pengeras suara.

Kondisi ekonomi Siti dan Al-Zahra serupa dengan 20.820 penduduk Cikarang Utara, yang berdasarkan data Badan Pusat Statistik Kabupaten Bekasi, masuk kategori miskin.

Adapun, Babelan merupakan kecamatan dengan jumlah penduduk miskin 48.616 jiwa, terbanyak kedua di kabupaten itu pada 2017.

Hak atas foto BBC Indonesia
Image caption Siti Zubaidah menunjukkan salah satu foto almarhum suaminya dan anaknya. Siti kini sedang hamil dan diperkirakan melahirkan tiga bulan mendatang.

Massa 'tak terkendali'

Lokasi penganiyaan dan pembakaran Al-Zahra berada di dekat Pasar Muara Bakti. Merujuk keterangan sejumlah saksi mata, dia dibakar saat masih bernyawa, di atas got, di sekitar beberapa gerobak penjaja makanan yang buka jelang sore.

Seorang pemilik toko bangunan di depan lokasi itu menyebut tak berani menyaksikan kejadian tersebut. Perempuan yang enggan disebut namanya itu mengaku menutup tokonya begitu massa berkumpul di simpang tiga Muara Bakti dan 'menghakimi Al-Zahra dengan bogem mentah dan bensin'.

"Yang mengejar massa dari daerah utara, mereka teriak maling. Di sini banyak anak muda, jadi massa sudah berkumpul. Awalnya dia sempat mau dibawa ke balai desa yang nggak jauh dari sini, diselamatkan," ujarnya kepada BBC Indonesia.

Menurut saksi itu, amuk massa memuncak karena mendengar ada yang berteriak maling motor. Menurutnya, jika massa mengetahui barang yang diduga dicuri hanya pengeras suara, Al-Zahra tidak akan dibakar hidup-hidup.

"Di sini lagi banyak motor yang dicuri. Belum lama ini ada motor hilang, waktu pemiliknya salat Isya di masjid di Desa Suka Tenang," ucapnya.

BBC Indonesia menanyakan kronologi perbuatan main hakim sendiri itu pada lima pemuda dan dua lelaki paruh baya di Pasar Muara Bakti. Seluruhnya mengaku tak mengetahui awal mula peristiwa tersebut.

Hak atas foto BBC Indonesia
Image caption Musala Al-Hidayah yang pengeras suaranya diduga dicuri Muhammad Al-Zahra.

Hafif Zulfahmi, anak pengelola musala Al-Hidayah, menyebut neneknya merupakan orang pertama yang melihat alat pengeras suara tempat ibadah itu raib. Menurut ayahnya, sebelum peralatan elektronik itu hilang, hanya ada satu orang yang salat di musala itu.

"Di sini mau ada acara haul akbar. Pas nenek saya masuk musala, amplifier itu sudah tidak ada. Kebetulan bapak saya lihat sebelumnya ada orang salat, sesudah itu dia langsung mencari," katanya.

Orang yang dilihat ayahnya itu adalah Al-Zahra. Menurut Kepala Unit Reserse Kriminal Polres Metro Bekasi AKBP Rizal Marito, Al-Zahra panik tatkala diteriaki maling.

Al-Zahra disebutnya menambah laju sepeda motor, sebelum akhirnya terjun ke sungai untuk menghindari kejaran massa.

Namun, sekelompok pemuda di Muara Bakti telah menunggunya di seberang kali. Saat itulah, kata Rizal, perbuatan 'main hakim sendiri' terjadi.

Hak atas foto BBC Indonesia
Image caption Lokasi pengeroyokan dan pembakaran massal terhadap Muhammad Al-Zahra tidak ditutup garis polisi. Terdapat bekas noda hitam api di got tempat kejadian.

Di sisi lain, Siti yakin suaminya tak mencuri satu barangpun dari musala Al-Hidayah. Apalagi, kata dia, Al-Zahra merupakan sosok yang selalu menyempatkan diri menunaikan salat.

Meski demikian, Siti mengaku tak sanggup melanjutkan perkara kematian suaminya. Ia hanya berharap kepolisian tak menutup kasus itu.

"Saya nggak mengerti masalah hukum, jadi saya pasrah saja, cuma bisa berdiam diri di rumah," tuturnya.

Siti menyebut dirinya takut berurusan dengan hukum. Ia hanya berencana mengambil motor sewaan yang dikendarai suaminya, Selasa lalu, di kantor Polsek Babelan.

"Sampai sekarang belum saya ambil karena butuh biaya. Menebus motor kan harus pakai duit. Nggak tahu berapa. Polisi nggak bilang, tapi mengambil jenazah saja pakai duit, apalagi motor," ujarnya.

Topik terkait

Berita terkait