Menlu Retno: 18 WNI yang bergabung dengan ISIS kini berada di Irak

Suriah Hak atas foto AFP
Image caption Empat orang WNI ini dua tahun lalu memilih meninggalkan Indonesia untuk hijrah di wilayah yang diklaim sebagai wilayah ISIS di Suriah.

Sebanyak 18 warga negara Indonesia yang sebelumnya bergabung dengan kelompok yang menamakan diri Negara Islam atau ISIS telah berada di Erbil, Irak.

Hal itu dikatakan Menteri Luar Negeri RI, Retno Marsudi, menanggapi informasi bahwa belasan WNI yang telah bergabung dengan ISIS dan sempat bermukim di Raqqa, sudah diserahkan kepada perwakilan pemerintah RI.

"Mereka dalam kondisi baik, kami terus melakukan kontak, dan mereka saat ini sudah berada di Erbil," ujar Retno di kantor Kementerian Luar Negeri, Jakarta, seperti dilaporkan wartawan BBC Indonesia, Abraham Utama.

Retno tidak menjawab pertanyaan mengenai lembaga yang bertanggung jawab atas proses pemulangan, target waktu, maupun status hukum yang akan dilekatkan kepada 18 WNI itu.

"Saya belum bisa bicara tentang itu. Let me work on it," kata Retno, yang tegas mengatakan ada 18 WNI, berbeda dengan laporan sebelumnya yang menyebut 17 WNI.

Erbil adalah pusat kaum Kurdi di Irak. Kota itu berjarak 350 kilometer dari Baghdad atau 550 kilometer di sisi timur Raqqa, kota yang menjadi garis depan pertempuran tentara koalisi melawan ISIS.

Tinggalkan Suriah

Sebelumnya, petugas Kamp Ain Issa di Suriah, Omar Allouche, mengatakan para WNI telah diserahkan kepada perwakilan pemerintah Indonesia di perbatasan Suriah-Irak, Selasa (08/08). Para WNI itu sempat menetap selama beberapa pekan di kamp pengungsian Ain Issa, sekitar 50 kilometer di utara Raqqa.

Penyerahan belasan WNI itu juga disampaikan juru bicara Women Protection Unit, Nisreen Abdullah, sebagaimana dikutip kantor berita Associated Press.

Akan tetapi, Direktur Perlindungan WNI dan Bantuan Hukum Indonesia pada Kementerian Luar Negeri, Lalu Muhammad Iqbal, menyebut pihaknya masih berkomunikasi dengan berbagai kelompok di Suriah, termasuk otoritas Kurdi di Suriah Utara.

Iqbal tidak secara tegas menjawab pertanyaan terkait kepulangan 17 WNI tersebut. "Pemerintah masih mengupayakan. Kondisi di lapangan membuat prosesnya tidak mudah. Banyak kelompok berbeda menguasai wilayah itu," kata Iqbal.

Hak atas foto AFP
Image caption Dua dari 17 warga negara Indonesia yang berada di kamp pengungsi Ain Issa.

Lebih dari itu, Iqbal menyatakan belasan WNI yang atas inisiatif sendiri pergi ke Raqqa itu bukanlah milisi ISIS. Iqbal mendasarkan pernyataannya pada investigasi sejumlah kelompok di Suriah.

"Kami memperoleh informasi bahwa mereka bukan fighters," tuturnya.

Iqbal mengatakan, belasan WNI tersebut berada di Raqqa pada 40 hari pertama keberadaan mereka di Suriah. "Sisanya di penjara serta rumah isolasi sampai mereka melarikan diri dengan bantuan pihak ketiga 10 Juni lalu," kata Iqbal.

Pemulangan para WNI dari Raqqa itu menjadi pro-kontra, terutama karena kepergian mereka ke Suriah didasari keinginan untuk bergabung dengan ISIS.

Kepada BBC Indonesia, akhir Juni lalu, Direktur Bidang Pencegahan Badan Nasional Penanggulangan Terorisme Brigjen Hamidin menyebut pemerintah Indonesia tidak dapat menolak pemulangan WNI yang dideportasi.

Menurutnya, aturan itu juga berlaku terhadap para WNI yang pergi ke Suriah untuk bergabung ke ISIS. "Tidak ada prinsip menolak warga Indonesia yang dikembalikan sebagai deportan," ujarnya.

Hak atas foto AFP
Image caption Leefa, WNI yang pindah ke Suriah, dengan harapan bisa 'menikmati hidup yang sebenarnya sebagai Muslim sejati di bawah kekuasaan daulah Islamiyah'.

Hamidin menuturkan, pemerintah akan menampung para WNI itu dan mengharuskan mereka mengikuti program deradikalisasi secara berkelanjutan.

Ia berkata, belasan WNI itu akan dipulangkan ke domisili mereka setelah menyelesaikan program yang digelar lintas lembaga, antara BNPT, Densus Antiteror 88, Kementerian Sosial, dan Kementerian Dalam Negeri.

Pada Juni lalu, BBC Indonesia mendapat rekaman suara salah seorang WNI melalui bantuan petugas Kamp Ain Issa di Suriah, Omar Allouche.

Salah seorang dari WNI yang menyebut bernama Dilfansyah Rahmani, mengatakan kondisi mereka sakit-sakitan.

"Kondisi kami di sini juga banyak yang sakit sakitan, uang semakin menipis."

"Kami 17 orang ingin bersama-sama kembali ke Indonesia. Kami berharap...bantuan dari pemerintah Indonesia membantu kami keluar dari Suriah dengan aman," kata Dilfansyah.

Sebelumnya, kepada kantor berita AFP, sebagian besar dari belasan WNI itu mengaku meninggalkan Indonesia pada Agustus 2015 karena tertarik pada ideologi dan bantuan ekonomi yang ditawarkan ISIS. Leefa misalnya, mengaku ingin menjadi bagian ISIS karena tawaran bebasa biaya hidup.

"Saya punya masalah kesehatan, Saya perlu operasi di bagian leher dan biayanya sangat mahal di Indonesia. Tapi di daerah ISIS semuanya gratis," tuturnya di kamp Ain Issa.

Namun belakangan, seperti diutarakan Nur, perempuan berusia 19 tahun yang menjadi bagian dari 17 WNI itu, mereka menyesali kepergian ke Suriah.

"Semua bohong…ketika kami memasuki wilayah ISIS, yang kami lihat sangat berbeda dengan yang mereka katakana di internet," ujarnya.

Topik terkait

Berita terkait