Dikaitkan dengan '31 pelaku teror,' pesantren di Bogor tolak dibubarkan

terorisme Hak atas foto Beawiharta/Reuters
Image caption Seorang staf Pesantren Ibnu Mas'ud berjaga di depan pintu masuk pagar pesantren.

Pesantren yang pernah berbulan-bulan diinapi oleh Hatf Saiful Rasul -bocah berusia 13 tahun yang dinyatakan tewas di Suriah sebagai seorang militan kelompok yang menamakan diri Negara Islam atau ISIS- dan sejumlah terpidana terorisme menolak dikaitkan dengan radikalisme.

Di pesantren Ibnu Mas'ud, Bogor, Hatf Saiful Rasul pernah menginap selama tiga bulan. Pesantren itu juga memiliki hubungan dengan Hari Budiman, terpidana kasus pelatihan militer di Aceh pada 2010 yang difasilitasi Dulmatin, salah satu otak Bom Bali tahun 2002.

Lalu terjadi pula pembakaran umbul-umbul merah-putih oleh staf Ibnu Mas'ud.

Maka pada 16 Agustus lalu, sejumlah orang dari beberapa kelompok berunjuk rasa menuntut pesantren di Desa Sukajaya, Kabupaten Bogor, Jawa Barat, itu membubarkan diri paling lambat Minggu (17/09). Alasannya, pesantren itu menghasilkan para pelaku teror.

Namun Ketua Yayasan Al Urwatul Usro, Agus Purwoko, menolak desakan itu dan menyangkal tegas tudingan bahwa pesantrennya adalah sarang teroris.

"Semua tudingan itu tidak benar. Mereka menghubungkan antara teroris dan kami," kata Agus di Jakarta, Kamis (14/09).

Sementara Direktur Amnesty Internasional Indonesia, Usman Hamid, menilai aksi pembakaran umbul-umbul dimanfaatkan kelompok tertentu dengan tujuan menutup Ibnu Mas'ud.

"Pembakaran itu ingin dilihat sebagai sikap pesantren. Itu keliru. Kalau ada persoalan akibat satu orang, itu individual," ujar Usman.

Sebagai tersangka

Polres Bogor sudah menetapkan Mohammad Supriyadi alias Abu Yusuf -staf Ibnu Mas'ud- sebagai tersangka pembakaran umbul-umbul merah putih berdasarkan pasal pengerusakan bendera dengan ancaman penjara maksimal lima tahun.

"Pelaku menganggap umbul-umbul merah putih 17-an sebagai representasi negara, kemudian dijadikan sasaran kebenciannya, jadi dibakar," kata Kapolres Bogor, AKPB Andi Dicky kepada para wartawan pertengahan Agustus lalu.

Sehari sebelum penetapan tersangka itu, ratusan orang berunjuk rasa di depan Ibnu Mas'ud untuk mendesak penutupan pesantren sambil beberapa kali berteriak, "NKRI harga mati."

Saat itu puluhan personel kepolisian dan sejumlah barakuda disiagakan untuk mencegah amuk massa. Sejumlah pejabat desa kemudian beraudiensi dengan perwakilan Ibnu Mas'ud dan membuat kesepakatan menutup pesantren pada 17 September 2017.

Hak atas foto Farhan/Detikcom
Image caption Aparat kepolisian bersiaga di depan Ibnu Mas'ud saat ratusan orang berunjuk rasa menuntut penutupan pesantren itu.

Agus Purwoko mengaku tak mengikuti audiensi dan menandatangani pernyataan apapun terkait desakan itu dan berkeras akan mempertahankan pesantren yang ia bangun bersama tujuh koleganya tahun 2011 lalu.

"Pondok saya kecil, kumpulan orang terbuang, kenapa harus didemo? Kalau ada indikasi teror kan bisa bicara dengan saya. Persoalan yang tidak kami lakukan, dituduhkan kepada kami untuk menghakimi kami harus bubar," kata Agus.

Jejaring ISIS

Fakta hubungan Ibnu Mas'ud dengan Haft Saiful Rasul dan Hari Budiman dibenarkan Agus. Hari, kata dia, merupakan satu dari tujuh pendiri Yayasan Al Urwatul Usro, yang merupakan pemilik Pesantren Ibnu Mas'ud.

Meski demikian, Agus menyebut keterlibatan Haft dan Hari dalam kasus terorisme tak berkaitan dengan Ibnu Mas'ud secara kelembagaan. Ia bahkan mengaku telah mendesak Hari agar keluar dari yayasan karena terlibat teror.

"Hari Budiman pernah berada di sisi kami, karena ada komitmen jika punya masalah, dia ke luar. Setelah keluar lama, mereka bergaul dengan siapa itu bukan urusan kami," kata Agus.

Hak atas foto Tarko Sudiarno/AFP
Image caption Ratusan orang menghadiri pemakaman Dulmatin di Pemalang, Jawa Tengah, Maret 2010.

Merujuk pemberitaan kantor berita Reuters, pesantren itu berhubungan dengan 31 pelaku teror. Selain Haft dan Hari, Ibnu Mas'ud dikaitkan dengan sejumlah nama lain seperti Dulmatin, maupun pelaku teror bom Thamrin, Dian Juni Kurniadi, dan pelaku bom gereja di Samarinda, Gusti Adam.

Beberapa pelaku teror dan pendukung ISIS disebut Reuters menyekolahkan anak mereka di Ibnu Mas'ud sedang sebagian lagi diduga memberi dukungan materi kepada pesantren.

Atas tuduhan itu, Agus menyebut yayasannya memang tidak pernah mencari tahu latar belakang anak yang belajar agama di Ibnu Mas'ud.

"Mereka pasti kabur kalau saya tanya asli mana. Kasihan anaknya. Mereka itu tidak punya biaya untuk sekolah. Kalau ketat dalam penerimaan, kasihan mereka," ujar Agus.

Begitu juga dengan soal bantuan dana, Agus mengakui pesantrennya memang menerima infaq namun tak pernah mencari tahu asal-muasal bantuan.

"Bagi kami itu bukan uang haram karena saya tidak tahu uang itu dari mana. Kalau mereka bermasalah, secara sopan santun saya tidak mungkin bertanya, lagi pula pesantren saya juga butuh uang," ucapnya.

Ibnu Mas'ud memiliki setidaknya 260 santri laki-laki dan perempuan, dengan usia tertua 16 tahun. Agus berkata, pesantrennya didirikan sebagai tempat pendidikan anak-anak terbuang.

"Pesantren didirikan atas dasar kemanusiaan karena banyak anak yang tidak mendapatkan pendidikan agama yang layak. Karena keterbatasan, pengajaran kami mengarah ke tafsir alquran," ujarnya.

Menurut Reuters, Direktur Deradikalisasi Badan Nasional Penanggulangan Terorisme Irfan Idris menegaskan lembaganya tak berhak mengambil tindakan terhadap Ibnu Mas'ud.

Hak atas foto BBC Indonesia
Image caption Agus Purwoko ketika dijumpai di kantor Amnesti Internasional Indonesia, Menteng, Jakarta, Kamis (14/09).

Sementara Kementerian Agama yang membawahi pesantren menyebut bahwa Ibnu Mas'ud tak terdaftar.

Agus Purwoko mengklaim pesantrennya tak kunjung mendapatkan izin karena prosedur pendaftaran yang berbelit.

Lepas dari persoalan terorisme, Amnesti Internasional menyebut pembubaran paksa Ibnu Mas'ud bisa menyebabkan ratusan anak yang terstigma sebagai anak teroris bisa kehilangan hak pendidikan mereka.

Topik terkait

Berita terkait