Enggan kecolongan, Polri 'tak biarkan' Aman Abdurrahman hirup udara bebas

Aman Abdurrahman Hak atas foto BAY ISMOYO/AFP/Getty Images
Image caption Aman Abdurrahman bebas bersyarat dari kasus pelatihan kelompok teror di Aceh, Kamis (17/08), setelah mendapatkan remisi hari kemerdekaan Indonesia.

Terpidana kasus terorisme, Aman Abdurrahman, dibawa ke Markas Komando Brimob di Depok, Jawa Barat, empat hari sebelum dia menerima remisi hari kemerdekaan dan menjalani pembebasan bersyarat, Kamis (17/08).

Langkah itu tampaknya karena kepolisian tidak ingin memberi kesempatan bagi Aman untuk menyebarkan ideologi jihadnya di luar penjara.

"Mungkin itu basis argumentasi kepolisian, yaitu kekhawatiran penyebaran pengaruh Aman di tengah masyarakat," kata Taufik Andrie, peneliti di Institute for International Peace Building.

Taufik menambahkan bahwa Aman merupakan terpidana kasus terorisme pertama yang langsung dijerat perkara teror lain setelah bebas secara hukum.

Sebagai perbandingan, Taufik menyebut Abu Bakar Ba'asyir divonis bersalah pada kasus pelatihan teror di Aceh pada 2011 atau enam tahun setelah bebas dari pemidanaan kasus teror Bom Bali.

Adapun Toni Tegar -terpidana kasus teror di Medan tahun 2000- dan pelaku teror di Poso, Basri, dibawa ke pengadilan untuk kedua kalinya saat mereka masih menjalani masa pemidanaan kasus pertama.

Hak atas foto Ulet Ifansasti/Getty Images
Image caption Aman Abdurrahman dipidana kasus teror yang sama dengan Abu Bakar Ba'asyir. Keduanya selama ini dipenjara di Nusakambangan, Cilacap, Jawa Tengah.

Kepala Divisi Humas Polri, Irjen Setyo Wasisto, menyebut kepolisian memang tidak ingin bersusah payah menangkap Aman lagi setelah pembebasan bersyarat. "Kalau dia bebas, nanti kami susah lagi mencarinya," ujarnya kepada BBC Indonesia.

Setyo menuturkan, penangkapan berkaitan dengan dugaan keterlibatan Aman pada serangan di kawasan MH Thamrin, Jakarta, Januari 2016. Densus Antiteror 88, jelas Setyo, memiliki tujuh hari untuk menahan dan menetapkan Aman menjadi tersangka.

Sejumlah orang telah divonis bersalah pada aksi teror yang menewaskan empat orang, antara lain penyedia material bom, Dodi Suridi, yang dijatuhi masa penjara selama 10 tahun dan Ali Hamka, pemasok senjata api dan amunisi dengan empat tahun penjara.

"Ada beberapa orang yang punya kaitan dan diduga terlibat kasus itu tapi belum ditangani. Kedaluwarsa kasus terorisme cukup lama," kata Setyo.

Tokoh sentral

Merujuk sejumlah penelitiannya, Taufik menyebut Aman merupakan figur penting pada berbagai aksi teror di Indonesia dalam rentang 2013 hingga 2016. Ia berkata, Aman mengendalikan seluruh teror itu tatkala mendekam di Nusa Kambangan, Jawa Tengah, akibat vonis kasus pelatihan militer di Aceh tahun 2010.

"Aman adalah pemimpin ideologi yang memberi inspirasi, fatwa, dan instruksi yang membuat pergerakan pendukung ISIS berubah. Daya pengaruhnya luar biasa," kata Taufik.

Pria itu -sebelum tahun 2013- merupakan pemimpin Tauhid Wal Jihad, kelompok yang aktif mendakwahkan tauhid dan mempropagandakan jihad.

Image caption Empat warga sipil tewas akibat serangan teroris di kawasan Sarinah, Jakarta, pada 14 Januari 2016.

Taufik mengatakan, pada 2013 Aman berubah haluan dari pendukung Abu Muhammad Al Maqdisi menjadi penyokong ISIS dan disebut membidani kelahiran sejumlah kelompok ekstrem, seperti Jamaah Ansharut Daulah dan Jamaah Ansharut Daulah Khilafah Nusantara.

"Dia memberi pengaruh dengan cara memproduksi karya terjemahan dan fatwa verbal," ujar Taufik tentang pria yang menguasai bahasa Arab tersebut.

Terkait kasus Thamrin, Taufik menyebut sejumlah pelaku dan saksi menyebut nama Aman dalam persidangan namun kepolisian perlu membuktikan keterangan tersebut untuk kembali menjerat Aman.

"Keterangan itu harus diuji di persidangan," ujarnya.

Ketika dikonfirmasi, Setyo enggan memaparkan penyelidikan yang selama ini digelar untuk mengungkap peran Aman dalam kasus Thamrin. "Dalam pemeriksaan lebih lanjut akan terjawab, sekarang masih didalami Densus 88," ucap Setyo.

Menurut catatan, Aman pertama kali dipenjara pada 2005. Kala itu ia divonis penjara selama tujuh tahun akibat kepemilikan bahan peledak. Setahun sebelumnya ia ditangkap setelah bom meledak di rumahnya di kawasan Cimanggis, Depok, Jawa Barat.

Pada 2010, Densus 88 menangkap Aman atas tuduhan membiayai pelatihan kelompok teror di Jantho, Aceh Besar, kasus yang menjerat puluhan orang, termasuk Abu Bakar Ba'asyir.

Dalam kasus itu Aman divonis sembilan tahun penjara.

Topik terkait

Berita terkait