Pembakaran terduga pencuri pengeras suara, polisi tetapkan dua tersangka

Pengeras suara Hak atas foto BBC Indonesia
Image caption Dua pengeras suara milik musala Al-Hidayah yang diduga dicuri korban penganiayaan dan pembakaran massa saat ini disita kepolisian sebagai barang bukti.

Kepala Polres Metro Bekasi Komisaris Besar Asep Adisaputra menyebut penyidik telah menetapkan dua tersangka terkait kematian Muhammad Al-Zahra, terduga pencuri pengeras suara di sebuah musala di Bekasi, Jawa Barat dan ia kemudian dibakar oleh massa.

Dua tersangka yang kini ditahan itu berinisial NA (39 tahun) dan SU (40).

Asep menuturkan, penetapan dua tersangka itu didasarkan pada keterangan tujuh saksi. Mereka dijerat pasal 170 ayat (3) KUHP tentang tindak kekerasan secara bersama-sama yang menyebabkan kematian seseorang, dengan ancaman hukuman penjara paling lama 12 tahun.

Kepada penyidik, klaim Asep, NA dan SU telah mengakui perbuatan mereka kepada penyidik.

"Dua orang itu patut diduga keras terlibat. Mereka mengaku ikut memukul dan menendang korban," ujarnya di Bekasi, Senin petang (07/08).

Saat ini, Asep menyebut penyidik fokus mengejar setidaknya lima orang yang mereka duga tak hanya memukuli dengan benda keras, tapi juga menyiram bensin ke tubuh Al-Zahra. Namun, lanjutnya, lima orang ini kini melarikan diri.

"Kami mencari semaksimal mungkin dan mengimbau mereka menyerahkan diri. Mereka kini tak ada di tempat, itu indikasi mereka merasa bersalah dan tahu sedang dicari polisi," kata Asep.

Hak atas foto BBC Indonesia
Image caption Siti Zubaidah menunjukkan salah satu foto almarhum suaminya dan anaknya. Siti kini sedang hamil dan diperkirakan melahirkan tiga bulan mendatang.

Pengusutan kasus penganiayaan secara bersama-sama yang menyebabkan kematian, seperti yang terjadi pada Muhammad Al-Zahra, terduga pencuri pengeras suara musala di Bekasi, Jawa Barat, dinilai tidak sulit.

Video beredar

Pengajar ilmu hukum pidana Universitas Trisakti Abdul Fickar Hajar menuturkan, kepolisian mempunyai beragam instrumen untuk membuktikan keterlibatan seseorang pada perkara pidana.

"Tidak terlalu sulit mencari pembakar korban karena video peristiwa itu beredar. Ini soal kemauan menegakan hukum atau tidak," ujar Fickar kepada BBC Indonesia, Senin (07/08).

Dalam kasus pengeroyokan dan pembakaran hidup-hidup terhadap Al-Zahra, Fickar menyebut polisi dapat memanfaatkan rekaman yang selama ini beredar di media sosial.

Kasus pidana yang melibatkan massa setidaknya pernah terjadi pada penyerangan Front Pembela Islam kepada Aliansi Kebangsaan untuk Kebebasan Beragama dan Berkeyakinan di Monas, Jakarta, pada 2008 dan penyerangan sekelompok orang terhadap jemaah Ahmadiyah di Cikeusik, Pandeglang, pada 2011.

"Kasus di Bekasi itu bukan soal keagamaan, tapi kriminal biasa, bahwa terduga pencuri dianiaya sampai tewas. Pembuktiannya tidak sulit," kata Fickar menambahkan.

Dalam kasus FPI, kepolisian menjerat dua pimpinan ormas itu, yakni Rizieq Shihab dan Munarnam, yang belakangan divonis 1,5 tahun penjara karena melanggar pasal 170 ayat (1) KUHP.

Adapun, sebanyak 12 orang dinyatakan bersalah pada Peristiwa Cikeusik. Mereka dijatuhi pidana penjara selama tiga hingga enam bulan karena terbukti melanggar pasal 170 ayat (2) KUHP.

Merujuk dua peristiwa itu, Fickar mendorong kepolisian fokus mengejar para pemicu pengeroyokan dan pembakaran Al-Zahra, terduga pencuri pengeras suara di Bekasi.

Hak atas foto BBC Indonesia
Image caption Siti Zubaidah sedang hamil enam bulan, dan harus kehilangan suaminya, Muhammad Al-Zahra, yang dibakar hidup-hidup oleh massa karena mengira dia mencuri alat pengeras suara masjid.

Menurut Fickar, sangkaan pada orang-orang yang turut menyebabkan kematian tukang servis amplifier lebih sukar dibuktikan.

"Kalau gerombolan, susah mencari motif. Mereka tidak berniat membunuh tapi berbuat secara spontan. Kalau pemicunya yang dicari, itu lebih bagus. Mereka yang dapat dijadikan tersangka utama," ujar Fickar.

Kepala Bidang Humas Polda Metro Jaya Kombes Argo Yuwono menyebut kepolisian kini telah menangkap dua orang yang diduga kuat memicu perbuatan main hakim sendiri terhadap Al-Zahra.

Argo menyebut dua orang itu merupakan bagian dari massa. "Dua orang sudah kami amankan. Kami sedang lakukan penyidikan secara intensif. Nanti kami juga akan mencari pelaku yang lain," ujarnya kepada pers di Depok, Senin pagi tadi.

BBC Indonesia masih menunggu keterangan Polres Metro Bekasi, yang berencana mengumumkan perkembangan penanganan kasus tersebut, termasuk identitas dan sangkaan terhadap dua terduga pelaku pembakaran.

Massa 'tak terkendali'

Lokasi penganiyaan dan pembakaran Al-Zahra berada di dekat Pasar Muara Bakti. Merujuk keterangan sejumlah saksi mata, dia dibakar saat masih bernyawa, di atas got, di sekitar beberapa gerobak penjaja makanan yang buka jelang sore.

Seorang pemilik toko bangunan di depan lokasi itu menyebut tak berani menyaksikan kejadian tersebut. Perempuan yang enggan disebut namanya itu mengaku menutup tokonya begitu massa berkumpul di simpang tiga Muara Bakti dan 'menghakimi Al-Zahra dengan bogem mentah dan bensin'.

"Yang mengejar massa dari daerah utara, mereka teriak maling. Di sini banyak anak muda, jadi massa sudah berkumpul. Awalnya dia sempat mau dibawa ke balai desa yang nggak jauh dari sini, diselamatkan," ujarnya kepada BBC Indonesia.

Hak atas foto BBC Indonesia
Image caption Lokasi pengeroyokan dan pembakaran massal terhadap Muhammad Al-Zahra tidak ditutup garis polisi. Terdapat bekas noda hitam api di got tempat kejadian.

Menurut saksi itu, amuk massa memuncak karena mendengar ada yang berteriak maling motor. Menurutnya, jika massa mengetahui barang yang diduga dicuri hanya pengeras suara, Al-Zahra tidak akan dibakar hidup-hidup.

"Di sini lagi banyak motor yang dicuri. Belum lama ini ada motor hilang, waktu pemiliknya salat Isya di masjid di Desa Suka Tenang," ucapnya.

BBC Indonesia menanyakan hal ihwal perbuatan main hakim sendiri itu pada lima pemuda dan dua lelaki paruh baya di Pasar Muara Bakti. Seluruhnya mengaku tak mengetahui awal mula peristiwa tersebut.

Hafif Zulfahmi, anak pengelola musala Al-Hidayah, menyebut neneknya merupakan orang pertama yang melihat alat pengeras suara tempat ibadah itu raib. Menurut ayahnya, sebelum peralatan elektronik itu hilang, hanya ada satu orang yang salat di musala itu.

"Di sini mau ada acara haul akbar. Pas nenek saya masuk musala, amplifier itu sudah tidak ada. Kebetulan bapak saya lihat sebelumnya ada orang salat, sesudah itu dia langsung mencari," katanya.

Orang yang dilihat ayahnya itu adalah Al-Zahra. Menurut Kepala Unit Reserse Kriminal Polres Metro Bekasi AKBP Rizal Marito, Al-Zahra panik tatkala diteriaki maling.

Al-Zahra disebutnya menambah laju sepeda motor, sebelum akhirnya terjun ke sungai untuk menghindari kejaran massa.

Namun, sekelompok pemuda di Muara Bakti telah menunggunya di seberang kali. Saat itulah, kata Rizal, perbuatan 'main hakim sendiri' terjadi.

Di sisi lain, Siti yakin suaminya tak mencuri satu barangpun dari musala Al-Hidayah. Apalagi, kata dia, Al-Zahra merupakan sosok yang selalu menyempatkan diri menunaikan salat.

Meski demikian, Siti mengaku tak sanggup melanjutkan perkara kematian suaminya. Ia hanya berharap kepolisian tak menutup kasus itu.

"Saya nggak mengerti masalah hukum, jadi saya pasrah saja, cuma bisa berdiam diri di rumah," tuturnya.

Siti menyebut dirinya takut berurusan dengan hukum. Ia hanya berencana mengambil motor sewaan yang dikendarai suaminya, Selasa lalu, di kantor Polsek Babelan.

"Sampai sekarang belum saya ambil karena butuh biaya. Menebus motor kan harus pakai duit. Nggak tahu berapa. Polisi nggak bilang, tapi mengambil jenazah saja pakai duit, apalagi motor," ujarnya.

Topik terkait

Berita terkait