Tentang warga Bekasi dan desa mereka yang ditelan laut

Desa Pantai Bahagia Hak atas foto BBC INDONESIA
Image caption Satu demi satu rumah warga hancur dan ditinggalkan akibat abrasi.

Desa Pantai Bahagia, yang berada di pinggir pantai Muara Gembong, Bekasi makin lama makin menyusut luas wilayahnya: kenaikan permukaan air laut menelan sejumlah wilayah pantai. Wartawan BBC Sri Lestari mengunjungi kawasan ini dan menyaksikan persoalan pelik yang dihadapi penduduk.


Salam (68 tahun) sedang membersihkan dan mengeringkan lantai yang digenangi air setinggi 20 centimeter, yang masuk ke dalam rumahnya ketika air pasang terjadi beberapa hari sebelumnya.

"Ya di rumah sih nggak tahu berapa hari, selamanya saja banjir, ya. Waktu kering kita beres-beres sisa banjir beresin belokannya (becek lumpur) itu, kalau banjir kan belok (becek lumpur) sampah, jadi ya beberes waktu kering. Tak ada redanya lah," kata dia.

Pria yang sudah tinggal di Kampung Beting, Desa Pantai Bahagia Muara Gembong, Bekasi selama 35 tahun itu, mengaku terpaksa harus tinggal di sana.

"Ya mau pindah juga butuh biaya, kita rumah seperti ini, ya sudah tak punya, bagaimana ya. Harapannya barangkali ada yang membantu supaya terhindar dari sini," jelas Salam.

Rumah hancur

Diperkirakan sekitar 1,7 hektar lahan pantai di Kampung Beting tergerus abrasi yang terjadi selama tujuh tahun terakhir. Di desa itu tampak puluhan rumah penduduk yang hancur diterjang rob dan ditinggalkan begitu saja oleh pemiliknya.

Hak atas foto BBC INDONESIA
Image caption Salam dan kebiasaan rutin membersihkan lumpur becek di rumahnya.

Di kampung ini, banyak rumah yang ditelantarkan, bahkan hanya menyisakan pondasi. Rumah yang masih ditinggali tampak sudah ditinggikan lantainya, sehingga jarak langit-langit rumah dengan lantainya sangat rendah, seperti rumah Wawan.

"Sudah tiga kali ditinggikan. Bahkan kalau digali dasarnya sudah tinggi sekali. Makanya antara atas dan bawah ini pendek. Dulu rumah ini paling tinggi di sini sekarang paling pendek," kata Wawan.

Sejumlah bagian rumah Wawan pun tampak hancur dan keropos karena terus menerus terendam air laut yang mengandung garam.

Hak atas foto BBC INDONESIA
Image caption Kampung Beting Desa Pantai Bahagia 'terkurung' air laut.
Hak atas foto BBC INDONESIA
Hak atas foto BBC INDONESIA
Image caption Wawan mengatakan tambak miliknya sudah tidak produktif lagi akibat rob.

Sore itu saya dan wawan berbincang di teras rumahnya, sambil memandangi bekas tambak miliknya. Dia mengatakan akibat abrasi, produksi tambak miliknya berkurang drastis.

"Tambak tidak produktif, hasil alam kurang dan kebanyakan keluar limbah dari tanggul. Ini dari tahun 2013 sudah berhenti sama sekali, dulu produktif kalau empang ini ada tiga hektar itu bisa satu ton ikan bandeng itu," jelas Wawan.

Saat ini Wawan memilih bertahan karena tak bisa meninggalkan profesinya sebagai guru dan pengelola sekolah untuk anak-anak di desanya, yang terletak di depan rumahnya.

"Ya saya mikirin soal pendidikan saja, karena kan saya juga mengajar dan mengelola sekolah. Kasihan anak-anak di sini," kata Wawan.

Perbincangan kami terhenti setelah terdengar azan magrib, Wawan dan rekannya Sonhaji pamit untuk menjalankan salat di masjid yang terletak di depan rumahnya.

Masjid ini sempat tidak digunakan karena bagian lantainya hancur setelah terendam air laut yang berkepanjangan. Jemaah pun tak jarang harus salat di tengah genangan banjir.

"Pernah ketika salat tiba-tiba banjir datang, ya kami terpaksa basah-basahan," ujar Wawan usai salat.

Tapi beberapa bulan lalu, warga pun mengumpulkan dana untuk memperbaiki lantai masjid, ditinggikan beberapa meter agar tak lagi terendam banjir.

Hak atas foto BBC INDONESIA
Image caption Sekitar 1,7 hektar lahan di Desa Pantai Bahaga tergerus abrasi.

Penanaman bakau

Untuk mencegah rob, sejumlah warga yang tergabung dalam Kelompok Sadar Wisata Alifbata menanam pohon bakau atau mangrove di pinggir pantai sejak 2013 lalu.

Ketua Kelompok Sadar Wisata Alifbata Sonhaji mengatakan sudah menanam sekitar 200.000 pohon mangrove secara mandiri.

"Kita melakukannya dengan memanfaatkan bibit yang berasal dari tanaman mangrove yang ada di sini, dengan dibantu oleh teman-teman dari berbagai komunitas, korporasi dan universitas. Ke depannya kami masih banyak PR karena memang banyak lahan yang sudah habis akibat abrasi itu sendiri," kata Sonhaji.

Hak atas foto BBC INDONESIA
Image caption Sekitar 200.000 pohon mangrove ditanam oleh warga yang tergabung dalam kelompok sadar wisata Alifbata.

Menurut Sonhaji, ketika pohon mangrove mulai meninggi, manfaatnya sudah mulai terasa.

"Dampak yang bisa dirasakan langsung dari masyarakat dengan adanya penanaman bakau ini banyak sekali, terutama warga masyarakat yang rumahnya tiap bulan selalu terendam genangan air, bahkan di mangrove sendiri itu tempat bertelurnya ikan dan udang dan jadi nilai ekonomi sendiri untuk masyarakat," kata dia.

Meski demikian, penanaman mangrove belum dapat menahan laju abrasi.

"Kami Tercatat sudah menanam kurang lebih menanam 200 ribu bakau, itu sangat membantu, ke depannya kami masih banyak PR karena terlalu banyak lahan yang habis karena abrasi itu," ungkap Sonhaji.

Wilayah pantai Muara Gembong Bekasi yang terletak di pantai utara Jawa ini merupakan yang terparah terkena abrasi, yang disebabkan oleh kenaikan permukaan air laut akibat perubahan iklim dan juga aktivitas manusia yang membabat hutan mangrove menjadi tambak.

Hak atas foto BBC INDONESIA
Image caption Bekas bangunan warung yang ditinggalkan pemiliknya.
Hak atas foto BBC INDONESIA
Image caption Sejumlah rumah tampak ditinggalkan begitu saja oleh pemiliknya.

Berdasarkan analisis stasiun pasang surut yang ada di Ambon, Batam, Biak, Jakarta, Jepara dan Kupang, kenaikan permukaan air laut mencapai delapan milimeter per tahun, selama sembilan tahun terakhir.

Data Kementerian Kelautan dan Perikanan (KKP) sekitar 400 kilometer garis pantai di 100 lokasi yang berada di 17 provinsi terkena abrasi. Pantai utara Jawa merupakan yang terparah dengan 44% lahan pantainya terkena abrasi yaitu 745 kilometer atau luasannya setara dengan 10.988 hektar.

Berita terkait