Gebrak New York Fashion Week dengan hijab, Anniesa kini tersandung 'penipuan umrah'

Anniesa Hasibuan Hak atas foto BBC Indonesia
Image caption Anniesa Hasibuan ditetapkan menjadi tersangka penipuan dan penggelapan terkait jasa perjalanan umrah, Rabu kemarin.

September 2016, Anniesa Devitasari Hasibuan menggucang pagelaran busana New York karena menjadi desainer pertama yang menampilkan beragam model hijab dalam satu koleksi.

Rabu kemarin (10/08) atau setidaknya sepuluh bulan berselang, ia menjadi tersangka kasus dugaan penipuan berkedok jasa perjalanan umrah.

Kepolisian menduga Anniesa melarikan uang sekitar Rp550 miliar. Dana itu dibayarkan calon jemaah umrah ke PT First Anugerah Karya Wisata atau First Travel yang didirikan Anniesa.

Andika Surachman, suami Anniesa yang turut mengelola perusahaan itu, juga ditetapkan menjadi tersangka atas dugaan serupa.

"Kami dapatkan alat bukti yang cukup untuk menjadikan mereka tersangka. Hari ini mereka kami tahan," kata Direktur Tindak Pidana Umum Bareskrim Polri, Brigjen Herry Rudolf Nahak, kepada wartawan di Jakarta, Kamis (10/08), seperti dilaporkan wartawan BBC Indonesia, Abraham Utama.

Sejak pagi tadi, rombongan orang melapor ke Polda Metro Jaya. Mereka mengaku merasa tertipu karena tak kunjung berangkat umrah meski telah menyelesaikan pembayaran ke First Travel.

Kantor First Travel di kawasan TB Simatupang, Jakarta, juga didatangi puluhan calon jemaah umrah. Mufidah, calon jemaah umrah dari Jakarta, mengaku sudah membayar lunas biaya umrah pada Agustus 2016 sebesar Rp16 juta lebih.

Dia dijanjikan berangkat tahun ini tapi kemudian tak ada kejelasan. "Saya sudah minta refund (pengembalian biaya) beberapa minggu lalu, tapi ternyata ada kasus ini (penutupan dan penangkapan)" kata Mufidah kepada Sri Lestari dari BBC Indonesia.

Hak atas foto BBC Indonesia
Image caption Puluhan calon jemaah umroh berkumpul di kantor pusat First Travel di gedung GKM Green Tower, Jakarta Selatan, Kamis (10/08).

Sementara di kantor Bareskrim, puluhan agen perusahaan itu menyesalkan pengusutan yang dilakukan kepolisian. Mereka menilai First Travel pasti menerbangkan semua pelanggan ke tanah suci, meski menggunakan sistem antrean.

Tersendat

Herry Rudolf menyebut perbuatan Anniesa melalui First Travel merugikan setidaknya 35.000 pelanggan. Gagal umrah, kata dia, nasib orang-orang itu lebih buruk dibandingkan 35.000 pelanggan lain yang telah diberangkatkan ke tanah suci.

Menurut Rudolf, animo masyarakat menggunakan jasa First Travel lumayan tinggi. Selain calon jemaah umrah yang berjumlah puluhan ribu, perusahaan itu juga memiliki setidaknya seribu agen.

Selama ini, kata Rudolf, First Travel menawarkan tiga paket perjalanan umrah, yakni promo seharga Rp14,3 juta, reguler Rp25 juta, dan VIP Rp54 juta.

Hak atas foto BBC Indonesia
Image caption Anniesa Hasibuan menjadi pemberitaan banyak media massa internasional usai menampilkan beragam model hijab kreasinya di New York Fashion Wewk.

Merujuk keterangan sejumlah saksi, Rudolf menyebut pemberangkatan umrah para pelanggaan tersendat sejak 2015. Pada periode puasa, Juni lalu, penyidik menduga Anniesa dan Andika menawarkan program umrah baru bagi para pelanggan yang belum berangkat ke Mekkah.

"Sebelum Lebaran kemarin mereka tawarkan paket Ramadan, pelanggan harus bayar Rp3 juta lagi. Tapi tetap saja tidak semuanya bisa berangkat," ujar Rudolf.

Kepolisian menduga First Travel juga pernah menawarkan percepatan antrean umrah bagi para pelanggan mereka. Caranya, kata Rudolf, pelanggan harus menambah ongkos sebesar Rp2,5 juta sebagai ganti biaya sewa pesawat.

Sebelumnya, Kementerian Agama mencabut izin penyelenggara perjalanan ibadah umrah yang dipegang First Travel. Keputusan yang berlaku sejak 1 Agustus lalu itu tertuang dalam Keputusan Menteri Agama 589/2017.

Kementerian Agama menyatakan First Travel menelantarkan jemaah umrah sehingga gagal berangkat ke Mekkah. Pada surat yang sama, First Travel diharuskan mengembalikan seluruh biaya umrah yang telah mereka terima atau melimpahkan jemaah ke penyedia jasa lainnya.

Adapun, 18 Juli lalu Otoritas Jasa Keuangan telah lebih dulu menutup First Travel. Ketua Satuan Tugas Waspada Investasi OJK, Tongam Tobing, menyebut program First Travel tak masuk akal dan jauh di bawah ongkos umrah yang ditetapkan Kementerian Agama, yakni Rp22 juta.

Hak atas foto AFP/Getty Images
Image caption Kepolisian menyebut First Travel baru memberangkatkan 50% calon jemaah. Sisanya disebut hingga kini belum ke Arab Saudi meski telah melunasi ongkos.

Yakin berangkat

Vonny Sandralina, koordinator First Travel yang memegang 2.600 jemaah, yakin perusahaan itu dapat memberangkatkan seluruh pelanggan jika kepolisian tak turut campur.

Menurut Vonny, tindakan kepolisian justru akan merugikan para calon jemaahnya.

"Kan sudah ada komitmen. Kalau memang sampai lebaran haji calon jemaah tidak juga diberangkatkan, silakan kalau mau cabut izin. Saya rasa lebih adil seperti itu. Kasihan jemaah," ujarnya.

Vonny mendasarkan pernyataannya pada janji Anniesa, April lalu. Kala itu kepada pers di Jakarta, Anniesa menyebut tidak kunjung berangkatnya para pelanggan bukan karena penundaan perusahaannya, melainkan persoalan administrasi, seperti pengurusan visa.

Anniesa pun meminta publik melihat rekam jejak perusahaannya selama tujuh tahun berdiri. "Boleh dicek kredibilitas kami ke belakang, gak ada masalah," ucapnya.

Topik terkait

Berita terkait