Sempat mencoba bunuh diri, pria di Gunung Kidul bangkit dengan dukungan keluarga

Media playback tidak ada di perangkat Anda
Bunuh diri, antara mitos dan kejiwaan

Sugeng Riyanto (23 tahun), seorang pemuda di Gunungkidul, Daerah Istimewa Yogyakarta - salah satu daerah dengan kasus bunuh diri yang tinggi di Indonesia - bercerita tentang perjuangannya bangkit kembali setelah pernah mencoba mengakhiri hidup.

Di daerah tempat tinggalnya, masih ada kepercayaan tentang mitos jika terlihat Pulung Gantung (semacam bola api) maka akan ada orang yang bunuh diri. Berikut kisah Sugeng:

Saya merupakan anak bungsu dari tiga bersaudara dan satu-satunya laki-laki di keluarga kami.

Selama satu tahun saya tidak mendapatkan pekerjaan... pusing juga, karena bagi saya kan harus punya pekerjaan, apalagi ibu saya merupakan seorang petani.

Hak atas foto BBC INDONESIA
Image caption Sugeng saat ini mengaku lebih optimis menjalani pekerjaan dan aktif 'menebarkan' semangat hidup.

Setelah lulus dari Sekolah Menengah Kejuruan (SMK) di Wonosari, sebenarnya saya sempat bekerja di toko alat tulis di Kota Yogyakarta selama satu tahun. Tetapi saya merasa pekerjaan itu tidak sesuai dengan bidang yang saya pelajari selama sekolah.

Selama bekerja di Yogyakarta itu pula, penyakit epilepsi yang saya derita sejak kecil juga sering kambuh. Saya kemudian memutuskan berhenti bekerja dan kembali ke Gunungkidul.

Kala itu saya merasa tidak adanya pekerjaan dan penyakit epilepsi saya yang mulai kambuh lagi membuat saya putus harapan.

Ketika itu merupakan titik nol dalam hidup saya dan saat itu saya tidak membayangkan apapun... kemudian saya mengambil tali...lalu saya memasang tali itu di sebuah kayu yang ada di langit-langit rumah.

Saya menaruh tali di sambungan kayu di langit-langit, jadi ketika badan saya mulai turun, kemudian kayunya patah, di situ saya masih bisa selamat, kalau kayunya tidak patah mungkin sudah meninggal.

Ketika saya sadar, ternyata sudah banyak orang berkerumun di luar kamar saya. Ibu saya yang paling mengkhawatirkan saya.

Saat itu pula saya berpikir, "Kalau saya tidak selamat, orang tua saya mungkin akan menangisi saya, saya mulai sadar gantung diri itu merupakan hal bodoh yang pernah saya lakukan. Saya ini masih memiliki masa depan, saya masih muda, masa depan saya masih panjang".

Saya merasa cukup beruntung bahwa dari semua korban, saya diberikan kesempatan kedua oleh Tuhan dan tidak semua mendapatkan seperti ini.

Hak atas foto BBC INDONESIA
Image caption Sugeng mengaku diberi kesempatan hidup untuk kedua kalinya.

Konsultasi dengan psikiater

Setelah kejadian itu, kakak perempuan saya menyarankan agar saya konsultasi ke psikolog. Kemudian atas inisiatif sendiri saya menemui psikolog di Rumah Sakit Umum Daerah (RSUD) Wonosari.

Hasil pemeriksaan menunjukkan gejala yang saya alami akan membahayakan saya jika tak segera ditangani, kemudian saya menjalani perawatan di RS Grasia.

Di RS Grasia, saya menjalani perawatan sekitar 10 hari, kemudian diharuskan mengkonsumsi obat-obatan secara rutin untuk menstabilkan kondisi kesehatannya, salah satunya untuk menangani penyakit epilepsi yang diderita sejak kecil.

Di sana saya diharuskan mengkonsumsi obat-obatan masing-masing hampir 100 biji dan harus diminum terus.

Tapi saya berpikir kalau obat dikonsumsi terus menerus, bisa ke ginjal. Dari situ saya mulai mengurangi, dan tidak menggunakannya lagi.

Saya berpikir, "Semua kembali pada diri kita masing-masing. Kalau kita ingin sembuh Insya Allah semua diberi jalan. Itu harapan yang saya sampaikan pada diri saya ketika mengalami peristiwa tersebut".

Dari situlah motivasi hidup saya kembali meningkat.

Hak atas foto BBC INDONESIA
Image caption Sugeng bekerja sebagai aparatur desa.

Harapan untuk masa depan

Setelah saya menghentikan ketergantungan terhadap obat-obatan yang diberikan dokter, secara perlahan semangat hidup saya kembali tumbuh.

Saya pikir ga mungkin saya begini terus, saya harus berubah, karena saya tak hanya merepotkan ibu saya tapi juga tetangga, yang hampir semuanya ke rumah saya jika penyakit saya kambuh.

Beberapa bulan setelah kondisi kesehatan saya membaik, saya mulai kembali mencari pekerjaan dan lolos tes sebagai aparatur desa dengan mengalahkan puluhan calon lainnya.

Alhamdulillah dari situ sedikit demi sedikit harapan itu muncul dan saya bisa berubah.

Tentu saja, perubahan terhadap diri saya dapat terjadi karena dukungan orang-orang di sekitar saya, keluarga dan orang di sekitarnya termasuk para tetangga.

Dua kakak perempuan saya beserta keluarga mereka yang tinggal di Yogyakarta secara rutin datang ke Gunungkidul untuk memberikan motivasi.

Jika saya sakit mereka menjenguk dan keluarga juga memberikan nasihat dan motivasi untuk terus bangkit, dengan dukungan mereka itu saya bisa menjalani aktivitas seperti biasa.

'Saya rasa setiap orang pasti memiliki masa lalu yang buruk tetapi berhak mendapatkan masa depan yang baik,' pikir saya.

Setelah bekerja saya memiliki aktivitas rutin setiap harinya, pagi saya bekerja di kantor kepala desa, tugas saya salah satunya mengurusi situs resmi milik desa tersebut. Sepulang bekerja, saya disibukkan mengurus sejumlah kambing pemberian kakak perempuan saya.

Hak atas foto BBC INDONESIA
Image caption Sugeng bersama ibunya mengurus kambing-kambing di kandang di belakang rumahnya.

Mitos Pulung Gantung

Di kalangan masyarakat Gunungkidul, kabupaten tempat saya tinggal, masih ada kepercayaan tentang Pulung Gantung yang dikaitkan dengan kasus bunuh diri.

Namun, saya tidak mempercayai mitos Pulung Gantung tersebut, dan menurut pandangan saya itu merupakan mitos yang dibesarkan oleh masyarakat, karena masalah gantung diri itu berkaitan dengan penyakit atau masalah yang dialami oleh individu.

Sampai saat ini saya belum pernah melihat Pulung Gantung dengan mata saya sendiri. Namun, harapan saya, bagi masyarakat percaya atau tidak terhadap Pulung Gantung itu dapat melihat akar masalah yang sebenarnya dan berupaya untuk berempati kepada mereka.

Mungkin individu itu memiliki masalah, dan menurut saya jika orang itu tidak dibantu, bisa jadi orang itu akan mengakhiri hidupnya dengan gantung diri.

Image caption Sejumlah kalangan di Gunungkidul masih percaya dengan pulung gantung.

Pesan bagi Anda

Sesekali Sugeng bersama organisasi yang peduli dengan masalah kesehatan jiwa dan upaya pencegahan bunuh diri di Gunungkidul, Inti Mata Jiwa (IMAJI) mencoba menularkan semangat hidupnya kepada berbagai kalangan di Gunungkidul.

Aktivitas ini membuat saya bertemu banyak orang, berbagi pengalaman.

Berbeda dengan sebelumnya, saya lebih sering menyendiri di kamar.

Setelah peristiwa percobaan bunuh diri, saya lebih sering berkumpul dengan teman-teman untuk hanya sekedar mengobrol dan saling memberikan motivasi. Mereka bisa datang ke sini ke rumah saya, ataupun saya yang mendatangi mereka.

Dengan begitu, saya merasa tidak sendiri dan saya masih memiliki orang-orang yang peduli dengan saya.

Pesan saya bagi semua orang adalah "Setiap orang yang memiliki masalah hari ini, cerita pada teman, saudara, keluarga, untuk dapatkan solusi dan bantuan. Jangan dipendam sendiri, karena masalah yang dipendam, akan menjadi titik dimana kita akan kehilangan segalanya".

Topik terkait

Berita terkait