Gereja Filipina kecam 'operasi berdarah' melawan narkoba

Filipina, Manila, Duterte, narkoba Hak atas foto EPA
Image caption Suara menenang pembunuhan tersangka pengedar narkoba semakin kuat, antara lain dari warga biasa.

Pimpinan Gereja Katolik Filipina, Kardinal Luis Antonio Tagle, mengecam operasi pemberantasan pengedaran narkoba dengan menembak mati para tersangka pengedarnya.

Kardinal Tagle mengatakan bahwa 'mereka yang dibunuh adalah orang-orang tidak berdaya'.

Kepolisian mengatakan sejak Presiden Rodrigo Duterte meluncurkan kampanye melawan pengedar narkoba 14 bulan lalu, sekitar 3.500 orang tewas dibunuh.

Namun para pegiat hak asasi berpendapat bahwa jumlah korban jiwa yang sebenarnya jauh lebih tinggi dan beberapa yang menjadi sasaran adalah orang yang tidak berdosa.

Pekan lalu saja, sebanyak 58 orang tersangka pengedar narkoba dibunuh dan dilaporkan dalam satu hari, Selasa (15/08), polisi Filipina menembak mati 32 tersangka pengedar narkoba di Provinsi Bulachan.

Salah seorang yang mati ditembak adalah remaja pria berusia 17 tahun, Kian Delos Santos. Polisi mengatakan dia ditembak di kota Caloocan karena lebih dulu menembak ke arah mereka.

Hak atas foto EPA
Image caption Para penduka dalam pemakaman Leover Miranda mengenakan kaus bertuliskan 'Bunuh narkoba, jangan orang'.

Namun rekaman kamera pengawas yang muncul belakangan memperlihatkan dia ditarik oleh dua aparat polisi, yang menimbulkan pertanyaan tentang suasana saat penembakan.

Kepala Kepolisian Caloocan sudah diberhentikan sementara waktu untuk menunggu penyelidikan dan para pendukung Presiden Duterte di Senat sudah mengusulkan resolusi untuk mengecam pembunuhan itu.

Hak atas foto EPA
Image caption Kepolisian Filipina mengatakan sekitar 3.500 orang tewas dibunuh dalam operasi selama ini namun jumlah korban jiwa sebenarnya diduga lebih tinggi.

Hari Minggu (20/08), di tengah-tengah berkembangnya kemarahan warga atas penembakan remaja itu, Kardinal Tagle mengeluarkan pernyataan yang dibacakan saat misa di semua gereja di ibukota Manila.

"Kita mengetuk kesadaran mereka yang membunuh orang-orang yang tidak berdaya, khususnya mereka yang menutup mukanya, untuk menghentikan terbuangnya jiwa manusia."

"Masalah narkoba gelap seharusnya dibatasi sebagai masalah politik atau kriminal. Hal itu menjadi keprihatinan kemanusiaan yang mempengaruhi kita semua," tambahnya.

Filipina merupakan negara yang memiliki penganut Katolik terbesar di Asia, dengan sekitar 85% lebih dari total 103 juta penduduk Filipina.

Hak atas foto EPA
Image caption Elvira Miranda, ibu dari Leover Miranda yang ditembak mati, mempertanyakan kenapa anaknya harus dibunuh dan bukan dipenjara saja.

Akhir tahun lalu Gereja Katolik Filipina juga menyerukan agar operasi berdarah itu dihentikan namun ditanggapi Presiden Duterte dengan mencerca para pemuka senior Katolik.

Belum ada komentar dari Presiden Duterte atas kritik terbaru gereja ini.

Hari Minggu, sejumlah warga Manila menggelar pemakaman Leover Miranda, yang ditembak mati pada awal Agustus. Mereka yakin korban tidak terlibat dalam perdagangan narkoba.

Saat pemakaman, para anggota keluarganya dan penduka menggenakan kaus bertuliskan 'Bunuh narkoba, jangan orang'.

"Ini bukan cara yang benar," kata ibunya, Elvira Miranda. "Mereka bisa menaruhnya di penjara, jadi kenapa harus membunuhnya? Itu pertanyaan saya kepada presiden."

Kelompok pegiat hak asasi menuduh polisi Filipina merencanakan pembunuhan di luar hukum dan dalam beberapa kasus mengambil keuntungan. Namun polisi menegaskan korban ditembak mati karena melawan petugas -penjelasan yang diragukan sejumlah pihak.

Bulan Januari, Presiden Duterte sempat menghentikan operasi berdarah ini karena ingin 'membersihkan' kepolisian dan menata ulang unit antinarkoba namun dilanjutkan kembali pada Maret.

Berita terkait