Diduga bergabung dengan ISIS di Suriah, belasan WNI dimintai keterangan

Empat orang WNI ini dua tahun lalu memilih meninggalkan Indonesia untuk hijrah di wilayah yang diklaim sebagai wilayah ISIS di Suriah. Hak atas foto AFP
Image caption Empat orang WNI ini dua tahun lalu memilih meninggalkan Indonesia untuk hijrah di wilayah yang diklaim sebagai wilayah ISIS di Suriah.

Sebanyak 18 WNI yang sebelumnya berangkat ke Suriah diduga untuk bergabung dengan kelompok yang menamakan diri Negara Islam (ISIS) dideportasi ke Indonesia pada Sabtu (12/08) lalu. Oleh Densus 88 Mabes Polri, mereka dibawa dibawa ke Mako Brimob, Kelapa Dua, Depok untuk dimintai keterangan lebih jauh tentang keberadaan mereka di Suriah.

Warga negara Indonesia yang dideportasi dari Suriah dilaporkan sempat bersembunyi dan kemudian tinggal di wilayah tentara Kurdi yang memusuhi ISIS, setelah mendapati bahwa janji-janji yang ditawarkan oleh ISIS ternyata tidak terbukti, mulai dari pendidikan gratis, pelayanan kesehatan, sampai pekerjaan.

Terpapar radikalisme

Kepolisian menyebut bahwa mereka yang dipulangkan terdiri dari laki-laki, perempuan dewasa, serta anak-anak. Dalam daftar nama yang dikeluarkan kepolisian, terdapat nama dengan inisial DJW, yang oleh BNPT pada 2015 lalu dilaporkan sebagai salah satu direktur di Badan Pengusahaan Kawasan Batam yang bersama keluarganya berangkat ke Suriah.

Kepolisian kini masih mencari tahu apa aktivitas para WNI tersebut selama di Suriah.

"Mereka pulang, sekarang sedang dimintai keterangan dan klarifikasi. Dari situ kita akan tahu, melakukan assessment (penilaian), apakah yang bersangkutan sudah terpapar radikalisme atau belum. Kalau terpapar radikalisme maka ada upaya untuk melakukan deradikalisasi, artinya kita harus melakukan wawancara, cek background (latar belakang) mereka, kita kan punya sumber-sumber informasi kita di Turki, sekarang ada atase kepolisian di sana," kata Kadiv Humas Mabes Polri, Setyo Wasisto.

Meski laporan media menyatakan bahwa WNI yang dideportasi ini berangkat ke Suriah demi alasan kesejahteraan, pengamat terorisme dari Universitas Indonesia, Ridwan Habib mengingatkan bahwa keberangkatan mereka memiliki persinggungan dengan kelompok WNI yang berangkat ke Suriah dengan alasan ingin bertempur, sehingga fakta itu, menurutnya, harus menjadi pertimbangan pemerintah dalam penanganan mereka.

"Seseorang yang berani ke Suriah, bahkan ada beberapa dari mereka yang harus melepas pekerjaan, melepas harta benda untuk tiket, itu sesuatu yang tidak instan ya," kata Ridwan.

'Dikendalikan tiga kelompok'

Menurutnya, sebelum kejatuhan kota Raqqa dan Mosul, akses bagi WNI untuk masuk ke kota-kota yang dikuasai ISIS tersebut dikuasai oleh tiga kelompok utama, yaitu kelompok Bachrumsyah, Bahrun Naim, dan Salim Attamimi yang masing-masing memiliki petugas perbatasan untuk mengatur arus keluar masuk seseorang.

"Misalnya turun di Istanbul lalu harus ke mana, ke Gaziantep misalnya, lalu masuk lewat jalur tikus yang mana, jam berapa. Mereka punya sistem mekanisme screening yang sangat ketat dalam bentuk penjamin personal dari orang yang juga sudah terverifikasi, tidak semua orang, tidak semua keluarga bisa masuk," kata Ridwan lagi.

Hak atas foto Kantor Berita ANHA
Image caption Beberapa WNI yang tiba di kamp Ain Issa setelah meninggalkan Raqqa.

Menurutnya, seharusnya ada pemberlakuan tiga status atau klasifikasi berbeda bagi WNI yang kembali dari Suriah, baik mereka yang menyatakan tertipu atau yang memang kembali dari bertempur sehingga bisa ada penanganan yang berbeda pula.

"Misalnya status A itu mereka yang menganggap daulah Islamiyah itu penting dan harus diwujudkan sehingga harus diawasi. Kategori B misalnya yang kecewa tapi netral-netral saja, atau kategori C yang memang benar-benar muak dengan propaganda ISIS, mereka mungkin bisa dilibatkan sebagai juru bicara di acara-acara deradikalisasi," ujar Ridwan.

Kepulangan maupun deportasi warga Indonesia, baik yang sudah sempat masuk ke Suriah atau yang diduga akan menuju Suriah dari wilayah Turki, sudah beberapa kali terjadi.

Para WNI yang tiba di Indonesia Sabtu lalu itu sempat menetap selama beberapa pekan di kamp pengungsian Ain Issa, sekitar 50 kilometer di utara Raqqa. Pemulangan mereka menjadi pro-kontra, terutama karena kepergian mereka ke Suriah didasari keinginan untuk bergabung dengan ISIS.

Pada Desember 2016, tiga orang Indonesia dipulangkan dari Turki lalu ditahan dan diperiksa karena dugaan akan bergabung dengan ISIS di Suriah namun belakangan dibebaskan. Kemudian pada Januari 2017, ada 17 WNI lain yang juga dipulangkan dari Turki karena lagi-lagi diduga akan menuju Suriah.

Topik terkait

Berita terkait